ESENSINEWS com – Kejanggalan demi kejanggalan Pemilu AS terus dilakukan di negara-negara bagian penting. Inilah skenario besar demokrat merampok Pilpres AS.

Peneliti politik Amerika Serikat (AS) Jerry Massie menjelaskan Demokrat dengan berbagai cara kotor akan dilakukan untuk memenangkan Joe Biden sebagai presiden.

Padahal kata dia, penghitungan suara pilpres sudah diatur dalam Undang-undang, maksudnya mengapa baru Pukul 02.00 menjelang subuh Presiden Donald Trump menyampaikan “pidato kemenangannya”.

Memang, Pukul 02.00 Rabu dini hari itu (waktu Washington DC) berarti jam 12.00 malam di California. Detik itulah tanggal 3 November 2020 –yang ditetapkan sebagai hari Pemilu– lewat.

Jadi dengan kata lain kata Jerry, US President Election it’s over atau sudah selesai. Suara yang belum dihitung setelah lewat detik itu tidak boleh dihitung lagi. Pemilu sudah selesai.

Lebih parah di Georgia, Trump menang telak, dengan hampir mendekati 300.000 suara pada malam pemilihan, tapi ajaibnya suara Trump dipangkas.

Menurut Jerry kemenangan Trump dirampok Deep State yang mana mereka membekukan pemilu dan mereka berusaha keras untuk memenuhi surat suara. Karena banyak negara bagian yang belum menyebutnya. Yang akan memaksanya ke pengadilan. Ini sudah di rencanakan selama berbulan-bulan bagi Demokrat.

Begitu ujar Jerry, kecurangan terjadi di Nevada, yang merupakan basis Demokrat, tim kampanye dan pengurus Partai Republik di negara bagian itu mengumumkan gugatan yang mengklaim sedikitnya 10.000 orang yang bukan warga AS, mencoblos secara ilegal dan surat suara mereka sedang terhitung.

Selain itu, Jerry menjelaskan Trump menang Electoral College di Wisconsin dan Michigan justru dia kalah. Bagi dia ini sudah diluar nalar.

Mereka tahu Trump akan keluar sebagai pemenang dengan cepat dan keras, jadi mereka harus menghentikan momentum dan membekukan hasil pemilu. Dan ambil kesempatan mereka di pengadilan. Status kuncinya adalah di negara-negara bagian Pennyslavania, Georgia, North Carolina, Michigan, Wisconsin yang masih tanpa pemberitahuan.

Bukan hanya itu saja “cheating and robbing’  pencurian dan perampokan serta pemalsuan data terjadi di Arizona dan Nevada sampai-sampai pendukung Trunp melakukan demonstrasi.

“Kejadian ini hampir sama dengan Pilpres 2016 silam, tapi waktu itu media-media dan lembaga survey disuap oleh Demokrat untuk menang tapi mereka terjungkal juga. Saat ini metode lain yakni mencoba mencuri pemilu dengan surat palsu di surat suara karena jelas bahwa Trump memang menang,” ujarnya.

Memang secara teknis, setiap suara setelah 3 suara yang mereka temukan secara ajaib, harus batal demi hukum dan dibuang. Semua pencurian ini ada di balik layar.

Dan hingga saat ini kata dia, suara electoral capres asal Delaware ini cukup suara terlepas dari negara bagian yang memperbaharui. Dan Demokrat telah berjanji untuk tidak mengakui apapun yang terjadi.

“Sejak awal saya sudah analisis Trump akan tampil sebagai pemenang. Ini pun sama seperti 2016 silam saya tulis “Trump the next president of US” 10 bulan sebelum Pilpres. Suara Trump mencapai 293, hanya butuh 270 untuk menang. Namun Demokrat dan media membekukan hasil pemilu untuk mendapatkan lebih banyak surat suara untuk setidaknya 5 negara bagian lagi,” ujarnya.

Padahal, di 6 negara bagian condong ke arah Trump Jumlah total – 80
213+ 80 = 293. Sedangkn 3 negara bagian condong ke arah Biden. Jumlah total – 21
225 + 21 = 246 jam dua malam.

 

.

 

0Shares