Oleh: Diah Wahyuningsih Naat (Pengajar)
Seorang “pengamat pendidikan” baru-baru ini sangat kritis bicara ruang pendidikan. Guru salah sekian, jadi fokus sentilan. Ada persepsi kalau guru dan dosen makan gaji buta.
Sentilannya menohok ubun-ubun banyak guru termasuk saya. Dasarnya simple, ada UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Isinya salah sekiannya berkaitan dengan pemberian tunjangan. Kita menyebut singkatnya adalah Tunjangan Sertifikasi atau Tunjangan Profesi. Jumlahnya dikalikan 3 bulan memang besar karena berpedoman pada gaji pokok.
Lalu muncul pernyataan, di masa pandemi, guru dan dosen makan gaji buta sementara instruksinya WFH sedangkan peserta didik LFH. Konsekuensinya ada pada absensi, laporan kinerja bulanan, laporan hasil belajar siswa ataupun mahasiswa, dan sebagainya.
Kemudian, ada pula pernyataan dari beliau, guru Indonesia kualitasnya hanya 2,5 persen yang unggul selebihnya masih memprihatinkan.
Tak sampai di situ aja, kritiknya bergulir dan makin tajam. Guru Indonesia kurang kreatif, tidak kreatif, dan seterusnya. Pokoknya hal-hal negatif di ruang pendidikan disebabkan oleh guru.
Pertanyaannya, kemana saja beliau selama ini bila keburukan itu semua milik guru? Bukannya sebagai pengamat pendidikan beliau punya data yang bisa dipertanggungjawabkan? Karena pengamat itu ekuivalen defenisinya dengan peneliti? Apa tidak coba memaparkan hasil penelitiannya sebelum negative statementsnya diberitakan media?
O ya, saya lupa. Ini agak nyentil dikit. Setelah saya telusuri arti kata pengamat dengan peneliti ternyata memang ekuivalen menurut KKBI.  Tapi, ada tapinya.
Begini tapinya.
Pengamat selalu dimulai dari peneliti dan peneliti sudah barang tentu pengamat. Perbedaannya adalah, peneliti cenderung mengeluarkan kesimpulan dari hasil diskusi dan penelitian. Data penelitian diolah dengan metodologi ilmiah. Hasilnya bisa dipaparkan lewat artikel jurnal atau seminar. Tidak ada klaim yang kaitannya dengan benar maupun salah. Sifatnya essensialis tanpa klaim benar dan salah. Tidak bicara values yang normatif. Semuanya diulas secara faktual sebagaimana hasil penelitiannya.
Lalu bagaimana dengan pengamat? Pengamat juga demikian, hanya bedanya pengamat seringkali berlebihan bicara fakta. Kadangkala fakta penelitian dianulir sedemikian rupa yang mestinya bukan untuk menstigmatisasi, diskriminatif, dan mendeskritkan pihak-pihak tertentu.
Memang ruang pendidikan indonesia punya segudang problematika. Mulai dari warga sekolah hingga kebijakan. Bahasa idealnya, melihat ruang pendidikan searifnya melalui dua faktor: internal dan eksternal. Dua faktor ini punya rangkaiannya lagi, ilustrasinya, ada kakek-nenek, bapak-emak, anak-cucu, bahkan hingga cicit. Rangkaian faktor internal eksternal ini sudah sering diulas namun hasilnya masih jauh panggang dari api.
Paling kurangnya, kalau ingin bicara tendensius tentang guru, coba simak trajektori pendidikan Indonesia. Saya pikir beliau pahamlah, bila untuk menyusun kurikulum saja dari tahun 1947 yang dulu namanya Rencana Pengajar sampai Kurikulum 2013 atau Kurtilas, banyak sekali dijumpai antara teori dan praktik berbeda. Belum lagi revisi-revisi buku teks.
Kurtilas saja, sejak berlaku tahun 2013, tiap tahunnya direvisi. Kalau buku teks saja direvisi tiap tahun tentu perangkat mengajar guru juga mesti direvisi. Kalau guru saja bingung akibat perubahan perangkat, tentu peserta didik nunut bingung. Kalau sistem penilaiannya saja berubah-ubah, maka daya nalar guru nunut pula berubah-ubah.
Alih-alih makin pintar, yang ada guru makin stress. Ditambah lagi dengan kesejahteraannya. Jumlah guru honorer dengan upah di bawah standar masih berjibun. Kewajiban mereka sama dengan yang non honorer. Supervisi untuk evaluasi kinerja dan pola mengajarnya sama.
Coba deh Anda bayangkan, apa tak makin korslet otak di kepala guru?
Apalagi ketika guru dipimpin kepala sekolah  yang leadershipnya minim bijak. Makinlah hari-hari guru is not wonderfull. Dunia serasa sesempit kotak korek api. Hatinya jarang mengalami excited saat bersua dengan peserta didik,  ujungnya masalah sekolah dibawa ke rumah dan sebaliknya masalah di rumah dibawa ke sekolah…ambyarrr semuanya.
So, Anda cobalah bijaksana bicara jangan bijaksini karena makin ke sini semua persoalan ruang pendidikan makin bikin guru terstigma. Kasihan dong.
Sesekali buatlah penelitian bagaimana guru mampu mengajar aktif dan kreatif menstimulasi peserta didik berimajinasi di ruang kelas kemudian membentuk pola kritis mereka tanpa beban finansial, bahagia zahir dan batin, memupuk daya kritis, dan seterusnya.
Bantu guru unggul yang 2,5 persen menulari keunggulannya kepada yang Anda bilang non unggul. Pesankan kepada guru agar tidak kikir ilmu. Beri solusi dari penelitian tersebut bagaimana menjadi guru merdeka tanpa faktor internal dan eksternal tadi. Sehingga ke depannya bukan lagi kita berhasil mencetak generasi perubahan di Revolusi 4.0. Lebih dari itu, Revolusi 5.0, Indonesia akan duduk bareng Jepang dan Cina.
Kalau perlu lagi, Indonesia curi start memasuki Revolusi 6.0 oleh generasi Alpanya.
Sumbeŕ  : Tanjaknews
0Shares