Esensinews.com – Sejumlah hal menarik diungkap dalam diskusi “Debat-Tak Debat: Utang Besar Untuk Siapa?” di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (3/7/2018) yang menghadirkan Rizal Ramli sebagai pembicara.

Moderator Effendi Ghazali sempat mengangkat terkait pemberhentian ekonom senior Rizal Ramli dari jabatan Menko Maritim dan Sumber Daya oleh Presiden Joko Widodo pada reshuffle 27 Juli 2016. Ternyata sampi kini hal ini masih jadi misteri bagi banyak orang.

Pertanyaan tentang alasan Jokowi memecat Rizal kembali muncul, kali ini dari pakar komunikasi politik Universitas Indonesia, Effendi Gazali.

Effendi menjadi moderator dalam
Mendapat pertanyaan dari Effendi, Rizal mengawali dengan mengungkap pandangannya soal slogan Revolusi Mental yang digaungkan pemerintahan Jokowi.

“Revolusi mental itu tidak mungkin hanya berupa ceramah-ceramah. Namun, harus dikasih shock therapy, khusus kepada orang yang brengsek-brengsek,” tutur Rizal.

Kata Rizal, Presiden Jokowi pernah bertanya ke dirinya soal alasannya “mengepret” orang-orang yang “brengsek”.

“Mas Rizal, kenapa mesti dikepret?” kata Rizal meniru Jokowi.

“Mas, kalau kita mau panen di Indonesia, tikus banyak sekali. Kita bisa bikin gaduh supaya tikusnya kabur, panennya bisa buat rakyat. Nah, di Indonesia, proyek atau apapun itu, tikusnya gede-gede, bukan tikus sawah. Tikusnya gede dan berkuasa. Jadi mesti dikepret,” tandas capres yang sudah keliling nusantara ini.

Rizal juga menyinggung soal penolakannya terhadap Reklamasi Teluk Jakarta yang dianggap sebagian kalangan sebagai pemicu pemecatannya.

Dia pun mengungkapkan bahwa dirinya sempat menjadi korban permainan isu politik di media massa. Namun, tidak banyak orang yang menyadari bahwa pekerjaannya membuahkan revaluasi aset yang meningkatkan nilai aset BUMN sebesar Rp 800 triliun, menghasilkan penerimaan pajak Rp 30 triliun, dan beberapa perubahan lain.

Meski begitu, Rizal tidak menyesal diberhentikan Jokowi dari kabinet.

Bahkan ia berterimakasih karena ia menjadi lebih memiliki banyak waktu luang untuk mengkampanyekan dirinya sebagai kandidat calon presiden.

“Saya berterima-kasih betul dipecat sebagai menteri oleh Pak Jokowi. Jadi, kami punya waktu keliling Indonesia, mempersiapkan diri untuk menggantikan Beliau (Jokowi),” jelasnya.

Aksi teror dilakukan orang tak dikenal terhadap tim sukses Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyarankan agar kabar mengenai teror terhadap lawanya itu segera dilaporkan ke kepolisian.

“`Ya mbok` segera dilaporkan saja ke polisi, segera dilaporkan,” kata Ganjar, seusai acara Halalbihalal Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama), di Wisma Kagama, Yogyakarta, Minggu (01/7/2018) malam.

Politisi PDI-P ini belum mendapatkan informasi jelas ihwal peristiwa penodongan tim sukses (timses) Sudirman Said. Namun demikian, ia berharap agar informasi itu dapat diperjelas dan segera dilaporkan oleh pihak Sudirman ke kepolisian.

“Kalau kamu ditodongnya hari ini kamu lapornya minggu depan, bulan depan atau sekarang?. Kaya gitu aja,” ujar Ganjar.

Sebelumnya, Sudirman mengaku tim suksesnya mendapat todongan senjata api oleh sejumlah orang tak dikenal ketika membawa uang konsumsi untuk saksi pilkada pada Kamis (21/6/2018). Meski tidak secara detail menyebutkan lokasinya, Sudirman menyebut kejadiannya di jalan tol.

Sementara, usai Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 27 Juni 2018, Ganjar mengemukakan hal yang ingin dilakukan adalah segera bertemu dengan Sudirman Said untuk bersilaturahmi. “Ingin bertemu pak Dirman (Sudirman Said) saja,” kata dia.

Ganjar mengaku hingga saat ini belum mendapatkan ucapan selamat dari Sudirman Said. Ucapan selamat justru sudah diterimanya dari Presiden Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, sejumlah menteri, serta teman-teman dekatnya dari berbagai partai politik.

“(Sudirman Said) belum, pak Anies (Anies Baswedan) yang sudah. Kemarin bertemu Bu Mega, Pak Presiden, beberapa menteri, tentu teman-teman dari partai apa saja yang dekat dengan saya tapi informal yang tidak pajabat teras,” kata Ganjar lagi.

Berdasarkan hasil hitung cepat atau “quick count” perolehan suara Pilkada Jawa Tengah 2018 yang dilakukan sejumlah pihak, pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin unggul atas pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Hasil “quick count” yang digelar internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pasangan Ganjar-Yasin unggul dengan suara 59,22 persen atas pasangan Sudirman-Ida yang memperoleh suara 40,8 persen.

“Quick count” yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, pasangan Ganjar-Yasin unggul dengan perolehan suara sebesar 58,79 persen atas pasangan Sudirman-Ida dengan perolehan suara 41,21 persen.

Pilkada Jateng 2018 diikuti Pasangan Calon Gubernur Ganjar Pranowo-Taj Yasin dengan nomor urut 1 yang diusung PDIP, PPP, Partai NasDem, Partai Demokrat, dan Partai Golkar, sedangkan Sudirman Said-Ida Fauziyah yang bernomor urut 2 diusung Partai Gerindra, PAN, PKS, dan PKB.

Esensinews.com – Kekalahan-kekalahan dua partai besar, PDIP dan Partai Gerindra yang tak mampu memenangkan kadernya di kontestasi pemilihan kepala daerah pada Rabu 27 Juni 2018 lalu kian menjadi sorotan.
Sabab, PDIP hanya mampu memenangkan tiga kadernya di ajang Pilkada, sementara tak satupun kader Partai Gerindra yang terpilih menjadi kepala daerah.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin mengatakan, fenomena itu menandakan kalau rakyat kebanyakan ingin sosok calon pemimpin alternatif selain petahana, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto sebagai calon presiden dalam Pilpres tahun 2019 nanti.

Pasalnya, nama besar kedua tokoh itu dinilai tak mampu mendongkrak tingkat elektabilitas calon kepala daerah dari partainya masing-masing. Masyarakat katanya sudah jenuh dengan keadaan ekonomi bangsa yang kian susah dan menginginkan sosok alternatif yang kompeten untuk memperbaiki keadaan itu.

“Masyarakat sudah jenuh. Hidup rakyat makin hari makin susah. Pilkada terlaksana namun kemiskinan masih merajalela. Masyarakat butuh figur baru yang mampu membawa solusi bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (30/6).

Pengajar dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) ini megaku yakin bahwa dari 260 juta penduduk Indonesia, tentu ada tokoh yang mampu memberikan langkah-langkah solutif bagi semua permasalahan bangsa. Tidak seperti selama ini yang hanya terpusat pada Jokowi dan Prabowo.

“Harusnya dari jumlah penduduk yang banyak tersebut stok kepemimpinam nasional harusnya banyak. Harusnya banyak tokoh yang muncul. Di kita ini sedang krisis kepemimpinan. Oleh karena itu, (Indonesia) butuh figur baru yang solutif selain Jokowi dan Prabowo,” tekan Ujang.

Sementara menyinggung acara Halal Bihalal di Universitas Bung Karno (UBK), dimana saat itu, Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto dua kali menyebut ekonom senior Rizal Ramli sebagai calon presiden RI, Ujang menilai bahwa aksi itu merupakan upaya Prabowo untuk memperkenalkan seorang capres alternatif ke publik.

“Ya itu tadi, salah satunya untuk memperkenalkan kepemimpinan alternatif. Kepemimpinan yang baru,” pungkas Ujang.

Rizal Ramli diketahui sudah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden dalam Pilpres 2019. Sementara Prabowo sendiri sejauh ini telah didorong kader Partai Gerindra untuk ‘nyapres’ pada pesta rakyat lima tahunan yang digelar tahun depan itu.

Sumber : RMOL

Esensinews.com – Suara pemilih gubernur (pilgub) yang masuk dalam hitung cepat KPU sudah masuk 95.38%. Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak berhasil meraih suara tinggi di 28 dari 38 Kabupaten/Kota di Jatim.

Ini data keunggulan Khofifah-Emil di 28 kabupaten/kota yang dihimpun dari laman Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU Pukul 12.00, (Jumat (29/6/2018): 

  1. Kabupaten Bangkalan dari data yang masuk 70,41%. Khofifah unggul 50,99% dengan suara 190.104, Gus Ipul memperoleh 49,01% dengan suara 182.747.
  2. Kabupaten Banyuwangi dari data yang masuk 98,76%. Khofifah unggul dengan presentasi 50,93% dengan perolehan suara 405.363, Gus Ipul memperoleh 49,07% dengan suara 390.439.
  3. Kabupaten Bojonegoro dari data yang sudah masuk 100%. Khofifah unggul 53,16% dengan perolehan suara 375.388, sedangkan Gus Ipul mendapat 46,84% dan perolehan suaranya 330.781.
  4. Kabupaten Bondowoso dari data yang masuk sebanyak 86%. Khofifah unggul dengan perolehan suara 54,20% yakni 255.363 suara. Sedangkan Gus Ipul 45,80% dan mendapat suara 173.558.
  5. Kabupaten Gresik dari data yang masuk sebanyak 100%. Khofifah unggul dengan presentase 57,86% dan mendapat suara 345.943. Sedangkan Gus Ipul di bawahnya, yakni 42,14% dan perolehan suaranya 251.978.
  6. Kabupaten Jember dari suara yang masuk yakni 100%. Khofifah unggul dengan 57,94% danperolehan suaranya 555.551. Sedangkan Gus Ipul mendapat suara 42,06% dengan perolehan suaranya 403.351.
  7. Kabupaten Jombang dari data yang masuk sebanyak 95,76%. Khofifah unggul 50,58% dengan perolehan suara 313.386. Sedangkan Gus Ipul 49,42% dengan suara 306.259.
  8. Kota Kediri dari data yang masuk 100%. Khofifah unggul mendapatkan suara 50,51% dengan 75.522 suara. Sementara Gus Ipul mendapat 49,49% dan perolehan suaranya 73.998.
  9. Kota Malang dengan data yang masuk 99,36%. Khofifah mendapat presentase suara 52,403% dan perolehan suaranya 197.782. Sementara Gus Ipul 47,57% dengan perolehan suara 179.414.
  10. Kota Mojokerto dengan data yang masuk 100%. Khofifah unggul dan presentasenya 55,34% dengan perolehan suara 40.414, sedangkan Gus Ipul presentasenya 44,66% dengan perolehan suara 32.609.
  11. Kota Probolinggo dengan data yang masuk sebanyak 100%. Khofifah lebih unggul dengan presentasi 55,73% dan perolehan suaranya 69.393 sedangkan Gus Ipul 44,27% dengan perolehan suara 55.124.
  12. Kota Surabaya dengan data masuk 99,98%. Khofifah unggul dalam presentase 50,81% dan perolehan suara 578.220. Sementara Gus Ipul presentasenya 49,19% dan perolehan suaranya 559.881.
  13. Kabupaten Lamongan dengan data masuk 100%. Khofifah unggul dengan presentase 55,19% dengan perolehan suara 346.259. Sedangkan Gus Ipul 44,81% dengan perolehan suara 281.180.
  14. Kabupaten Lumajang dengan data masuk sebanyak 86,43%. Khofifah unggul dengan persentasenya 53,15% dengan perolehan suara 266.404. Untuk Gus Ipul, presentasenya 46,80% dengan perolehan suara 234.854.
  15. Kabupaten Magetan dengan 100% suara yang masuk. Khofifah unggul tipis dan presentasinya 50,07%, sedangkan perolehan suaranya 189.416. Untuk pasangan Gus Ipul mendapat perolehan 49,93% total suaranya 188.864.
  16. Kabupaten Mojokerto dari 100% data yang masuk. Khofifah unggul dengan presentasenya 58,35% dengan perolehan suara 321.423. Sedangkan Gus Ipul 229.420 suara 41.65%.
  17. Kabupaten Nganjuk 100% data yang masuk. Khofifah unggul 58,36% dengan 327.353 suara. Sedangkan Gus Ipul 41.64% dengan 233.587 suara
  18. Kabupaten Ngawi Perolehan suara sudah 100%, Khofifah Unggul 52.30% dengan 242.639 suara dan Gus Ipul perolehan suaranya 47.70% dengan 221.294 suara.
  19. Kabupaten Pacitan suara masuk 100%, Khofifah menang 74.38% yakni 230.168 suara. dan Gus Ipul 25.62% yaitu 79.280 suara
  20. Kabupaten Pamekasan dari data yang masuk 99.31%. Khofifah unggul 70.76% dengan 335.803 suara. Sedangkan Gus Ipul 29.24% dengan perolehan suara 138.748 suara.
  21. Kabupaten Ponorogo dari suara yang masuk 100%. Khofifah unggul 59,04% dengan perolehaan suara 287.598 suara, Gus Ipul 40,96% dengan 199.527 suara.
  22. Kabupaten Probolinggo dari suara yang masuk 100%, Khofifah unggul 56,07% dengab 332.067 suara, sedangkan Gus Ipul 43,93% dengan perolehan suara 260.147.
  23. Kabupaten Sampang dari data yang masuk ada 74,76%. Khofifah unggul dengan 52.53% dan meraup 252.555 suara, sedangkan Gus Ipul 47.47% dengan 228.197 suara.
  24. Kabupaten Sidoarjo dari data yang masuk 100%, Khofifah meraih 55.89% Sebanyak 477.679 suara, sedangkan Gus Ipul 44.11% yakni 377.045 suara.
  25. Kabupaten Sumenep dari data yang masuk 76.33%. Khofifah unggul dengan perolehan suara 51.42% dengan banyak 198.150 suara. Sementara Gus Ipul 48.58% dengan 187.234 suara.
  26. Kabupaten Trenggalek dari suara masuk 100%. Khofifah unggul 68.88% dengan perolehan 266.031 suara. Sementara Gus Ipul 31.12% dan mendapat suara 120.180 suara.
  27. Kabupaten Tuban dari data masuk 100%, Khofifah mendapat 55.05% dengan suara 289.650 suara, sementara Gus Ipul 44.95% menjadi 236.496 suara.
  28. Kabupaten Tulungagung dari data masuk 100%, Khofifah unggul 51.15% dengan perolehan suara 303.523 suara. Sementara Gus Ipul mendapat 48.85% dengan perolehan suara 289.897 suara.


Sedangkan Gus Ipul-Puti hanya unggul di 10 Kota/Kabupaten :

  1. Kabupaten Blitar dari data yang masuk sebanyak 100%. Gus Ipul unggul dengan perolehan suara 52,37% yakni sebanyak 317.435 suara. Sedangkan Khofifah seorangnya 47,603% dan mendapat suara 288.648.
  2. Kabupaten Kediri dengan data masuk 100%. Gus Ipul unggul dibanding Khofifah mendapatkan 51,18% dengan suara 407.706. Semen Khofifah mendapat presentasi 48,82% dengan perolehan suara 388.842 suara.
  3. Kota Batu dari 100% suara yang telah masuk. Gus Ipul unggul dengan 50,77% dan 54.928 suara. Sementara Khofifah mendapatkan 49,23% dan perolehan suaranya 53.269.
  4. Kota Blitar dari data 100%. Gus Ipul unggul 60,13% dengan suara 46.790, sedangkan Khofifah mendapatkan 39,87% dengan perolehan suara 31.023.
  5. Kota Madiun perolehan suara yang sudah masuk 100%. Gus Ipul mendapat persentase 51,26% yakni 52.916 sedangkan Khofifah 48,74% dengan perolehan suara 50.314.
  6. Kota Pasuruan dari 100% data yang masuk. Gus Ipul unggul dengan presentasi 50,12% dan perolehan suaranya 45.842. Sementara Khofifah perolehan suaranya 49,88% dan suaranya 45.617.
  7. Kabupaten Madiun dengan hasil data yang masuk sebanyak 99,80%. Gus Ipul unggul dan presentasi 51,36% dan perolehan suaranya 207.223. Sedangkan Khofifah presentasinya 48,64% dan perolehan suaranya 196.223.
  8. Kabupaten Malang dari data 100% yang masuk. Gus Ipul unggul dengan presentase 51,24% dan suaranya 631.287. Sementara Khofifah mencapai 48,76% dan perolehan suaranya 600.632.
  9. Kabupaten Situbondo dari data masuk sebanyak 100%. Gus Ipul unggul 55.46% mendapat 138.174 suara, sementara Khofifah meraih 44.54% dan perolehan suaranya sebanyak 172.048 suara.
  10. Kabupaten Pasuruan dengan data masuk 76.34%, Gus Ipul unggul dengan suara 52.90% sebanyak 291.277 suara. Dan Khofifah 47,10% yaitu 259.301 suara

Sumber : KPU Jatim

 

Esensinews.com – Ada hal yang menarik pada pilkada serentak kali ini. Dimana kotak kosong menang di pilwako Kota Makassar.

Yang mana, Pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu) yang mendapat dukungan dari 10 partai besar justru kalah.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Ferry Juliantono menyebut kemenangan kotak kosong dalam Pilkada serentak 2019 adalah peringatan kepada penguasa.

“Kotak kosong ini gambaran tentang perlawanan rakyat. Karena yang dilawan ialah calon yang punya kedekatan dengan pak Jusuf Kalla, bahkan menantunya pak Aksa Mahmud,” ujar Ferry dalam diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu (30/6/2018).

Wakil Ketua Gerindra ini mengatakan, kemenangan kotak kosong tersebut adalah sebuah hukuman dari masyarakat Kota Makassar atas upaya yang diduga dilakukan pasangan Appi-Cicu menjegal pasangan Mohammad Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari Paramusti (Diami) sehingga gagal berlaga di pilkada.

“Warga kota Makassar tahu dan menghukum cara-cara yang dianggap tidak tepat,” tandas dia.

Ditempat yang sama, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman agak kaget dengan kemenangan kotak kosong di Pilkada Kota Makasar tersebut.

Menurit dia, pelaksanaan Pilkada dengan satu pasangan calon trennya terus meningkat. Ternyata kata Arief, kotak kosong bisa menang lawan pasangan calon.

“Ini menjadi pelajaran bagi semua pihak,” tutur dia.

Sebelumnya, pasangan Appi-Cicu menjadi calon tunggal Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar. Dalam surat suara, gambar Appi-Cicu melawan kotak kosong.

Kotak kosong unggul perolehan suara dalam pemungutan suara yang berlangsung, Rabu (27/6/2018).

Dalam perhitungan cepat (quick count) beberapa lembaga survei dan real count yang dilakukan Wali Kota Makassar, calon tunggal ini tak mampu menyaingi kotak kosong.

Seperti diketahui, Munafri Arifuddin merupakan CEO PSM Makassar dan sekaligus menantu mantan Wakil Ketua MPR RI, Aksa Mahmud. Adapun Aksa Mahmud adalah ipar dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.

 

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto diminta tidak gegabah dengan rencananya maju sebagai calon presiden 2019. Berkaca dari banyak kekalahan Gerindra di daerah-daerah lumbung suara pada Pilkada Serentak 2018, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Apalagi di Jabar merupakan basis dan kantong Gerindra

Pengamat politik Indonesia Public Institute (IPI) Jerry Massie mengatakan, dengan sejumlah kekalahan di Pulau Jawa, Gerindra harus memikirkan mengusung sosok alternatif sebagai capres.

“Hasil ini menjadi acuan untuk ke pilpres. Bagi saya harus ada capres alternatif,” katanya kepada wartawan, Kamis (28/6).

Jerry menyebut sejumlah nama layak dipertimbangkan Gerindra untuk diusung sebagai pengganti Prabowo. Seperti ekonom senior Indonesi DR Rizal Ramli, politisi Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, hingga Ketum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo.

Dia menambahkan, sejumlah kekalahan di pilkada berdampak pada sulitnya Gerindra memenangi Pilpres 2019 bila tetap menjagokan Prabowo. “Karena kalau tidak ada calon alternatif maka akan sulit bagi Gerindra menang,” tegas Jerry.

Jika Gerindra menang Pilpres maka nama Rizal Ramli akan menjadi kuncinya.

“Saya menilai Rizal Ramli adalah good choice Gerindra. Beliau lagi naik daun dan meroket di seluruh pelosok tanah air. Barangkali RR adalah yang sudah berkeliling Indonesia dari Maluku sampai Aceh,” kata peneliti politik Amerika ini.
 

Oleh : Putera Alam

Di grup WA relawan- relawan Jokowi dan Marhaenis, para relawan sudah panik. Megawati dan PDIP mulai dihujat karena jumawa, tidak membasis, dan sebagainya.

Bahkan Eko Sulistyo (Deputi KSP) pun mulai dibully waktu ngeshare sebuah berita optimis opininya (https://m.detik.com/news/berita/d-4086982/ksp-hasil-sementara-pilkada-buat-peta-jokowi-di-2019-makin-jelas). Biasanya Mas Eko ini bagaikan dewa, setiap opininya selalu benar di mata relawan. Intinya para relawan tidak yakin dgn kekuatan poros Jokowi di Pilpres 2019.

Sementara grup-grup WA oposisi, yang banyak kader Gerindra, juga lebih banyak terdiam atas hasil pilkada kemarin. Mungkin karena melihat partainya di posisi buncit dalam kemenangan pilkada serentak, dan yang terpenting: gagal total di 3 provinsi besar di Jawa.

Melihat kondisi politik yang berkembang, Akankah Prabowo mengurunkan niatnya nyapres di 2019?

Apakah dari dua situasi di atas, ketidak yakinan kubu Jokowi dan keraguan kubu Prabowo, artinya masyarakat berharap calon alternatif? Saya sih berharap demikian.

Kemudian satu fakta yg menarik dari pilwako Makassar, 1 dari 16 pilkada yang hanya diikuti calon tunggal vs kotak kosong, ternyata hasilnya menangkan kotak kosong. Akibatnya dua tahun lagi, menurut Depdagri, pilkada di Makassar harus diulang.

Padahal kita tahu Makassar adalah basis kekuatan Jusuf Kalla. Dan calon tunggal tersebut pun masih keluarga JK. Apakah ini berarti akhir dari kejayaan dinasti politik JK di daerah asalnya?

Fenomena calon tunggal vs kotak kosong adl akibat dr diberlakukan persyaratan dukungan parpol ambang batas 20% parlemen di Pilkada. Untuk daerah-daerah yang kuat oligarkis pemodal-politisi nya (seperti di Makassar dan 15 daerah lain), maka fenomena ini menjadi terwujud. Bukan tidak mungkin bila pilpres 2019 terwujud calon tunggal, akan menjadi seperti di Makassar, dapat kalah dari kotak kosong dan kemudian diulang.

Semoga hakim-hakim MK terbuka mata dan hatinya, dan akan meloloskan gugatan penghapusan ambang batas pilpres. Demi memunculkan calon alternatif yg diharapkan masyarakat.

Karena apabila masyarakat sudah rindu dengan alternatif, tapi saluran demokrasi tetap dipersulit, sehingga muncul calon yang itu-itu?saja dan bahkan calon tunggal, bukan tidak mungkin nanti masyarakat akan menjawab dengan : amok.

Esensinews.com – Partai Golongan Karya (Golkar) sukses pada Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk Friedrich Paulus menyatakan pasangan calon yang diusung partainya menang di 91 titik dari 171 daerah yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah atau Pilkada Serentak 2018.

Dengan demikin partai berlambang beringin ini secara keseluruhan meraih perolehan suara lebih setengah yang diikutinya.

“Secara nasional bisa saya sampaikan bahwa dari 171 titik, kami memenangkan 91 titik atau ekuivalen dengan 53,22 persen,” kata Lodewijk saat memberikan keterangan pers di kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Jumat (29/6/2018).

Lanjut kata dia, hasil tersebut berasal dari hasil quick count atau hitung cepat, real count, dan informasi dari dewan pimpinan daerah di tiap daerah.

“Ini hasil sementara, masih bisa berkembang karena batas margin of error-nya 2 persen sampai 3 persen. Kemudian juga ada tujuh titik yang belum kami dapatkan informasi terutama Papua dan ada yang belum Pilkada,” jelas Lodewijk.

Jika mengacu pada hasil sementara urainya, bahwa dapat disimpulkan mesin politik Partai Golkar dapat bergerak secara efektif jelang Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

“Kami sudah dapat memetakan mana daerah-daerah yang mesin partainya sudah bekerja dengan maksimal dan terus akan dipertahankan dan ditingkatkan,” ujarnya.

Disamping itu, Ia pun memaparkan 10 daerah di mana Partai Golkar meraih kemenangan yang cukup signifikan, yaitu:

1. Sumatera Utara, pasangan calon yang diusung Partai Golkar menang di 7 daerah dari 9 pilkada.

2. Sulawesi Selatan, Partai Golkar menang di 10 daerah dari 13 pilkada.

3. Banten, Partai Golkar menang di 3 daerah dari 4 pilkada.

4. Kalimantan Selatan, Partai Golkar menang di 3 daerah dari 4 pilkada.

5. Kalimantan Barat, Partai Golkar menang di 4 daerah dari 6 pilkada.

6. Nusa Tenggara Timur, Partai Golkar menang di 7 daerah dari 11 pilkada.

7. Papua, Partai Golkar menang di 5 daerah dari 8 pilkada.

8. Kalimantan Tengah, Partai Golkar menang di 7 daerah dari 11 pilkada.

9. Sumatera Barat, Partai Golkar menang di 2 daerah dari 4 pilkada.

10. Jawa Timur, Partai Golkar menang di 9 daerah dari 19 pilkada.

 

Editor : Bj

Esensinews.com – Hitung cepat (quick count)
hasil Pilkada Serentak 2018 telah usai. Sejumlah pasangan calon kepala daerah dinyatakan menang sementara dalam pesta demokrasi yang berlangsung serentak di 117 daerah, Rabu 27 Juni lalu.
Di Jawa Barat, pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Ridwan Kamil-Uu Ruhzanul Ulum yang diusung Partai Nasdem, Hanura, PKB, dan PPP unggul dari 3 penantangnya.
Di Jawa Tengah, paslon Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang diusung PDIP, Nasdem, PPP, dan Demokrat berhasil mengalahkan paslon Sudirman Said-Ida Fauziyah yang diusung Gerindra, PAN, PKS, dan PKB.
Sementara di Jawa Timur, paslon Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno yang diusung PDIP, PKB, Gerindra, dan PKS harus mengakui kemenangan rival mereka, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak yang diusung Partai Demokrat dan Golkar.
Di Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat yang ditugaskan PDIP dan PPP untuk merebut suara rakyat di daerah itu, terpaksa harus mengakui kemenangan lawannya, Edy Rahmayadi yang diusung Partai Golkar, Gerindra, PKS, PAN, Nasdem, dan Hanura.
Meski kalah di Sumut, tapi PDIP masih bisa berbangga hati karena paslon yang mereka usung di Sulawesi Selatan yakni Nurdin Abdullah-Sudirman Sulaiman berhasil mengalahkan 3 lawan mereka.
Kemenangan dan kekalahan para paslon dalam Pilkada s
Serentak 2018 banyak di luar prediksi. Ridwan Kamil contohnya.
Kemenangan Ridwan Kamil di Pilkada Jabar membuat banyak pihak terhenyak. Tak terkecuali ketua umum partai pengusungnya, Surya Paloh. Pasalnya, sebelum hari pencoblosan, Ridwan Kamil harus pontang panting meyakinkan sejumlah partai agar tetap mengusungnya di Pilkada.
Belum lagi serangan kampanye hitam yang menyebutkan dia anti-212 dan tak peduli Islam.
Tapi, penentu kemenangan para calon gubernur itu adalah suara pemilih di TPS, bukan partai pengusung.
Setidaknya ini tergambar dari kemenangan Khofifah di Jatim dan kekalahan Djarot di Sumut.
Menyambut kemenangan versi hitung cepat ini, Ridwan Kamil tak mau ada euforia. Dia hanya menyampaikan salam kepada para rivalnya.
“Salam hormat untuk para kandidat di Pilgub Jawa Barat, Pak Deddy Mizwar, Kang Dedi Mulyadi, Kang Anton Charlian dan Kang TB Hasanudin,” tulis Ridwan Kamil di akun Facebook-nya, Kamis (28/6/2018).
Tak lupa, ia mengucapkan terima kasih kepada para rivalnya karena telah mampu menghadirkan Pilkada Jabar 2018 tanpa huru-hara.
“Terima kasih telah menghadirkan Pilkada yang aman, damai, dan berkualitas di Jawa Barat. Memberikan masyarakat Jawa Barat sebuh contoh bagaimana pun panas pertandingan, ketika selesai kembali menjadi saudara. Semoga tidak pernah lelah berjuang untuk Jawa Barat.
#PilgubJabar2018 #RINDUJabarJuara1 #MemilihRINDU,” tulis Ridwan Kamil lagi.
Melihat hasil Pilkada serentak 2018, Direktur Lembaga Survey dan Polling Indonesia (SPIN) Igor Nainggola menyebut, penentu menang kalahnya cagub dan cawagub adalah logistik, kinerja mesin partai politik, agresivitas relawan, isu-isu yang dimainkan, dan figur atau ketokohan calon maupun yang mencalonkan pasangan kepala daerah itu.
“Contohnya dari hasil sementara quick count berbagai lembaga survei hari ini telak mengunggulkan paslon yang didukung oleh Prabowo Subianto, yaitu pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah di Sumatra Utara, Isran Noor-Hadi Mulyadi di Kalimantan Timur, dan Murad Ismail-Barnabas Orno di Maluku Utara,” ujar Igor Kamis (28/6/2018).
Dia menyebut, figur Prabowo Subianto masih merupakan magnet elektoral bagi keunggulan masing-masing pasangan calon di Pilkada 2018. Fenomena ini sekaligus sebagai prakondisi menguatnya Prabowo untuk kembali menjadi capres potensial 2019 menghadapi incumbent Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
Faktor figur ini jugalah, kata Igor, yang menjadi penentu kemenangan Ridwan Kamil di Pilkada Jabar. Sekalipun mesin partai lawan bergerak, seperti yang ditunjukkan PKS dan Gerindra yang mampu mengantarkan pasangan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu sebagai runner up, namun ketokohan dan figur Ridwan Kamil mampu menghentikan langkah mereka.
Faktor popularitas, kinerja, dan figur sebagai penentu kemenangan di Pilkada serentak 2018 juga diungkapkan Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universiras Padjadjaran, Bandung, Muradi. Dia mengatakan, ide-ide kreatif Ridwan Kamil mampu menjadi magnet bagi pemilih di Jawa Barat.
“Saya kira yang lebih serius, lebih bisa mendekatkan pemilih. Misalnya merasa dipimpin oleh Emil karena dia kreatif punya visi dan sebagainya. Dianggap ingin juga merasakan dibangun seperti di Bandung,” kata Muradi, Rabu, 27 Juni 2018.
Faktor lainnya adalah usia. Usia Ridwan Kamil dan Uu yang lebih muda dibanding tiga pesaingnya, yang kemudian dikemas dengan gagasan dan ide kreatif, sukses menarik suara generasi milenial di Jabar. Ridwan Kamil juga berhasil mengumpulkan banyak dukungan berkat media sosial yang dijadikan sebagai ajang berkampanye. Lewat dunia maya, Ridwan Kamildinilai mampu menggapai para pemilih muda dengah visi-visinya yang bisa lebih diterima para kaum milenal.
Faktor penentu yang tak kalah penting yakni mengikuti pilihan rakyat dan anti politik uang. Strategi ini diterapkan oleh Partai Nasdem dalam menentukan calon yang akan diusung di Pilkada. Dan terbukti, meski bukan partai lama, sebagian besar calon yang diusung Nasdem berhasil memenangkan Pilkada.
Bahkan partai besutan Surya Paloh ini, mampu menjadikan 3 kadernya sebagai gubernur dan 1 kadernya sebagai wakil gubernur (wagub).
“Banyak faktor, tapi menurut kami yang paling disukai rakyat adalah apa, secara konsisten kami juga menerapkan politik tanpa mahar untuk Pilkada, jadi rakyat tahu nih. Memang politik Indonesia itu harus bersih dari money politics, sehingga masyarakat memberikan endorsment persetujuan bahwa politik tanpa mahar itu betul, dan Nasdem konsisten dalam hal ini,” ujar Sekjen Nasdem Johnny Plate seperti dikutip Liputan6.com, Kamis (28/6/2018).
Berlawanan dengan Nasdem yang bersuka cita meraih banyak kemenangan, PDIP harus menerima kenyataan pahit.
Dari 17 Pilkada tingkat provinsi atau pemilihan gubernur, partai penguasa ini hanya menang di 6 daerah yakni Bali, Jawa Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi Selatan.
Sisanya di 10 daerah, Partai besutan Megawati Soekarnoputri harus menelan kekalahan.
Sepuluh daerah itu yakni Sumatera Utara, NTT, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Lampung, NTB, Sumatera Selatan, dan Riau.
Terkait kekalahan ini, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menuturkan, Pilgub kali ini adalah kemenangan dan kisah sukses dari komitmen kaderisasi Partai.
“Dalam konteks itu, kami berhasil melawan pragmatisme mengambil sembarang tokoh yang tidak jelas asal usul ideologi dan komitmennya, dan PDI Perjuangan kukuh mengajukan kader untuk maju Pilkada,” ucap Hasto di kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis (28/6/2018).
Kalau untuk sekedar mengejar kemenangan, Hasto menegaskan, PDIP tentu akan mengusung figur yang elektabilitasnya paling tinggi, tanpa harus melihat apakah itu kader atau bukan, dan tutup mata dengan komitmen ideologinya.
“Tetapi, sebagai partai ideologis, PDI Perjuangan sangat memperhatikan bagaimana aspek kepemimpinan ke depannya setelah terpilih menjadi kepala daerah,” jelas Hasto.
Dari data yang dipaparkan, ada 4 kader PDIP yang berhasil meraih kursi gubernur dan 3 kader yang meraih kursi wakil gubernur. Mereka adalah Ganjar Pranowo (Jawa Tengah), I Wayan Koster (Bali), Jhon Wempi Wetipo (Papua), dan Murad Ismail (Maluku). Untuk kursi wagub diraih oleh Barnabas Orno (Maluku), Al Yasin Ali (Maluku Utara), dan Cok Ace (Bali).
Sementara Gerindra, meski mampu mengantarkan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah sebagai pemenang Pilkada Sumut, namun tak ada satu pun kadernya yang berhasil meraih kursi gubernur dan wakil gubernur.
Nasib serupa juga dialami Hanura. Nasib Golkar, PKS, PKB, dan PPP lebih baik. Golkar berhasil meraih 1 kursi Gubernur dan 3 kursi wagub. PKS meraih 3 kursi gubernur dan 1 kursi wagub.
PPP meraih 1 kursi Gubernur dan 2 kursi wagub. PKB masing-masing meraih 1 kursi gubernur dan wagub. Sementara PAN dan PKPI dapat 1 kursi gubernur, dan Demokrat bersama Perindo sama-sama mendapat 1 kursi Wagub.
Soal banyaknya calon PDIP dan Gerindra yang keok, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menyebut, ada sejumlah faktor penyebab. Salah satunya karena partai terlalu memaksakan memasang kader mereka.
Dia mencontohkan pasangan Hasanah (TB Hasanudin-Anton Charliyan). Figur keduanya dianggap kurang dikenal dan tidak menjual, namun tetap dipaksakan sehingga perolehan suara mereka paling rendah di Pilgub Jabar.
“Faktor lainnya karena program mereka kurang menguntungkan masyarakat atau karena politik uang, politik identitas, politik agama ataupun suku, asal. Jadi banyak faktor sebenarnya,” ujar Pangi kepada Liputan6.com, Kamis
Sumber : Liputan6.com

Esensinews.com – Sikap ksatria ditunjukan oleh Calon Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang berpasangan dengan Dedi Mulyadi.

Meski kalah, keduanya tak segan-segan mengakui kemenangan pasangan Ridwan Kamil – UU Ruzhanul Ulum pada Pilkada di Jawa Barat.

Deddy Mizwar yang diusung Partai Demokrat tak lupa mengucapkan selamat kepada Ridwan Kamil – UU Ruzhanul Ulum sebagai pemimpin Jawa Barat. “Assalamu’alaikum Wr.Wb Bismillahirrahmanirrahim

“Saya atas nama paslon Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi mengucapkan selamat atas terpilihnya paslon No.1 Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum sebagai pemimpin baru Jawa Barat yang akan memimpin kita ke depan periode 2018-2023.” demikian cuit Deddy Mizwar dalam akun resmi twitternya.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.