Efektiftas Penerapan New Normal di Tengah Pandemi Corona

ESENSINEWS.com – Setelah seratus hari hidup bersama Covid-19, kita semua mengamati bahwa penyakit ini memiliki beragam gejala.

Menurut Direktur Eksekutif Eijkman Institute Prof Amin Subandrio, Covid-19 itu tidak hanya demam, batuk dan sesak nafas, tapi juga dapat berupa rasa lemas, nyeri otot, nyeri kepala, gangguan indera penciuman dan perasa, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, mual atau muntah, atau diare.

“Kita juga menyadari bahwa belum ada obat maupun vaksin spesifik yang tersedia. Sehingga ahirnya kita harus menerima kenyataan bahwa kita akan hidup berdampingan dengan SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19 ini, untuk jangka waktu yang cukup lama,” kata pakar kesehatan ini dlam diskusi daring zoom esensinews dan Gercin Selasa (09/6/2020).

Sebenarnya jelas Amin, bukan hal yang baru bagi umat manusia harus berdampingan dengan mikroba penyebab penyakit.

“Di masa lalu, kita membutuhkan 200 tahun sejak ditemukan vaksinnya untuk dapat menyatakan dunia bebas dari Cacar (Smallpox). Sampai saat inipun kita masih terus berdampingan dengan Tuberkulosis, Dengue, Malaria, HIV, Hepatitis, Campak, dan sebagainya,” katanya.

Siapkah kita untuk hidup ”new normal”? tambah Amin, Organisasi Kesehatan Dunia WHO mempersyaratkan, negara atau wilayah yang akan menerapkan “new normal” harus memenuhi kriteria sudah mampu mengendalikan penularan Covid-19, memiliki kapasitas sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat yang mumpuni, dapat meminimalisasi risiko wabah terutama pada kelompok rentan, memiliki langkah pencegahan di tempat kerja, dapat mencegah kasus impor, dan kesadaran masyarakat yang tinggi.

“Pemerintah DKI melalui Pergub. DKI. No. 51 Th. 2020 telah menetapkan indikator dapat tidaknya kehidupan “new normal” dilaksanakan, yaitu hasil kajian epidemiologi; kondisi kesehatan publik; dan kesiapan fasilitas kesehatan. Untuk itu, beberapa aktifitas yang perlu diatur meliputi setidaknya kegiatan pembelajaran di sekolah dan/atau institusi pendidikan lainnya; kegiatan keagamaan di rumah/tempat ibadah; aktivitas bekerja di tempat kerja; kegiatan di tempat fasilitas umum; kegiatan sosial dan budaya; dan pergerakan orang dan barang dengan menggunakan moda transportasi,” tandas dia.

Lebih lanjut jelasnya, kehidupan “New Normal” adalah sebuah Less Physical Contact Society/Economy, yang ditandai dengan perubahan berbagai standar (pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan, pelayan perkantoran) dan kondisi bekerja, yang harus didukung oleh kemampuan deteksi cepat dan isolasi mereka yang terinfeksi, serta partisipasi masyarakat dalam membatasi perjalanan dan menghindari kerumunan/menjaga jarak.

Untuk itu dia berharap tujuan ahir dari penerapan “New Normal” adalah agar kita semua tetap aman dari Covid-19 sambil dapat terus produktif.

0 Reviews

Write a Review

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *