Pemimpin yang Bodoh Lahir dari Tangan Pemilih yang Bodoh

Kata “bodoh” yang saya maksud dalam artikel saya kali ini bukan dalam artian kemampuan akademis seseorang yang minim sehingga disebut bodoh. Tidak. Bukan itu maksud saya. Kata bodoh yang saya maksudkan lebih mengacu pada orang yang selalu merasa paling benar sendiri, padahal hidupnya justru jauh dari yang namanya kebenaran. Manusia bebal. Itulah julukan yang paling tepat untuk mereka.

Fakta yang sebenar-benarnya terjadi justru diingkari. Kenyataan yang ada justru dibolak balik sesuka hati mereka sendiri. Tidak konsisten juga tak masalah, yang penting mereka suka. Tak becus kerja juga tak mengapa, yang penting seiman. Upsssss……. Jadi ketahuan dong siapa-siapa yang saya maksud dalam artikel ini. Wekekekeke……

Ya… Saya memang sedang membicarakan tentang Gubernur Terbodoh Sepanjang Sejarah bernama Anies Baswedan, yang lahir dari tangan pemilih-pemilih bodoh bernama JKT58.

Sejak dulu, setiap saya menulis artikel yang menunjukkan kebodohan Anies sekaligus membongkar kelicikan Anies, para pemuja Anies selalu marah tak pernah mau menerima kenyataan yang ada. Alasannya lucu-lucu mulai dari ngeles, ngablak padahal keliru, sampai kalap maki-maki jauh dari sikap manusia yang mengaku ber-Tuhan dan beragama.

Padahal sebetulnya sederhana saja. Data vs data. Fakta vs fakta. Tapi kenyataannya boro-boro kasih data, kuota saja harus mereka hemat sedemikian rupa demi bisa memaki, menghujat dan memfitnah. Itulah jurus andalan mereka.

Jadi, dari manusia-manusia bebal ini memang tak bisa kita harapkan mendapat data akurat. Gimana mau akurat datanya, kadang baru membaca judul saja mereka sudah langsung merasa pintar tahu segalanya. Padahal isi berita belum mereka baca dengan seksama selengkapnya. Manusia-manusia bebal sok pintar ini seringnya juga mengambil berita dari media abal-abal yang tak bisa dipertanggungkawabkan kebenarannya.

Saya bisa bercerita seperti ini karena mereka sering nongol terjaring saat saya share artikel-artikel saya di medsos. Lucu-lucu ngawurnya. Jadi kelihatan parah banget begonya, sebego junjungannya. Beberapa akan saya rangkumkan di sini untuk para pembaca Seword sekalian.

Pertama. Banjir memang sudah langganan terjadi di Jakarta.

Dengan dalih banjir sudah langganan terjadi di Jakarta, manusia-manusia bebal pemuja Anies Baswedan ini dengan sadar dan sengaja menutup mata hati dan jasmaninya tak mau berbesar hati mengakui jika Anies memang tak becus kerja.

Banjir memang langganan terjadi di Jakarta. Tapi sejak Anies jadi gubernur, banjir jadi makin parah terjadi tiap tahunnya terutama di tahun 2020 yang baru berjalan beberapa hari saja. Sementara di jaman Ahok, banjir memang masih ada. Ahok belum berhasil menyelesaikan masalah banjir secara 100% di Jakarta. Tapi Ahok sudah berhasil mengurangi banyak titik-titik banjir secara signifikan di Jakarta.

Article

Jadi intinya, manusia-manusia bebal ini sudah membuang gubernur pintar kerja dan menukarnya dengan gubernur tak becus kerja. Fakta inilah yang diabaikan, dilupakan, ditutupi bahkan disangkali oleh para manusia bebal pemuja Anies Baswedan.

Kedua. Kalap menanggapi judul berita di media yang menuliskan “Jokowi: Macet dan Banjir Lebih Mudah Diatasi jika Jadi Presiden”.

Entah mereka ini miskin kuota hingga tak mampu mengklik membuka dan membaca beritanya secara lengkap, atau bisa juga mereka memang tipikal manusia yang cuma suka baca judul doang saking PD nya sok pintar.

Dari cuma baca judul doang mereka langsung kalap sok pintar menghujat Jokowi yang mereka anggap ingkar janji. Jokowi sudah jadi presiden tapi tak mampu mengatasi banjir Jakarta. Begitulah kata para manusia bebal pembenci Jokowi.

Padahal, jika manusia-manusia bebal ini mau membaca berita selengkapnya, mereka pasti akan malu sendiri karena melewatkan bagian terpenting dari pernyataan Jokowi yang mengatakan jika ”seorang presiden akan mudah mengatur dan memerintahkan kepala daerah di kawasan Jabodetabek untuk bekerja sama.”

Itu artinya antara Presiden RI dan para pemimpin Jabodetabek harus sinergi saling bekerja sama bahu membahu dengan kompak mengatasi segala masalah, terutama masalah banjir yang sedang melanda saat ini.

Maksud Jokowi, idealnya para pemimpin daerah cekatan dan pintar kerja seperti Ahok. Sekarang ini masalahnya Gubernur DKI tak becus dan tak mau kerja macam Anies Baswedan. Menghambat malahan.

Akibatnya jadi runyam seperti sekarang. Siapapun presidennya pasti muntah darah tak mampu mengatasi masalah banjir dengan baik jika yang diajak kerja sama semprul dan dodol seperti Anies.

Basuki Hadimuljono selaku Menteri PUPR yang selama ini sudah memberi bukti kinerja dan prestasi cemerlang juga tak berdaya menghadapi kebodohan Anies yang cuma bisa merangkai kata.

Hal inilah yang tak mampu dicerna dengan baik oleh para pemuja Anies. Di mana ada kampret dan kadrun pembenci Jokowi, di situ pasti ada hujatan menagih janji Jokowi yang sudah jadi presiden tapi kenapa masih tetap ada banjir. Kan bego banget ini namanya. Wakakaka…..

Ketiga. Yang bukan warga Jakarta tak perlu ikutan komentar masalah banjir Jakarta.

Jujur saya ngakak di bagian ini. Penjelasan saya singkat saja. Cukup diwakili oleh dialog singkat di bawah ini.

“Tolong yang bukan orang Jakarta dan sekitarnya nggak usah ikutan ngebahas soal banjir Jakarta ya,” kata manusia-manusia bebal yang tinggal di pinggiran Jakarta dan sekitarnya, yang sedang kalap membahas bahkan ikutan demo soal Palestina dan Uighur yang letaknya nun jauh di sana.

Bagi yang ingin ngakak, waktu dan tempat saya persilakan. Ngoahahahaha……

Keempat. Jangan bawa-bawa agama. Bagiku agamaku, bagimu agamamu.

Lucu juga di bagian ini. Yang bawa-bawa agama juga siapa??? Kalau dianggap bawa-bawa agama itu akibat diri mereka sendiri yang merasa. Padahal di mata saya Islam sama sekali tidak diwakili oleh kampret dan kadrun. Islam itu rahmatan ‘lil alamin, sementara kampret dan kadrun itu mengerikan. Jadi, mereka sendirilah yang mendegradasi, mempermalukan bahkan menistakan agama mereka sendiri.

Saat manusia-manusia bebal ini mulai memaki orang-orang yang membahas banjir Jakarta. Singkat saja saya berikan foto cuitan Aa Gym pada mereka. Saat itu Aa Gym menuliskan “Innaallilahi. Jakarta banjir lagi. Semoga nanti ada pemimpin Jakarta yang rendah hati, tak ujub takabur merasa sudah banyak berbuat.”

Article

Mereka memaki kita nyinyir, berarti Aa Gym juga nyinyir dong. Mereka memaki kita bodoh, berarti Aa Gym juga bodoh dong. Semua sumpah serapah yang mereka tujukan buat kita akhirnya menimpa ulama mereka sendiri akibat tak mampu mengendalikan kebenciannya pada Ahok.

Lucu-lucu ya tingkah mereka. Saat kita menyampaikan kebenaran berdasarkan data dan fakta, manusia-manusia bebal ini justru tersinggung dan malah menyerang kita. Bawa-bawa agama pula. Ya sudah, ngakakin aja.

Sebagai penutup saya akan menuliskan beberapa kalimat bijak dari Imam Ali bin Abi Thalib. Pertama: “Kebodohan adalah asal dari semua keburukan.” Kedua: “Musibah terbesar adalah kebodohan.” Ketiga: “Janganlah menasehati orang yang bodoh karena dia akan membencimu. Nasehatilah orang yang berakal karena dia akan mencintaimu.”

Akhirnya saya jadi bisa menyadari kenapa Basuki Hadimuljono selaku Menteri PUPR tak mau meladeni ajakan Anies berdebat tentang banjir Jakarta. Pak Basuki sadar sepenuhnya jika waktunya akan jauh lebih berharga dipakai untuk kerja kerja kerja membangun negara, daripada meladeni orang bodoh dan bebal seperti Anies Baswedan.

Article

Oleh : Jemima Mulyandari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *