Ini Prediksi Sejumlah Pengamat Terkait Konstelasi Politik 2020

ESENSINEWS.com - Jumat/03/01/2020
Ini Prediksi Sejumlah Pengamat Terkait Konstelasi Politik 2020
 - ()

ESENSINEWS.com Para pengamat memprediksi kondisi politik nasional 2020 akan panas berbagai isu-isu, di antaranya skandal PT Jiwasraya. Selain itu, tahun ini diprediksi akan menjadi momentum perpecahan di dalam tubuh pemerintah Jokowi makin besar. Kemudian aksi buruh dan mahasiswa akan semakin membesar.

“Tahun 2020 akan menjadi momentum perpecahan di dalam tubuh pemerintah Jokowi makin besar. Apalagi banyak pihak yang berambisi menjadi Presiden pasca Jokowi seperti Puan Maharani, Sri Mulyani, Erick Thohir dan Prabowo Subianto,” kata Pengamat politik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin dikutip dari Harian Terbit, Rabu (2/1/2020).

Menurutnya, PBNU yang semula berada dibarisan penguasa mulai makin bergeser ke kelompok kritis pada penguasa. Yang dilakukan PBNU mirip  seperti menjelang berakhirnya Orde Lama (Orla) di pertengahan 1960-an atau mirip sikap kritis PBNU pada Orde Baru (Orba) pada 1970 an hingga 1985. PBNU ini akan mempetkuat barisan kelompok perubahan di Indonesia,” ujar Aminudin.

Gibran dan Bobby

Sementara itu, Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie mengatakan, tahun 2020 suasana politik nasional akan panas dengan isu-isu di antaranya skandal PT Jiwasraya. Oleh karena itu politik pengalihan isu masih akan dimainkan. Dan yang akan viral dan menjadi trending topic tak lain adalah Gibran yang maju di Pilwako Solo. Di atas kertas Gibran mempunyai potensi unggul. Alasannya, nama bapaknya sangat berpengaruh selain juga didukung partai raksasa PDIP. Sehingga akan sulit bagi pesaingnya untuk menaklukan.

“Jiwasraya akan terus digoreng lantaran ini isu politik nasional yang paling hot. Apalagi ada yang menuding dana Jiwasraya dipakai dalam ajang Pilpres 2019,” tandasnya.

Menurutnya, politik 2020 semakin menarik karena Gibran Rakabuming anak Jokowi akan berjibaku di Pilwako Solo dan Bobby Nasution menantu Jokowi juga akan mencoba peruntungan politik di Medan Sumatera Utara di tengah pilkada serentak di 270 daerah di tanah air. Selain itu sepak terjang partai baru Gelora yang pelopori Fahri Hamzah juga akan diuji publik.

“Koalisi di Pilpres bisa pecah di pilkada serentak. Jadi politik 2020 ini menjadi barometer politik 2024,” ujarnya.

“Selain itu di tahun 2020 juga ada nama-nama yang terlibat dalam konspirasi penggulingan mendiang presiden Gus Dur akan menguak. Buku kejatuhan Gus Dur baru beredar dan ini sedang di tunggu publik. Pasalnya banyak tokoh-tokoh penting yang terlibat dalam penggulingan Gus Dur,” ungkapnya.

Desentralisasi

Pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Jakarta, Silvanus Alvin mengatakan, politik 2020 akan terjadi desentralisasi, karena akan ada pelaksanaan pilkada di ratusan wilayah di Indonesia. Oleh karena itu masih ada hoaks yang bakal terjadi selama pilkada. Namun dampak hoaks tersebut  tidak akan terlalu signifikan bagi pusat karena hanya isu-isu lokal yang dimainkan.

“Secara nasional pada 2020, para elit di negara ini harus mempersiapkan Indonesia dan juga masyarakat menghadapi disrupsi. Jangan sampai malah sibuk memperkaya diri atau melanggengkan kekuasaan semata,” ujarnya.

Silvanus menilai, politik yang dikelola secara serampangan dapat mengakibatkan dampak negatif besar terhadap kedaulatan negara serta kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu pada tahun 2020 harus menjadi momentum untuk pendidikan politik yang lebih baik lagi. Sehingga di dalamnya harus ada konsep toleransi antar warga dari beragam latar belakang etnis, ras maupun budaya.

“Tentu kasus Jiwasraya harus dituntaskan. Jokowi harus memantau terus penyelesaian kasus Jiwasraya, jangan sampai kasus itu malah menguap begitu saja. Saya harapkan Jokowi jangan hanya fokus pada pemindahan ibukota saja,” paparnya.

Plt. Dirjen Politik dan Pemerintahan Umun yang juga Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Bahtiar memprediksi kondisi politik tahun 2020 akan sangat dinamis. Apalagi Indeks Demokrasi Indonesia memiliki tren terus naik dan di tahun 2020 akan ada perbaikan sistem politik dan pendidikan politik yang berjalan di masyarakat sehingga di tahun mendatang kondisi politik akan sangat dinamis. 

Bahtiar kembali menegaskan, tidak benar bila nantinya 2020 kondisi politik akan stagnan, justru akan sangat dinamis.

0Shares

Tinggalkan Komentar

Baca Informasi Berita Aktual Dari Sumber terpercaya