Breaking News

Akbar Faisal Uncensored : Rizal Ramli Lebih Suka Dipanggil ‘Orang Pergerakan’

ESENSINEWS.com – Ekonom dan aktivis kawakan, Dr, Ir. Rizal Ramli menjadi tamu istimewa dalam diskusi “Akbar Faisal Uncensored” yang ditayangkan di kanal youtube, pada Senin (16/11/2020).

Akbar Faisal membuka bocoran bahwa sebenarnya Rizal Ramli akan menjadi tamu istimewanya pada akhir tahun 2020. Namun karena permintaan para netizen, maka “terpaksa” Akbar Faisal mendatangkan tamunya, Rizal Ramli, pada saat ini. “Sebenarnya ada tiga nama,” ujar Akbar tanpa menyebutkan dua nama lainnya tersebut.

Selanjutnya dialog dibuka Akbar dengan pertanyaan tentang sosok Rizal Ramli. “Anda ini lebih suka dipanggil ekonom atau tokoh politik?” tanya Akbar.

Rizal Ramli  mengatakan bahwa dia lebih suka disebut sebagai “orang pergerakan”.

Rizal Ramli mengatakan bahwa dirinya merasa kurang pas kalau disebut politisi, karena dia dalam berbahasa dan bertindak selalu terus terang, dan tidak ada basa-basinya. Sementara politisi harus belajar banyak basa-basi.

“Saya lebih senang disebut orang pergerakan. Sebab menjelang Indonesia merdeka pun perjuangan dilakukan oleh semua tokoh pergerakan. Bung Karno, Sutan Sjahrir, HOS. Tjokroaminoto dan lainnya pada dasarnya mereka itu well educated dan tokoh pergerakan,” kata Rizal Ramli.

Mantan Menko Perekonomian itu menyebut bahwa para tokoh pergerakan dulu sangat kuat karena punya visi-visi besar buat Indonesia. Mereka tidak bisa dikooptasi oleh bandar alias cukong. Para tokoh pergerakan memilih hidup susah dan menderita, demi membawa perubahan bagi Indonesia merdeka dan lebih baik.

Mantan Kepala Bulog ini menilai tradisi pergerakan belakangan ini sudah makin hilang, dan disederhanakan hanya jadi aktivis yang konotasinya hanya tukang demonstrasi.

“Padahal pergerakan itu dari pikiran dulu. Pikiran besar, kritis, baru gerakannya,” ujar bang RR – sapaan Rizal Ramli.

Karena itu, dia juga berharap lebih banyak anak muda milenial Indonesia menjadi aktivis pergerakan, bukan sekadar menjadi aktivis yang anti ini dan anti itu.

Mendapat jawaban demikian, Akbar kembali memancing  Rizal Ramli dengan pertanyaan “Apakah Anda tidak merasa capai menjadi aktivis pergerakan terus”?

“Saya enggak menyesal, malah senang. Karena bebas dari kepentingan-kepentingan kecil. Saya di dalam (pemerintahan) juga lakukan perubahan kongkrit dan lakukan revolusi mental. Yang tidak beres ya kita kepret dengan berbagai risiko,” ujar Rizal Ramli.

Dia kemudian menuturkan bahwa ketika berada di luar pemerintahan, selalu konsisten menjadi aktivis pergerakan untuk memperjuangkan hal-hal penting.

Misalnya saat menjadi mahasiswa, ia keras perjuangkan UU Wajib Belajar, gerakan anti kebodohan. Saat jadi menteri juga memperjuangkan BPJS bersama serikat buruh. Termasuk memperjuangkan UU Desa, hingga ada Dana Desa Rp1 miliar per desa.

“Jadi Rizal Ramli ada di dalam maupun di luar sistem (pemerintahan) tidak berubah,” ujarnya seperti dikutip katakini.com.

Kembali Akbar Faisal bertanya tentang sosok Rizal Ramli yang selalu menjadi kontroversi. “Apakah ini karena memang Anda suka kontroversi ataukah itu terkondisikan atau terjadi dengan sendirinya?, tanya Akbar Faisal.

Rizal Ramli mengatakan bahwa orang Indonesia pada dasarnya bangsa yang doyan damai, “biar pun tidak benar asalkan damai, biar pun ngaco tapi damai”. Padahal, kata Rizal Ramli, sikap seperti ini membuat Indonesia tidak bisa menjadi bangsa yang besar.

“Sebab bangsa besar itu harus ada visi-visi besar. Visi besar itu kadang berbenturan dengan pada visi-visi kecil, seperti visi kepentingan indvidu dan visi kepentingan kelompok. Nah, akibat tabrakan itulah maka ada kontroversi,” ujar Rizal Ramli.

Tawaran demi Tawaran

Rizal Ramli menjadi menteri pada dua masa kepresidenan, yaitu era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan era Presiden Joko Widodo.

Menurut Rizal Ramli sebenarnya Gus Dur menginginkan dirinya menjadi Menteri Keuangan, yang juga didukung oleh Wiranto. Namun karena ada desakan Partai Amanat Nasional (PAN) maka Gus Dur menunjuk Bambang Sudibyo menjadi Menteri Keuangan.

Namun, dua minggu kemudian, Gus Dur memanggil Rizal Ramli untuk ditempatkan menjadi Ketua BPK. Namun, Rizal Ramli menolak. “Gus kan orang yang jadi Ketua BPK itu yang usinya 60 tahun. Saya waktu itu baru 40 tahun,” ujar Rizal Ramli.

Dua minggu berselang, Gus Dur kembali memanggil Rizal Ramli. Kali ini, Rizal Ramli ditawari menjadi Duta Besar di Washington DC. Tawaran itu juga ditolak secara halus oleh Rizal Ramli.

Lalu, Rizal Ramli kembali menawarkan Rizal Ramli untuk menjadi Kepala Bulog. Kali ini Rizal Ramli menyanggupinya. “Tapi dengan syarat, saya cukup 1 tahun sebagai Kepala Bulog. Setelah itu Gus Dur pecat saya atau saya mundur,” ujar Rizal Ramli.

Menurut Rizal Ramli, dengan menjadi ekonom, seperti dijalankan saat itu, dirinya menjadi orang yang bebas. Apalagi waktu itu, Rizal Ramli merupakan ekonom dengan bayaran termahal. “Saya lebih suka jadi orang bebas. Karena itu saya lebih memilih menjadi ekonom. Apalagi bayaran saya waktu itu gede, lebih besar dari seorang menteri,” ujarnya.

 

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *