Perang Melawan Kuman Menuju Shut Down Ekonomi Dunia

Oleh : Andika (Pemerhati Sosial)

Semua perang yang diinginkan adalah kreasi para ekonom untuk menggerakkan ekonomi baru. Sesungguhnya bukan seorang jenderal yang memenangkan perang melainkan kreasi cerdik para ekonom.

Perang menciptakan inovasi. Semua teknik lahir dari perang, mulai dari bom hingga komputerisasi.

Kasus Corona menunjukan ekonomi sudah stagnan. Kesimpulannya, Amerika dan Tiongkok sepakat shut Down untuk memulai nilai baru. Marx sudah selesai sampai pada puncak perang dagang.

Kapitalisme sekarang hanya ingin memulai baru. Sesungguhnya para ekonom kapitalis telah gagal seratus persen. Jika perang selalu menjadi jalan keluar krisis, Maka Corona ini bisa jadi hanya sebuah virus kesepakatan. Yang sesungguhnya tidak lebih menyeramkan dari sifat-sifat propaganda atasnya.

Dan terbukti, hanya beberapa bulan, inovasi berkembang besar di saat yang sama seluruh negara ramai-ramai mengunci diri dalam perangkap shut Down. Menggunakan satu istilah universal Lock Down.

Secara tiba-tiba Ekonomi dan aktivitas mobilisasi manusia di dunia berhenti sejenak. Melintasi jangkauan spiritualitas, pabrik, pemerintahan dan jasa perdagangan. Tanpa terkecuali, semua orang diminta pulang ke rumah masing-masing dengan satu agenda: menyelamatkan umat manusia dari ancaman kepunahan.

“Jika anda tidak masuk rumah maka dunia akan dikuasai Corona,”.

Apa yang menarik untuk disimak. Kalau Trump bilang, mari kita memulai permainan baru.

“Saya dan XI tahu persis dari mana virus ini berasal,” ujar Trump. Donald Trump saban hari menuding Virus ini buatan Tiongkok dengan mengolok-okolnya dengan nama Virus Wuhan. Sebagai tempat awal munculnya habitus kuman ini yang segera jadi wabah.

Semua propaganda serasi di seluruh dunia dengan tiga perintah di rumah Aja, jaga jarak dan hindari keramaian. Katanya, hal itu didasarkan pada pengalaman Tiongkok menangani masalah ini. Tidak ada yang bertanya, sampai kapan kita akan tidur dan makan tanpa bekerja?

Ada semacam kata perintah untuk berhenti melakukan transaksi. Sebaliknya, konsumsi rumah tangga harus meningkat. Selama 1 dekade terakhir, ekonomi dunia memang hanya ditopang oleh konsumsi publik.

Apa yang menarik dicermati lagi. Bahwa semua lembaran kesepakatan ditarik dan keuangan hilang total. Uang tidak lagi berguna sekarang karena dunia butuh istirahat.

Sayangnya, saat semua negara sudah memutuskan Lock Down, hanya Indonesia, India dan Italia yang membandel. Makanya, sasaran sorotan media berikutnya Indonesia dan Eropa. Corona menyerang industri tekstil dan Fashion dunia, Kota Milan dan Jakarta.

Apa yang ingin dicapai? Sesungguhnya adalah shut Down. Covid 19 bisa jadi sebuah kreasi ekonom yang berpadu dengan ahli propaganda. Menemukan nama aktivitas baru “perang melawan kuman”.

Kita tidak pernah tahu sebenarnya siapa yang meninggal? Dan siapa yang terpapar? Bisa jadi semua itu hanya sebuah omong kosong belaka.

Tapi ya, semua lembaga otoritas harus menerima ini sebagai cara terbaik untuk menyelamatkan kapitalisme dari kehancuran total di tengah Sosialisme Tiongkok tak bisa berbuat banyak. Fakta bahwa ekonomi dunia tidak pernah bergerak sedikit pun, menandai krisis berkecamuk dengan sangat panas.

Makanya Nouval Noah Harari bilang, dunia butuh agenda baru kemanusiaan. Semua jenis perang sudah dilalui, tidak ada lagi perang jenis baru yang dapat mengatasi krisis kapitalisme selain perang melawan khayalan (Kuman).

Perang imajinatif untuk memaksa manusia berhenti sejenak. Aktivis lingkungan memulai propagandanya dengan langit biru setelah seratus tahun gelap oleh polusi dan pencemaran di langit Tiongkok.

Burung-burung terbang di Mekah; Pencemaran turun dahsyat; Dan dunia kembali tersenyum. Itulah hikmah dari Corona, Sebuah kreasi ekonom yang sungguh luar biasa.

Mirip spiritualitas Hindu, pulanglah ke rumah dan berdiam diri, hindari ruang publik, banyak cuci tangan, jangan jabat tangan, maka anda akan menyelamatkan umat manusia dari ancaman kepunahan.

Jika itu benar, begitu dahsyatnya kreasi para ekonom ini. Jika kita membaca buku karya Alan Bollard, Economist At War (2019), kita akan segera mencurigai otak dari skenario ini antara dua orang ini: 1. Paul Krugman 2. Nouval Noah Harari.

Merekalah ekonom paling besar di dunia sekarang. Sama-sama peraih Nobel. Tapi Paul Krugman pencetus teori keunggulan kompetitif yang menyarangkan kembali ke Asia untuk menyelamat dunia. Reshaping geografi, menata ulang dunia dengan kembali pada penciptaan wilayah tumbuh baru akan merestorasi kapasitas kapitalisme. Jika mengikuti alur kronologis buku Alan, pasca Keynasian, hanya Paul Krugman satu-satunya ekonom yang benar-benar punya pikiran baru.

Memang tahun 2008, para ekonom di Jakarta sering membahas dia sebagai juru selamat baru kapitalisme. Dia sangat memuja Tiongkok dengan teori aglomerasinya. Sebaliknya selalu menghina kebodohan Trump yang mengambil kebijakan proteksionistis.

Sepertinya dia ingin menjauhkan Amerika dari keynesian baru. Intinya setelah perang Corona ini, ekonomi akan kembali ke Orientasi sipil tapi sudah dalam bentuk yang sama sekali baru.

Pertanyaannya, model transaksi, investasi publik dan regulasi macam apa yang perlu disiapkan pemerintah Indonesia? Maka dikte baru akan lahir setelah ini. Kita bisa lihat kelihaian Tiongkok lebih nyata ketimbang Amerika.

Tiongkok sudah mengirimkan semua peralatan perang melawan kuman beserta standar operasionalnya ke negara krisis. Sementara Amerika kebingungan. Nampaknya Tiongkok telah jadi pemenang dan Seluruh jurnalis Tiongkok di Amerika sudah di usir. Mimpi Krugman menjadi Asia Timur masa depan Kapitalisme sudah terwujud. Shanghai group pemenangnya.

Kayaknya itu pesan buku ini. Amerika hanya masa lalu. Dia mengobarkan perang melawan kuman tapi tidak bisa mengendalikan. Tiongkok lah pemenangnya.

Semua orang di muka bumi percaya bahwa Tiongkok sanggup melawan Corona. Apakah Corona itu benar atau tidak, hanya Tiongkok yang tahu.

Apakah dia sebuah kuman hasil pabrik atau hanya sebuah dramatisasi kolosal tanpa awak, hanya mereka yang tahu. Fakta bahwa Italia dan Indonesia banyak orang mati, itu soal lain.

Mereka bilang, Indonesia produksi virus korona jenis baru setelah muncul kasus baru di Tiongkok. Ini sungguh drama yang hebat.

Italia dan Tiongkok punya kedekatan. Karena mayoritas orang Tiongkok Katolik, terutama di Wilayah Wuhan dan Hongkong. Garis kerjasama propagandanya dekat sekali.

Faktanya semua bank dan lembaga keuangan diminta hentikan atau menunda transaksi. Artinya dunia sudah menuju shut Down.

Para politisi, aktivis, ekonom, dosen dan birokrat serta seluruh masyarakat harus mulai bisa menerima tatanan dunia baru yang poros Utama nya ada di Tiongkok.

0Shares

Read Previous

Sebelumnya Positif Covid-19, Akhirnya Guru Besar UGM Berpulang

Read Next

Rakyat Abaikan Social Distancing, Pemerintah Inggris Berlakukan Lockdown Selama 3 Minggu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *