Penundaan Pembayaran Utang Dubai Guncang Keuangan Global

oleh

ESENSINEWS.com – Pengajuan penundaan pembayaran utang oleh pemerintah Dubai senilai USD59 miliar (Rp560 triliun) mengguncang industri keuangan global.

Ekonom meramalkan pengajuan penundaan untuk dua BUMN pemerintah Dubai ini, Dubai World dan Nakheel, berlanjut ke gagal bayar (default). Kekhawatiran yang lebih besar, pemulihan ekonomi global bisa terhambat. Sebenarnya, Dubai merencanakan agar dampak pengumuman bisa diminimalkan. Mereka mengumumkan penundaan pembayaran setelah pasar saham Dubai tutup menjelang libur panjang Idul Adha.

Di hari besar umat Islam, Dubai dan wilayah Teluk mengalami libur panjang hingga 6 Desember. Namun, kekhawatiran default utang Dubai lebih terasa. Pengumuman Dubai itu memberikan gelombang shock di pasar global kemarin. Masalah Dubai memicu naiknya risiko sehingga harga surat berharga tertekan dan investor mulai menolak masuk di obligasi pemerintah. Harga saham di Eropa dan Asia anjlok, sementara pasar Amerika Serikat (AS) terlindungi karena tutup liburan Thanksgiving Day.

Pada perdagangan kemarin, indeks saham dunia MSCI turun 1 persen. Harga komoditas turun, termasuk melemahnya harga minyak hingga 5 persen. Harga minyak di bursa London turun menjadi di bawah USD75 per barel. Pasar Eropa juga melemah. Hingga 11.44 GMT, Indeks FTSEurofirst 300 turun 0,2 persen menjadi 985,97. Saham energi, terutama terkait minyak, melemah 5 persen. Saham ENI, BP, Shell, dan Total turun pada kisaran 0,3-1,2 persen.

Di bursa Eropa, saham HSBC, Standard Chartered, Banco Santander, dan Lloyds Banking Group juga turun di kisaran 1,5-4,1 persen karena terkait Dubai. Pasar saham Asia turut anjlok kemarin. Indeks Nikkei 225 turun 3,2% menjadi 9081,52, terendah sejak Juli. Di Hong Kong, Indeks Hang Seng turun 4,8 persen atau 1.075 poin menjadi 21.134,5 yang dipimpin oleh saham perbankan.

Saham HSBC dan Standard Chartered di bursa Hong Kong melemah masing-masing 7,6 persen dan 8,6 persen. Kepala strategi ekuitas Saxo Bank Christian Blaabjerg mengatakan, pasar ketakutan terhadap dampak masalah Dubai. “Dubai menjadi contoh gelombang pertama negara yang rasio utang terhadap PDB-nya tidak seimbang mengalami kesulitan melunasi utang mereka,” kata Christian. Dia menambahkan, ketakutan lanjutan adalah adanya percepatan proses lebih jauh dari melonjaknya bunga selama 2010.

Untuk jangka pendek, dia berharap ini hanya ganjalan sesaat. “Ini benar-benar paranoid. Ini merupakan hal terakhir yang dibutuhkan pasar menjelang Natal. Ini tidak hanya utang Dubai. Investor berpikir, apakah ada lubang hitam lain dan dampaknya terhadap perusahaan global,” kata kepala penjualan MF Global Manus Cranny.

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin memaparkan, masalah utang di Dubai menunjukkan bahwa dunia akan mengalami kesulitan keluar dari krisis. “Keluar dari krisis tidak mudah dan fluktuasi masih mungkin terjadi. Masalah Dubai memberikan dampak pada ekonomi Rusia, pasar saham anjlok dan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) menguat atas rubel,” ujar Putin.

Agak sedikit berbeda, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyatakan, perekonomian dunia sudah cukup kuat untuk mengatasi masalah gagal bayar di Dubai. Dalam pandangannya, sistem finansial yang kuat akan bisa menahan timbulnya masalah keuangan yang baru. Pengumuman ini sangat mengejutkan dunia karena tidak mengira Dubai World sebagai simbol kemewahan Timur Tengah akan kesulitan membayar utang.

Uni Emirat Arab sebagai pemilik Dubai World adalah salah satu penghasil minyak terbesar di dunia. Dubai World adalah pemilik Burj of Dubai, menara tertinggi, termewah, dan tercanggih di dunia. BUMN Dubai ini juga pemilik Palm Islands di mana banyak orang kaya dunia tinggal di sana. Sebelumnya, saat dunia diterjang krisis keuangan global, Timur Tengah pernah menjadi andalan untuk bisa memimpin pemulihan.

Hal ini ditandai dengan kunjungan sejumlah pimpinan Eropa seperti Gordon Brown dan pimpinan Dana Moneter Internasional (IMF) ke negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, akhir tahun lalu. Mereka meminta kontribusi pendanaan di sejumlah lembaga keuangan dunia.

Perpanjang Jatuh Tempo

Dalam pernyataan resminya Rabu lalu (25/11/2009), Dubai berencana meminta semua lembaga yang membiayai Dubai World dan Nakheel agar memperpanjang jatuh tempo kewajiban setidaknya hingga 30 Mei 2010. Nakheel, pengembang Palm Islands dan anak usaha Dubai World, memiliki sukuk senilai 3,6 miliar dirham (USD980 juta) yang jatuh tempo 14 Desember. Pengembang Dubai World lainnya juga memiliki obligasi jatuh tempo 31 Maret 2010 dengan total nilai USD1,2 miliar.

Dubai menjelaskan keputusan penundaan pembayaran telah dikonsultasikan dengan Deloitte Consulting LLP. Dubai juga telah menunjuk Deloitte untuk membantu restrukturisasi utang Dubai World dan Nakheel. “Kami memahami kekhawatiran pasar dan khususnya para kreditor. Namun kami harus turun tangan karena perlu mengambil tindakan tegas untuk mengatasi beban utang (Dubai World),” kata Ketua Komite Fiskal Dubai Sheikh Ahmed bin Saeed al-Maktoum.

“Intervensi kami di Dubai World direncanakan dengan hati-hati dan mencerminkan posisi keuangan tertentu. Pemerintah yang menjadi ujung tombak restrukturisasi operasi komersial ini mengetahui bagaimana pasar akan bereaksi,” jelas Sheikh Ahmed. Total nilai kewajiban Dubai World per Agustus mencapai USD80 miliar. Dari kewajiban tersebut, Nakheel memberikan kontribusi 73,75 persen dari seluruh kewajiban Dubai World atau USD59 miliar.

Analis mengharapkan dukungan keuangan dari Abu Dhabi untuk mendukung Dubai tetap eksis.Namun, Dubai sepertinya harus meninggalkan model ekonomi yang sangat tergantung pada investasi real estat dan aliran modal asing. “Pengumuman ini sangat mengejutkan karena baru beberapa bulan lalu muncul berita yang mengatakan Dubai dipastikan bisa memenuhi kewajiban utangnya dan analis melihat Nakheel bisa melaksanakan komitmennya. Berita ini sempat menenteramkan investor,” ujar Kepala Asset Management SICO Investment Bank Shakeel Sarwar. Sehari setelah pengumuman penundaan pembayaran utang, Dubai berusaha meyakinkan bahwa restrukturisasi Dubai World, konglomerasi yang melakukan ekspansi besar, dan Nakheel, pengembang Palm Islands, tidak melibatkan DP World DPW DI, pengelola 49 pelabuhan di seluruh dunia.

“Seperti kebanyakan kota global, Dubai telah mengalami masa penuh tantangan di bidang ekonomi dan sosial saat pelemahan global ini. Tidak ada pasar yang kebal terhadap isu ekonomi,” kata Sheikh Ahmed. “Dukungan Abu Dhabi kepada Dubai sangat bagus, tapi dukungan ini tidak membuat Dubai memenuhi kewajibannya tepat waktu,” tutur Shakeel.

Sumber : Okezone

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *