Mereka yang Menentukan Siapa Presidennya

ESENSINEWS.com - 4 bulan Yang Lalu
Mereka yang Menentukan Siapa Presidennya
 - (ESENSINEWS.com)

Oleh: Nanik S Deyang (Pengamat Sosial)

Dengan penghasilan 500T per tahun, sangat mudah bagi mereka untuk membiayai capres sebesar Rp50T

Tadi malam saya tidak bisa tidur, _ada amarah yang meluap-luap, saya ingin menulis tapi saya terlalu malas untuk mengetik alhasil saya tidak bisa tidur dengan nyenyak._

_Sulit bagi saya untuk memikirkan kartel minyak sawit (CPO) yang mengakibatkan harga minyak goreng dalam negeri tinggi, dan pemerintah seolah tidak berdaya. Sudah lebih dari seminggu pemerintah mengumumkan akan memangkas 1,2 miliar liter, namun sejauh ini masyarakat belum merasakan penetrasi itu.

Saya semakin bersemangat dan seolah putus asa ketika pengamat ekonomi dari UI, Faisal Basrie mengatakan, pengusaha batu bara yang mengeruk dari perut ibu pertiwi berpenghasilan 500 triliun per tahun!!!! Atau seperempat dari anggaran negara kita. Dan bagi mereka kecil jika hanya mengeluarkan uang 50 triliun untuk memenangkan Presiden dan Wakil Presiden yang mereka inginkan.

Hatiku sakit sekali, _betapa kayanya Indonesia sebenarnya. Dari batu bara saja setahun bisa menghasilkan 500 triliun, tapi hasil dari perut bumi tidak dinikmati rakyat karena hanya segelintir konglomerat sendiri. Coba masuk kas negara 10 tahun, kita sudah tidak punya utang luar negeri.

Saya berulang kali terbentur, _kenapa kekayaan alam yang luar biasa ini tidak dikelola oleh BUMN, sehingga hasilnya masuk ke kas negara. Seperti Iran (saya tidak berbicara tentang Syiah tetapi saya berbicara tentang bagaimana ia mengelola kekayaan alamnya). Di Iran semua kekayaan alam dikelola oleh BUMN.

Tak heran, pada 1990-an, meski Iran diembargo oleh Amerika dan beberapa sekutu AS, mereka mengabaikannya begitu saja, karena seluruh kekayaan alamnya dikelola BUMN sehingga perbendaharaan negaranya gendut, bahkan utang luar negerinya 0 (nol ).

Bayangkan Iran yang sebesar dan praktis hanya memiliki minyak sebagai kekayaan alamnya, tidak bisa memiliki utang luar negeri, dan rakyatnya sejahtera, karena semua kekayaan alamnya dikelola oleh BUMN. Lagi pula, kita memiliki wilayah yang begitu luas, dengan kekayaan alam yang luar biasa, setiap tahun menghasilkan ribuan triliunan dolar, tetapi tidak masuk ke kas negara, tetapi masuk ke kantong konglomerat.

Dan _setelah masuk ke kantong konglomerat, sebagian uang itu akan digunakan untuk membiayai politik, membiayai calon presiden dan wakil presiden yang diinginkan, membeli partai, dan sebaliknya “membunuh” partai yang berbahaya akan menjadi dominan. Pengamat keuangan, media, lembaga survei, buzzer dan berbagai lembaga pemerintah mendukung skenario politik mereka dll. Begitu seterusnya hingga bertahun-tahun, hingga sebenarnya demokrasi di Indonesia sebenarnya hanya jargon.

Kembali ke laptop _soal batu bara, PLN terengah-engah karena kelangkaan batu bara, sedangkan konglomerat pesta pora ekspor batu bara yang harga nasionalnya memang tinggi.

Kebijakan Jokowi sebenarnya luar biasa, dengan menghentikan keran impor selama 1 bulan, mungkin Jokowi ingin menguji reaksi para pengusaha, dan memang benar LBP yang juga salah satu pelaku bisnis batu bara mengatasnamakan pemerintah sebagai Menteri Penanaman Modal, seminggu kemudian kran impor batubara dibuka kembali.

Sebenarnya masih ada cerita yang meresahkan, yakni tentang mafia-mafia berdarah Tionghoa yang beroperasi di wilayah Kalimantan, yang terungkap kemarin dalam rapat Menteri ESDM dengan Komisi VII DPR RI. Mereka bisa menunggu triliunan dolar tanpa memiliki tambang, artinya ini adalah penambangan ilegal. Ah, entahlah… tadi malam saya diingatkan oleh seorang teman… “Wah, mereka punya dukungan orang yang kuat, mereka tidak menyentuhnya, Anda tidak harus menuliskannya”…

Ah…!bosan dengan negara ini, oligarchy mengangkang, mafia didukung oleh instrumen negara, lalu apa yang sebenarnya didapat rakyat? Bisa banjir, bisa rusak jalan, bisa miskin, bisa berasap, bisa bencana, bisa susah mencari penghidupan karena ekonomi tidak semakin lancar tapi ambruk …. dan itu orang-orang adalah saya dan mayoritas dari 280 juta orang di Indonesia._

Maka _saya bawa kegundahan saya ke Gunung Sumbing, air mata sepertinya semakin deras untuk berkompromi ketika saya sedang menyeruput Cinnamon, tapi tiba-tiba saya mendengar keluhan seorang petani kol/kubis bahwa harganya turun menjadi hanya 2.000/Kg, dan kacang hanya 3.000/kg.

_Sangat pahit menjadi orang di Indonesia, yang besar menghasilkan ratusan triliun dengan mengendalikan politik, tetapi petani selalu tertangkap. Coba kalau kubis hanya 2000/kg, kacang 3.000/kg, maka harga minyak goreng 20 ribu/liter, ayam 40/kg, gula 14 ribu/kg, jadi apa yang orang makan dari apa yang mereka hasilkan? Makan angin Meski harga pupuk nonsubsidi sudah naik 100 persen, karena lagi-lagi pemain pupuk nonsubsidi adalah saudara menteri yang juga pemain batu bara terbesar kedua di Indonesia.

Terakhir, Chinamon yang menjadi andalan kafe Promise Heart Nepal van Java, kubiarkan dingin, sedingin hatiku, yang merasakan kesedihan yang luar biasa. Quo vadis Indonesia?

0Shares

Tinggalkan Komentar

Baca Informasi Berita Aktual Dari Sumber terpercaya