6 Dosa Politik Rohani

ESENSINEWS.com - Jumat/24/07/2020
6 Dosa Politik Rohani
 - ()

Oleh :  DR Jerry Massie MA, D.Min, Ph.D (Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies)

Berbicara soal politik maka tidak akan pernah habis-habisnya. Lantaran, akan sulit bagi kita untuk dapat mendefinisikannya seperti apa dan bagaimana arah serta tujuan politik itu sendiri.

Bagi sebagian kalangan menyebut politik itu ‘busuk’ tapi ada pula yang menyatakan bukan politik yang keliru namun orangnya yang bobrok bukan politiknya.

Diketahui ada banyak teori terkait politik bahkan para pakar ilmu politik pun menyebutnya sebagai ratunya ilmu-ilmu sosial (Political is The Queen of Social Science) yang berkedudukan pada peringkat paling atas diantara ilmu-ilmu sosial atau ilmu utama (The Master Science) khususnya diantara kelompok ilmu sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan).

Peter H. Odegard dan David Easton, merupakan dua tokoh yang menyebut dua hal diatas. Aristoteles filsuf tersohor Yunani memulai pembahasan bukunya “Politics” (ditulis tahun 335), dengan kata-kata secara alamiah manusia adalah mahkluk yang berpolitik”.

Dalam bahasa aslinya atau (Latin/Yunani) disebut “Zoon Politicon”  dan dalam terjemahan bahasa inggrisnya disebut “Man is by nature a political animal” yang dimaksud Aristoteles adalah politik merupakan hakikat keberadaan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Rudy, M (2007:01.) Dalam kamus “Oxford” (of an action) seeming sensible and judicious in the circumstances (also politick) archaic (of a person) prudent and sagacious.

Verb (Politics, politicking, politicked) often as Noun politicking. Kamus bahasa indonesia mengartikan politik adalah “Pengetahuan tentang seluk seluk ketatanegaraan”.

Dalam kekristenan banyak muncul simnol politik. Misalkan membawa ayat alkitab, sering memakai nama Tuhan. Lebih parah lagi, calon kepala daerah ikut melbatkan pendeta sebagai tim sukses.

Ada kejadian muncul nubuatan palsu dari pendeta yang menyebut si calon sudah menang, padahal fakta di lapangan sesungguhnya dia kalah.

Disatu sisi, ada kekeliruan dalam hal berpolitik yakni manakala seseorang mulai mencampur- adukan antara dua sisi yang berbeda, masing-masing politics (politik)  dan religion (agama). Bangkali dua sisi ini tak pernah akan sejalan

Justru semua ini akan berimbas pada kehancuran total.

Menurut hemat saya seandainya kedua hal tersebut dipadukkan maka akan berakibat fatal maka ini yang disebut sinkritisme.

Dalam dunia modern dewasa ini acapkali kita temui seseorang tidak lagi berpikir panjang dalam mengambil keputusan. Dan tanpa ada pertimbangan secara matang.

Seseorang jarang berpikir lagi mana yang baik dan buruk. Segala macam cara dan siasat pasti dilakukanya untuk meraup keuntungan tanpa memikirkan resiko yang akan diterimanya.

Padahal, apabila seseorang bisa menerapkan politik etis atau politeuma secara benar maka mereka bakal terhindar dari ketamakan, keserakahan, keegoisan, dsb.

Dosa dalam bahasa asli ‘Hammartia (melenceng dari sasaran), adapula arti yang berbeda yakni berlaku tidak adil serta berjalan bengkok ‘terselubung dalam dunia politik sulit diterka mengapa? Lantaran  penyamaran dari oknum tertentu yang ikut terlibat konspirasi jahat  sedang berkeliaran dimana-mana.

Terkadang oknum-oknum ini kerap memakai topeng serta sifat mereka seperti bunglon yang berubah-ubah bentuk dan warna. Jika kita lengah maka mereka siap menerkam, siapa saja yang dijumpainya. Bagi umat Kristiani Yesus tidak pernah mengajarkan siasat dalam berpolitik.

Dalam Alkitab Yesus pernah mengatakan satu hal yaitu “Apa yang kaisar punya berikanlah pada kaisar”. Sejatinya, jika dilihat secara kasat mata serta implisit sebenarnya Yesus mengajarkan bagaimana politik yang benar atau manifesto politik Yesus. Tapi yang menjadi penekanan-Nya seputar justice (keadilan), truth (kebenaran), honestly ( kejujuran).

Adakah seorang yang anda jumpai tanpa dolat-dalit serta kebohongan dibibirnya.
Dewasa ini politik telah merambah masuk gereja.

Dengan kata lain, jarang sekali dijumpai lagi dengan politisi yang berhati jujur dan bersih. Semua penuh intrik-intrik. Apalagi yang mau menderita demi rakyatnya dan lebih memikirkan rakyat ketimbang personal interest (kepentingan pribadi) interest group (kepentingan golongan) dan interest party (kepentingan partai).

Semua ini lebih diakibatkan oleh ketamakan dan keserakahan dari manusia itu sendiri. Mengapa di Indonesia orang beramai-ramai mendirikan partai.

Tujuannya, paling tidak untuk mewujudkan ambisi dan kekuasaanya. Berbeda dengan di negara barat, sebagai contoh Amerika Serikat yang hanya tiga partai namun sistem demokrasinya begitu hebat. Sama seperti di Indonesia yang terlalu banyak partai tanpa ada ideologi yang jelas.

Apabila, seseorang berpolitik maka hal itu sah-sah saja asalkan orang yang bersangkutan terhindar dari yang namanya manipulasi, kapitalisme, konspirasi serta intrik politik yang kotor.

Saya coba membagi beberapa hal pengertian tentang politik  antara lain: Pertama, Political  Symbol (politik simbol). Misalnya ada seorang datang ketempat kumuh berbaur bersama warga setempat lalu sama-sama mereka menyantap makanan bersama.

Dan si Anu melahap makanan yang biasa dimakan oleh si pengemis yaitu; nasi akin. Kan hal ini kurang wajar jika orang ini mau makan nasi tersebut. Itulah tipikal politisi pengusung politik simbol yang berpura-pura makan,  namun hanya ditempat itu saja. Dengan demikian, masyarakat akan menduga bahwa si calon tersebut memang memiliki perilaku yang baik, merakyat dan pantas untuk dipilih.

Sebetulnya, ini sangat keliru. Tapi itu hanyalah sebatas intrik politik. Kedua, Gray Political (politik abu-abu). Gaya politik yang satu ini sangat sulit diterka dan ditebak apa sebab? Lantaran dimana ada semut disanalah ia berada. Tipe orang seperti ini adalah plin-plan tidak dapat memastikan siapa pilihannya ataupun siapa yang akan dijadikan calon. Sangat sulit bagi penganut paham ini untuk memutuskan sesuatu. Sikap yang dia miliki adalah sering memutar balikkan fakta yang ada Ketiga, Restaurant Political (politik restoran).

Tipe politik yang satu ini adalah mengajak seseorang dan iming-imingnya yakni makan di restoran ataukah pembagian jatah makanan dos. Hal semacam ini banyak dilakukan oleh para calon terhadap oreang-orang miskin serta mereka memilih tempat-tempat kumuh. Keempat, Political sceptism (politik skeptis), ada beberapa kelemahan dengan model seperti ini.

Oleh karena itu, setiap pemilih memiliki kecenderungan negatif tentang politik oleh sebab mereka sudah mulai jenuh dengan janji-jani politikus yang hanya dibibir saja lips service. Persoalan ini sedang dialami oleh masyarakat..

Sedangkan yang Kelima, Money politics (politik uang). Kalau money politik bagi masyarkat Indonesia tidak asing lagi ataupun telah mendarah daging.

Penyebab utamanya ialah sudah dari dulu setiap ada pemilihan presiden, kepala daerah dan sebagainya maka ada kandidat yang menerapkan strategi politik uang.

Jadi sulit merubah tabiat orang Indonesia. Uang lebih mahal ketimbang harga dari demokrasi.

Bagaimanapun atau apapun cara baik itu bersih dan kotor akan dilakukan oleh setiap calon guna mencapai tujuannya yaitu “berkuasa”.

Kata ‘money politics’ memang agak kurang sopan penyebutannya.

Sebetulnya cost political dana yang diberikan sesuai dengan kebutuhan. Politik sebetulnya berkibalat di Eropah dan Amerika.

Contohnya, Amerika mulai dari Presiden pertama mereka semuanya dipilih oleh rakyat. Dan rakyatlah yang menentukan siapa yang berhak untuk memimpin yakni popular votes. Namun lewat electoral college yang berjumalh 528 kursi. Jadi, jika capres meraih 270 suara sudah menang

Justru berbeda dengan sistem perpolitikan di tanah air. Sepertinya negara kita merupakan negara demokrasi. Tapi boleh saya katakan itu keliru besar. Adakah dinegara demokrasi tapi penegakan hukum dan penanganan hak asasi manusia (HAM) sangat lemah maupun jalan ditempat?

Demokrasikah negara yang pemerintahan didalamya marak dengan kasus suap, politik uang, korupsi?
Sepatutnyalah pemerintah mulai memikirkan nasib bangsa ini mau dibawah kemana? Apakah gerangan yang ada dibenak para pemimpin-pemimpin kita.

Dewasa ini politik telah merambah masuk kedalam gereja. Dan ini jangan dibiarkan berlarut-larut. Jadi jika hal demikian  tidak cepat diantisipasi maka ditakutkan kedepan akan sulit diatasi. Hal yang rancu yang saya pelajari ada segelintir orang yang statusnya pendeta tapi ngotot menjadi anggota dewan bahkan pimpinan partai. Dalam hal ini pemimpin Gereja harus tegas dalam mengambil sikap.

Terkadang tanggung jawab Gereja mulai luntur. Kalau mau berpolitik sah-sah saja, tapi khususnya bagi untuk pendeta jemaat atau gembala sidang seharusnya dilarang dan tidak dibenarkan. Kecuali, ia seorang dosen pada sekolah Teologia, maupun hanya pembantu digereja seperti Syamas, penatua, dan sebagainya. Tugas pendeta sebetulnya mengurus jemaatnya, mengayomi, memberikan pencerahan dan kekuatan iman bagi umatnya bukan membawa jemaatnya  kedalam politik praktis.

Namun fenomena yang terjadi saat ini pendeta menjadi politisi sedangkan sebaliknya politisi berubah statusnya yaitu menjadi pendeta. Kan kedengarannya aneh jika seorang pendeta menukar jabatanya hanya karena kekuasaan dan uang.

Dosa pertama, Mengadopsi Alkitab untuk kepentingan politik.

Hal tersebut pernah sempat terjadi beberapa waktu silam. Kala Pilwako digelar di salah satu kota di daerah kita. Ada seorang calon yang melakukan proses ritual tersebut. Yang diadopsi ialah pembasuhan kaki. Kronologis yang  terjadi yakni si calon tersebut membasuh kaki dari pendeta-pendeta.

Jika didalam Alkitab yang terjadi adalah Yesus membasuh kaki dari murid-murid-Nya tapi persoalannya ini terbalik. Si calon yang berani melakukan proses tersebut. Paling tidak dengan melakukan metode seperti ini paling akan meraih simpati dan dukungan dari pemilih khususnya dikalangan Gereja. Justru hal ini sangat keliru, seharusnya pendeta yang sepantasnya melakukan acara tersebut bukan si calonnya.

Dosa Kedua, Membagi-bagikan Sembako Berkedok Dasar Kasih tapi Ada Dusta Terselubung

Namun, secara tidak langsung Warga Gereja telah ditipu. Kan tidak beralasan membagikan sembako atau diakonia kala memasuki bulan kampanye. Kalau mau jujur orang yang identik dengan berbagi kasih memilki maksud terselubung yaitu sebuah kata “KEKUASAAN”. Coba anda pikirkan masakan membagikan sembako pada waktu jelang pilkada.

Sebelum-sebelumnya hal itu tidak pernah dilakukannya.

Dosa ketiga, Menjadikan Pendeta Menjadi Tim Sukses.

 

Pendeta khususnya gembala sdang tugana menjaga, memelihara, memberikan jemaatnya. Bukan jadi tim sukses. Secara etis ini rancu. Bisa asalkan jadi pendoa saja.

Tapi realita di lapangan, banyak pendeta dijadikan sapi perah bahkan ada yang dijadikan tim doa dan kerjaanya hanya mendoakan si Calon tersebut agar dapat menang dalam Pilkada.

Tapi lucunya, si Pendeta ini juga mau-maunya menjadi tim sukses. Bisa ditebak otomatis pelayanannya akan terbengkalai. Kita tidak bekerja pada dua tuan. Antara pelayanan dan politik itu sangat jauh beda. Acapkali ada juga pendeta juga yang terus-menerus mendoakan si calon walaupun sudah terbukti koruptor.

Sudah pasti iming-imingnya uang banyak. Tapi tugas dari si Pendeta tersebut sudah melenceng. Bukan lagi jadi berkat malahan jadi syah bagi banyak orang.

Dosa Keempat, Mengaku atas nama Tuhan. Ini lagi yang luar biasa.

 

Ada juga yang kerap membawa-bawa nama Tuhan contohnya: Tuhan telah memilih saya, Tuhan telah berbicara pada saya agak maju sebagai calon? Saya dapat penglihatan dari Tuhan, dalam nubuat nama saya yang disebut-sebut, Dalam mimpi Tuhan berbicara agar saya maju dalam pilkada. Inilah dosa politik yang terjadi dilapangan. Kita bagaikan dihipnotis. Ada contoh seperti ini, bawa-bawa nama Tuhan tapi imbasnya tidak lolos verifikasi. Ini karena tidak menggunakan rasional secara benar.

Dosa kelima, Memberikan Amplop Berdalih Sebagai Jasa Padahal Suap Politik

Terkesan sungguh murahan jika hanya uang 50 ribu hingga kita terjebak dengan politik uang atau politik praktis. Apakah Tuhan tidak mampu menolong umatnya. Apakah ukuran Tuhan hanya dengan uang sebanyak itu? Memang kejatuhan setiap pelayan Tuhan selain Wanita, kedudukan dan terakhir uang. Sudah jelas tertulis akar kejahatan adalah cinta uang. Janganlah anda menjadi hamba uang. Memang setiap orang ada porsi masing-masing. Jadi janganlah hanya karena uang tersebut pada akhirnya pelayanan terbengkalai.

 

Dosa keenam, Mengadakan KKR Berkedok Dibalik nama Tuhan. 

Hal ini sangat mengkwatirkan. Betapa tidak, KKR yang seharusnya sacral, namun telah dirubah menjadi ajang kampanye atau pemenangan pilkada. Beberapa waktu lalu saya hadir dan saya sempat melihat dimana dalam acara tersebut hadir satu pendeta yang sangat terkenal membawakan khotbahnya. Dan setelah itu pihak panitia memberikan selebaran dari salah satu kandidat peserta pilkada serta ada yang bertanda partai tersebut.

Apakah ini yang namanya Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)? Ataukah ada unsur-unsur yang lain.
Sungguh sangat disayangkan dosa-dosa rohani diatas masih saja terjadi pada waktu pilkada. Ini menjadi pelajaran berharga harga nantinya kita terhindar dari jebakan-jebakan politik yang akan menjerat kita. Berpolitiklah yang benar yaitu politik etis bukan praktis.

Ingat di Taman Eden ada 4 dusta kelihtan rohani tapi sebuah kebohongan yang di tawarkan ular kepada Hawa. Jika engkau makan  buah ini engkau akan menjadi seperti Allah. Kedua, Engkau tidak akan mati, matamu akan terbuka dan engkau akan mengetahui baik dan yang jahat. Jangan sampai para gembala sidang terjerat dengan rayuan yang akn membawa pada kebinasaan.

Ingat! fungsi gereja sebagai tempat kehadiranNya bukan tempat kampanye politik. Jangan hanya Rp300-Rp500 ribu, para pendeta mempermalukan nama Tuhan. Dia akan memberkati kita dengan berbagai macam cara. Silahkan jika calon memberikan program-programnya jika dia sudah terpilih.

Tinggalkan Komentar

Kolom

Mungkin Anda melewatkan ini

Ini Syarat New Normal Menurut Arwani Thomafi

Ini Syarat New Normal Menurut Arwani Thomafi

Jepang Rebut Emas Bulutangkis Beregu Putri

Jepang Rebut Emas Bulutangkis Beregu Putri

Perusahaan ini Bakal PHK 18 Ribu Karyawannya

Perusahaan ini Bakal PHK 18 Ribu Karyawannya

Indonesia Terburuk Kedua di Asia Tenggara untuk Neraca Perdagangan

Indonesia Terburuk Kedua di Asia Tenggara untuk Neraca Perdagangan

Gemmy Kawatu Calon Pengganti Sekprov Sulut Edwin Silangen

Gemmy Kawatu Calon Pengganti Sekprov Sulut Edwin Silangen

Baca Informasi Berita Aktual Dari Sumber terpercaya