Teriak Jatuhkan Jokowi dan Ahok, Aksi 212 Diduga Dicukongi Mafia Migas!

oleh

Aksi ini jelas-jelas inkonstitusional. Saya pun perduli setan dengan apa yang diucapkan Mahfud MD yang mengatakan bahwa aksi 212 itu baik untuk mengawal pemerintahan. Jujur saja, ini bukan lagi kebebasan berpendapat dan mengawal. Tapi ini adalah tindakan membabi buta dari seupil massa yang ada di Monas.

Ini adalah tindakan makar. Makar terhadap pemerintahan, yang ancaman maksimalnya adalah hukuman mati karena ingin menjatuhkan Joko Widodo bisa dengan berbagai cara. Menjatuhkan Jokowi itu bisa diinterpretasikan dengan banyak macam interpretasi.

Pertama, menjatuhkan Jokowi dari kursi presiden secara konotasi. Hal ini adalah salah di mata hukum dan UU. Karena pemerintahan Joko Widodo dipilih oleh rakyat. Jokowi adalah hasil pilihan pemilu yang dikerjakan secara demokratis.

Kemenangan angka 54 persen, artinya 8 persen di atas si pecundang Prabowo adalah hasil yang konstitusional dan mengikat selama 5 tahun. Artinya, untuk menjatuhkan Jokowi dari kursi presiden lewat orasi, adalah tindakan yang bisa dipidana. Melanggar hukum.

Kedua, menjatuhkan Jokowi bisa dilihat dengan cara menyengkat kakinya. Ini tidak sembarangan. Kalau bicara hanya “jatuhkan Jokowi”, ini adalah sebuah hal yang bisa dianggap secara fisik juga. Dari pandangan hukum, ini pun juga sudah masuk ke ranah pidana yang bisa membuat seseorang dipenjara.

Apalagi mengingat bahwa dulu sempat ada orang yang ingin menjatuhkan Jokowi dengan cara penggal kepalanya, dan orang itu sampai sekarang sedang menjalankan proses hukum, dan bisa dipidana seumur hidup, maksimal mati.

Ketiga, menjatuhkan Jokowi dengan cara mengadakan kekacauan di negara ini. Sudah beberapa kali kubu 212 dan para perusuh-perusuh lainnya menjalankan strategi ingin merusak Indonesia melalui kerusuhan Mei 2019.

Ini adalah tindakan yang bersalah di mata hukum. Saat Mei 2019, ada ratusan orang yang jadi tersangka karena terlibat kerusuhan. Apalagi ada mobil Ambulans Gerindra yang digunakan untuk mengangkut batu. Partai ini memang sepertinya ingin Jokowi jatuh dengan cara apapun.

Maka dari ketiga interpretasi ini, si pembicara di atas mobil komando itu, harus ditangkap. Kalau perlu Kapolri baru Idham Azis yang langsung turun. Setelah Idham Azis jadi Kapolri, saya belum melihat gerakannya. Gebrakannya minim. Apa jangan-jangan oratornya berani teriak jatuhkan Jokowi karena merasa Kapolri bukan lagi Tito Karnavian?

Selain menghajar Jokowi, orator juga menyerukan untuk menumbangkan Ahok yang ada di Pertamina. Memang betul-betul kita melihat bagaimana mereka begitu membabi buta, eh maksudnya mengonta buta menyerang manapun.

Uniknya, tema utama adalah tumbangkan rezim korup, tapi juga ingin tumbangkan Jokowi dan Ahok. Bukankah selama ini kedua orang ini justru sedang menumbangkan rezim korup? Saya mulai bingung dengan logika mereka. Atau jangan-jangan mereka tidak ada logikanya?

Saya melihat bagaimana Indonesia ini akan terus miskin jika ada seupil gerombolan berisik ini. Mereka melumpuhkan jalan-jalan protokol di daerah dekat Monas dan Istana. Apapun yang mereka kerjakan, tidak ada faedahnya untuk bangsa ini.

Otak mereka sepertinya tidak berfungsi dengan baik. Biasanya kalau ada candaan otak mereka mahal karena tidak pernah dipakai, saya malah tidak sarankan kalian untuk membeli otak mereka. Karena mereka tidak pernah memakai otak mereka, karena memang tidak berfungsi dengan baik.

Memang tipikal pendukung Prabowo dan Anies ini sudah benar-benar rusak otaknya. Otak reptil mereka begitu dieksploitasi oleh kebencian. Membenci dieksploitasi seperti orang lapar. Orang kalau lapar emosinya meletup-letup. Mereka harus diberi makan agar diam.

Maka dengan ini, bisnis nasi bungkus pun juga pasti jalan dengan baik. Beberapa duitnya mungkin dikorupsi. Jangan-jangan rezim korup itu adalah rezimnya para elit 212 yang dikasih berapa oleh investor, keluarin hanya seupil.

Saya jadi makin curiga, demo 212 itu disponsori oleh mafia Migas. Yang ditumbangkan Jokowi yang bubarkan Petral dan Ahok yang turunkan harga dan buka transparansi. Ini mah bukan murni agama, tapi murni bisnis! Unta gampang ditebak.

Begitulah unta-unta.

 

Penulis : Manuel Mewengkang                    Sumber : Seword

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *