Catatan Historis : Tolak Kenaikan BBM, Rizal Ramli “Sang Penerobos” Hampir Ditangkap di Zaman SBY

ESENSINEWS.com - 1 bulan Yang Lalu
Catatan Historis : Tolak Kenaikan BBM, Rizal Ramli “Sang Penerobos” Hampir Ditangkap di Zaman SBY
 - (ESENSINEWS.com)

ESENSINEWSEcom ‐ Rizal Ramli baru-baru ini mengungkapkan dirinya mau ditangkap saat di era Presiden SBY.

Rizal mengaku hendak ditangkap karena memimpin demo 25 ribu massa dari DPR ke istana negara untuk menolak kenaikan BBM.

Menurut Rizal dirinya dituding membakar empat unit mobil berplat merah.

Padahal kata Rizal mobil tersebut dibakar oleh aktivis bayaran.

Namun bukannya takut ditangkap, Rizal Ramli malah mengertak petugas kepolisian.

“Di Jakarta saya sudah ditungguin wartawan, saya bilang tidak usah ditangkap-ditangkap, saya datangi besok ke Mabes Polri,” kata Rizal, Selasa (19/8/2021) dikutip dari akun YouTube Refly Harun.

Rizal menepati janjinya dengan mendatangi Mabes Polri.

Di sana ia minta diantar bertemu Kapolri, Wakapolri hingga Kabareskrim.

Ia mendatangi petinggi Polri itu untuk menanyakan siapa yang memerintahkan untuk menangkap dirinya.

” Siapa perintahkan menangkap Rizal Ramli, Presiden SBY atau Kapolri,” tanya Rizal lagi.

Lantas siapa Rizal Ramli yang berani mengertak petugas saat hendak ditangkap?

Dikutip dari Wikipedia, RR merupakan seorang mantan tokoh mahasiswa, pakar ekonom dan politikus Indonesia.

Ia lahir pada 10 Desember 1954.

Rizal Ramli pernah menduduki jabatan penting di Indonesia.

Ia pernah menjabat sebaga Kepala Bulog, Menteri Koordinator bidang perekonomian, Menteri Keuangan.

Ditingkat Nasional mantan Menko Ekonomi di era Presiden Gus Dur ini dipercaya sebagai anggota tim panel penasehat ekonomi PBB.

Rizal pernah juga menolak jabatan Sekjen ESCAP yang ditawarkan PBB.

jabatan itu ditolak untuk fokus mengabdi pada negara dan bangsa Indonesia.

Rizal Ramli mendapat julukan “sang penerobos” karena ide-idenya yang tidak konvensional namun tepat sasaran.

Selain itu ia pernah didaulat sebagai Ketum Kadin Indonesia tandingan.

Setelah sekian lama tidak mau dalam lingkaran kekuasaan, Rizal Ramli sempat diminta Jokowi untuk bertugas mengurus bidang kemaritiman dan sumber daya.

Namun meski masuk di dalam kabinet, dirinya tetap kritis mengkritik istana yang diistilahkan kepret terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak berpihak pada kepentingan bangsa dan negara sehingga mendapat julukan baru “Rajawali Ngepret”

Kontroversi

Tidak lama setelah diangkat sebagai Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, Pria asal Sumbar ini mengeluarkan pernyataan yang mengundang kontroversi di kalangan pemerintahan dan masyarakat umum.

Ia mengusulkan pembatalan rencana pembelian pesawat baru oleh Kementerian BUMN untuk maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

Menurut Rizal pembelian pesawat baru tersebut adalah kebijakan yang tidak tepat dan memboroskan uang negara.[23] Beberapa hari kemudian, Rizal juga mengkritik proyek pembangunan listrik 35.000 megawatt yang dianggap tidak realistis dan mengatakan bahwa rencana itu adalah proyek ambisius Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang tertunda.

Kritikan tersebut segera mengundang reaksi keras dari Jusuf Kalla dan beberapa pejabat negara lainnya.

Kontroversi ini sempat membuat kegaduhan dalam kabinet pemerintahan Jokowi – JK.

Banyak pihak yang mengecam dan mengatakan bahwa kritik yang dilakukan Rizal di depan publik adalah suatu perbuatan yang tidak etis dan menimbulkan kegaduhan di jajaran kabinet yang sedang berusaha keras mengatasi masalah perekonomian yang sedang mengalami kelesuan.

Namun juga tidak sedikit yang setuju dan mendukung kritik Rizal Ramli yang dianggap membuka hal-hal yang terjadi di sekeliling Presiden Jokowi yang tak diketahui oleh masyarakat luas.

Pada tahun 2018, Rizal Ramli menyatakan siap maju untuk mencalonkan diri sebagai capres dalam pemilihan presiden (pilpres) tahun 2019. Bahkan ia juga melontarkan sebuah janji yang akan ditepatinya jika terpilih menjadi presiden.

Rizal Ramli berjanji akan menangkap 100 orang berengsek Indonesia pada hari pertamanya menjabat sebagai seorang presiden.

Orang-orang berengsek tersebut kemudian akan dibuangnya ke Pulau Malaria di Indonesia tengah.

0Shares

Tinggalkan Komentar

Baca Informasi Berita Aktual Dari Sumber terpercaya