ESENSINEWS.com, PEKING – Pertemuan virtual para pemimpin G20 harus dibatalkan di menit terakhir setelah AS dan China bersitegang soal Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Berdasarkan keterangan sumber yang membantu telekonferensi itu, Washington ingin menyelidiki organisasi di bawah PBB itu atas respons mereka terhadap virus corona.

China, di sisi lain, menolak dengan tegas untuk mendiskusikan segala rencana guna menginvestigasi WHO, ujar sumber yang tak ingin disebutkan identitasnya itu.

Perseteruan AS dan Beijing itu berimbas kepada KTT G-20 secara virtual yang sedianya dilaksanakan pada Jumat waktu setempat (24/4/2020).

“Dampaknya, konferensi itu diputuskan dibatalkan pada menit-menit terakhir,” sumber sebagaiman dilansir oleh SCMP Sabtu (25/4/2020).

Dikatakan bahwa pertemuan itu masih bisa terjadi jika kedua negara sepakat soal WHO, atau setidaknya membahas mengenai hal sensitif itu.

Pertemuan itu rencananya bakal dihadiri baik oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping, yang diketuai oleh Arab Saudi.

Panitia penyelenggara KTT G20 tidak merespons surel yang dikirimkan oleh SCMP mengenai pembatalan agenda pertemyan virtual tersebut.

Shen Dingli, Profesor Hubungan Internasional di Fudan University Shanghai berujar, China berpikir pembekuan bantuan bagi WHO adalah upaya menyalahkan mereka.

Selain itu, penangguhan tersebut merupakan bentuk ketidakmampuan Washington dalam menangani virus corona, yang sudah membunuh 52.000 di AS.

Tetapi AS berpikir WHO adalah bagian dari China, dengan Beijing harus bertanggung jawab atas banyaknya korban di AS,” ucap Shen.

“Relasi China dan AS sudah mulai menunjukkan penurunan secara signifikan dan sangat mengkhawatirkan. Masa depan menjadi mencekam,” lanjutnya.

KTT G20 pertama secara virtual dilaksanakan pada 26 Maret, di mana negara anggota sepakat untuk melakukan “yang bisa dilakukan guna mencegah wabah”.

Di antara kesepakatan tersebut adalah paket bernilai 5 triliun dollar AS, sekitar Rp 77.635 triliun, untuk membantu ekonomi global.

Sejak saat itu, ketegangan mengenai peran WHO dalam mencegah Covid-19 menjadi isu yang serius baik oleh Washington maupun Beijing.

Pada awal April, Trump melontarkan ancaman bakal melakukan pemotongan bantuan, seraya menuduh organisasi itu menyebarkan “informasi sesat” mengenai virus corona.

Dia kemudian membandingkan setiap tahun, AS menggelontorkan hingga 500 juta dollar AS, sekitar Rp 7,7 triliun, untuk mendanai organisasi kesehatan itu.

Di sisi lain, presiden berusia 73 tahun itu menyebut Negeri “Panda” “hanya” menyumbang sekitar 40 juta dollar AS, atau Rp 621,3 miliar.

“Sebagai sponsor terbesar dalam organisasi ini, sudah selayaknya AS menuntut adanya pertanggungjawaban,” ujar Trump di Gedung Putih.

Pada Kamis (23/4/2020), Beijing kemudian menyatakan bakal menambah dana hingga 30 juta dollar AS, sekitar Rp 465,9 miliar, untuk memerangi Covid-19.

Jia Qingguo, Profesor Hubungan Internasional Universitas Peking menerangkan, hubungan dua negara sudah menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Wabah Covid-19, yang mulai merajalela di Wuhan pada akhir Desember 2019, membuat hubungan bilateral dua negara semakin menukik.

Jia menjelaskan, patogen dengan nama resmi SARS-ov-2 itu seharusnya menjadi kesempatan bagus bagi keduanya untuk bergandengan tangan.

“Tapi AS malah memilih untuk menyalahkan China, dengan China menggunakan alasan itu untuk semakin mengintensifkan konfrontasi,” jelasnya.

Jia memprediksi, jika Trump sampai terpilih lagi saat Pilpres AS November, konfrontasi dua negara bakal semakin meluas.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang memperingatkan AS agar “tak melawan komunitas internasional” dengan merendahkan WHO.

Para pemimpin G20 direncanakan untuk menggelar pertemuan secara tatap muka pada 21-22 November mendatang di Riyadh, Saudi.

 

 

Sumber : South Cina morning post

 

0Shares