ESENSINEWS.com – Karantina disebut sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran penyakit Covid-19, yang disebabkan oleh virus corona jenis SARS-CoV-2.

Karantina, baik wilayah maupun self quarantine yang dilakukan perorangan, telah dilakukan sejak lama. Dalam beberapa kasus, karantina dilakukan untuk mencegah penularan penyakit.

Praktik karantina seperti ini diketahui sudah ada sejak abad ke-14. Mengutip Science Alert, konsep karantina kali diperkenalkan di Eropa.

Wabah yang dikenal sebagai Black Death (1347) menewaskan sangat banyak orang di seluruh dunia. Dalam kurun waktu empat tahun saja, sekitar 40-50 juta orang meninggal di Eropa dan diperkirakan 75-200 juta orang meninggal di seluruh dunia.

Hingga akhirnya pada 1377, kota pesisir Ragusa (kini menjadi Dubrovnik, Kroasia) memberlakukan konsep trentina.

Trentina berasal dari bahasa Italia, yaitu trenta yang berarti 30. Pemerintah setempat meminta kapal-kapal yang bersandar di Kota Ragusa untuk tetap berada di dekat pelabuhan, tetapi tidak bersandar. Praktik ini dilakukan selama 30 hari.

Para awak kapal yang berada dalam kondisi sehat usai trentina akan diperbolehkan masuk ke dalam pelabuhan.

Dari 30 hari, pemerintah setempat memperpanjang waktu karantina menjadi 40 hari. Oleh karena itu, istilahnya berubah menjadi quaranta, yang berarti 40.

Konsep karantina pertama dilakukan di Kota Ragusa. Seiring berjalannya waktu, terdapat banyak variasi karantina. Bahkan karantina disalahgunakan untuk alasan politis dan ekonomi, yang mendesak organisasi internasional untuk membuat standardisasi karantina.

Berlanjut di Amerika

Dari Kota Ragusa, praktik karantina berlanjut di Amerika Serikat. Pada awal thun 1793, penyakit yellow fever mewabah di Philadelphia. Beberapa wabah lain menyusul, termasuk kolera. Hingga akhirnya pada 1892, Pemerintah AS menetapkan kebijakan karantina.

Kasus karantina paling terkenal di AS adalah kisah Mary Mallon, atau kerap disebut Typhoid Mary yang hidup pada abad ke-20. Mengutip situs resmi The Center of Disease and Prevention (CDC), ia adalah penderita tifus asimptomatik, tetapi menularkan penyakit tersebut kepada keluarganya.

Pemerintah setempat mengarantina Mary di North Brother Island, New York City. Setelah tiga tahun dikarantina, sebagai koki Mary berjanji tidak akan memasak untuk orang lain.

Namun, Mary kembali menularkan virus tersebut. Ia pun kembali dikarantina di North Brother Island, di mana ia menghabiskan sisa hidupnya mengisolasi diri.

Baru-baru ini yaitu pada 2007, petugas kesehatan AS mengarantina Andrew Speaker (31) yang mengidap tuberkulosis (TB). Tak sembarangan, TB yang diidap Speaker adalah tipe yang resisten terhadap obat.

Speaker dikarantina di sebuah rumah sakit di Denver. Selesai perawatan, Speaker harus melaporkan diri kepada petugas medis lima hari dalam seminggu selama beberapa tahun berikutnya.

Saat ini, karantina dilakukan untuk membatasi penyebaran penyakit. Beberapa negara diketahui melakukan karantina saat wabah Ebola, flu, dan SARS.

 

 

Sumber : Kompas.com

 

0Shares