ESENSINEWS.com– Ketua DPRD Minahasa Utara (Minut) Denny Lolong mengaku sangat kecewa dengan peristiwa terlantarnya jenazah pasien positif COVID-19, warga Desa Wusa Kecamatan Talawaan, Jumat (10/4/2020) kemarin.

Seperti diketahui, jenazah sempat terlantar hampir 2 jam tanpa ada penanganan tim medis Minut.

Denny Lolong merasa aneh jika anggaran penanganan COVID-19 di Minut mencapai Rp12,8 miliar tapi tidak dibelikan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan.

“Sangat kecewa dengan kejadian ini (terlantarnya jenazah), soal kesiapan dan penanganan kasus ini. Sejak awal Bupati (Vonnie Panambunan, red) tidak mau mendengar. Makanya tolong diinfokan terperinci ke DPRD Minut soal penggunaan anggaran Rp12 miliar lebih untuk penanganan wabah COVID-19,” desak Denny Lolong, dikutip BeritaManado.com, Sabtu (11/4/2020).

Denny Lolong mendesak Pemkab Minut untuk menyiapkan kebutuhan APD sampai ke rumah-rumah sakit dan Puskesmas, sesuai surat edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

“Baru satu pasien sudah seperti ini. Apa yang terjadi di Wusa itu akibat dari sikap pandang enteng. Slogan Bupati Minut terkait penanganan COVID-19 hanya omong kosong,” kritik Lolong.

Ketua DPC PDIP Minut itu menilai Bupati Vonnie Panambunan seharusnya sejak awal sudah menyiapkan fasilitas kesehatan dengan maksimal kemudian diikuti pembagian bahan pokok kepada masyarakat.

“Jangan hanya action bagi-bagi uang di jalan, ternyata fasilitas kesehatan tidak siap. Apalagi berdasarkan pantauan anggota DPRD Minut pada pembagian beras dan bantuan lainnya oleh Pemkab Minut, sudah diselip foto Bupati Minut. Dalam pembagian juga melibatkan tim sukses bupati. Ini ada apa? Kan itu APBD, uang rakyat Minut. Kami menilai Bupati Minut tidak serius menangani masalah COVID-19,” tegas Lolong.

Sementara itu, Ketua DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Minahasa Utara Ineke Ratulolos SPd MKes membenarkan bahwa pada pemakaman jenazah pasien COVID-19 di Desa Wusa ditangani penuh oleh Satgas Pemprov Sulut.

“Saya hanya bisa memberikan semangat kepada teman-teman perawat di rumah sakit dan Puskesmas. Mereka sudah manangis karena takut. Mudah-mudahan dari Rp12,8 miliar yang digeser, bisa ada APD untuk perawat minimal di ruang ICU (Intensive Care Unit) dan IGD (Instalasi Gawat Darurat),” ujar Ratulolos.

Kepala Dinas Kesehatan Minut dr Harley Sompotan juga mengakui pihaknya kelabakan menangani kasus perdana ini.

Menurut Sompotan, ada mis komunikasi antara pihak Dinkes Minut dan RSUP Prof Kandou.

“Pembicaraan dengan RSUP Kandou mereka siap dengan sopir dan 2 orang lengkap APD untuk turunkan jenazah, aparat desa tinggal menimbun dengan alat kerja. Ternyata hanya sopir yang antar, terpaksa kami kelabakan cari bantuan di provinsi dan Puskesmas Talawaan karena bertepatan Jumat Agung. Jadi cuma terlambat penguburan. Maklum hal baru dan menjadi pengalaman dari gugus tugas,” kata Sompotan.

Sementara Juru Bicara Satgas COVID-19 Sulawesi Utara dr Steaven Dandel menyebutkan jika sejak pagi hari pihak RSUP Prof Kandouw dan Satgas COVID-19 sudah menghubungi Dinas Kesehatan Kabupaten Minut untuk mengurusi penguburan jenazah pasien COVID-19 tersebut.

“Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota merupakan penanggung jawab pasien yang berasal dari daerah mereka,” ujar Dandel.

0Shares