Pelaku Teror di London Brigde Ini Sempat Bebas Sebelum Beraksi Lagi

by -5 views

ESENSINEWS.oxm – Usman Khan menjadi perhatian para penyelidik antiteror karena terlibat dalam kelompok Stoke-on-Trent yang berhubungan dengan jaringan radikal pimpinan Anjem Choudary.

Khan adalah pelaku serangan teror di London Bridge. Akibat penusukan yang dilakukannya, dua orang tewas dan tiga lainnya luka-luka.

Badan intelijen dalam negeri Inggris, MI5, dan Unit Penanggulangan Terorisme West Midlands pernah mendapat informasi tentang sembilan laki-laki dari London, Cardiff, dan Stoke yang berencana meledakkan gedung London Stock Exchange.

Usman Khan disebut satu dari sembilan orang tersebut. Namun permufakatan jahat itu dinilai disusun secara amatir.

Khan saat itu juga berencana menyusun pelatihan teror di Kashmir, bertajuk ‘madrassah’ yang secara terminologi berarti sekolah.

Lewat pelatihan itu, Khan ingin melatih generasi militan baru Inggris untuk bertempur di Kashmir atau membawa keahlian itu ke Inggris.

Khan dan delapam orang itu terbukti bersalah di pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara tahun 2012.

London
Image captionJack Merritt, satu dari dua korban tewas dalam serangan teror yang dilakukan Usman Khan di London Bridge.

Unit Penanggulangan Terorisme West Midlands dan MI5 tidak ragu bahwa Khan dan kawan-kawannya memang berbahaya, bahkan jika mereka tidak memiliki kemampuan teror apapun.

Keraguan juga dirasakan Alan Fraser Wilkie, hakim yang memimpin kasus ini, walau ia sempat menerima surat pernyataan dari Khan yang mengklaim telah mengundurkan diri dari kelompok radikal tersebut.

Keraguan yang dirasakan Wilkie terhadap sifat Khan didasarkan pada beragam pernyataan setelah penangakan dan selama pengawasan.

Hakim lantas menjatuhkan Khan hukuman penjara khusus yang dikenal sebagai Penjara untuk Perlindungan Publik (IPP).

Atas hukuman itu, artinya Khan akan dipenjara setidaknya selama delapan tahun. Ia tidak bisa dibebaskan kecuali dia meyakinkan Dewan Pembebasan bahwa dia bukan lagi ancaman.

Inggris
Image captionKepolisian dan badan telik sandi Inggris mengklaim terus mengawasi para pelaku teror, baik pada masa pemenjaraan dan setelah pembebasan bersyarat.

Beberapa anggota kelompok radikal yang lain menerima hukuman beragam, tergantung level bahaya mereka.

Pada paruh kedua masa hukuman, perilaku mereka akan dipantau selama menjalankan kerja sosial di masyarakat. Setelahnya, mereka tetap akan dipenjara untuk pemantauan tambahan.

Saat Khan mengajukan banding atas hukumannya, sejumlah hakim senior satu suara bahwa dia seharusnya diperlakukan dengan cara yang sama seperti kawan-kawan di jaringan terornya.

Police surveillance image
Image captionUsman Khan, dilingkari, bersama rekan-rekannya dalam potret pengawasan yang dirilis kepolisian tahun 2012.

Hukuman penjara demi perlindungan publik yang dijalani Khan belakangan diperpanjang, putusan yang mencerminkan level bahayanya. Hukuman itu sesuai dengan tuntuntan jaksa.

Artinya, Khan masih akan menghabiskan delapan tahun di penjara. Setelah itu, dia akan secara bebas bersyarat di tengah masa hukuman.

Khan dijadwalkan menghabiskan delapan tahun dalam pengawasan ketat. Jika perilakunya mencerminkan potensi dan risiko yang berkelanjutan, pengawasan terhadapnya dilanjutkan selama lima tahun berikutnya.

Jika melanggar ketentuan bebas bersyarat, Khan saat itu pula dapat dijebloskan lagi ke penjara.

Belakangan, program pemenjaraan demi perlindungan publik (IPP) dihapus. Sistem baru mengharuskan pelaku seperti Khan menjalani setidaknya dua pertiga hukuman sebelum pembebasan bersyarat.

Pengadilan Tinggi tidak bisa memaksakan hukuman itu pada Khan karena pelaku hanya dapat menerima hukuman yang ada pada saat kejahatan dilakukan.

Di sisi lain, Khan juga telah meminta untuk bergabung dengan program deradikalisasi. Oktober 2012, Khan disebut mengirim surat ke Departemen Dalam Negeri untuk menyediakan pendamping baginya.

Pengacara Khan, Vajahat Sharif, berkata kepada BBC bahwa kliennya berulang kali memintanya untuk membantu menemukan seseorang.

Sharif mengaku menginginkan pakar ideologi jihad yang sangat spesifik untuk bekerja dengan kliennya karena dia khawatir kebencian Khan terlanjur berakar dalam.

Usman Khan ingin menjalani deradikalisasi, kata pengacaranya.

Jadi, walaupun Khan mungkin telah menerima bantuan deradikalisasi, pengacaranya, berpikir itu tidak cukup.

Saat dibebaskan secara bersyarat, Khan harus melalui beragam aktivitas wajib di masyarakat, seperti yang umumnya diterapkan kepada para pelaku terorisme:

  • Khan harus mengenakan GPS agar gerakan spesifiknya dapat dipantau
  • Dia dikirim ke asrama jaminan di Staffordshire. Di sana, kedatangan dan kepergiannya diawasi
  • Khan dilarang berbicara dengan mantan rekannya, tapi informasi ini belum terkonfirmasi
  • Khan wajib mengambil bagian dalam program DPP yang digelar pemerintah Inggris untuk menghentikan dan melepaskan keterlibatan seseorang dalam kejahatan

DDP sekarang menjadi bagian penting dari strategi kontra-terorisme Inggris. Program ini melibatkan konseling khusus dan intervensi psikologis terhadap para narapidana terorisme yang meninggalkan penjara.

Lebih dari 100 orang menjalani program DPP selama Oktober 2016 dan September 2018. Saat ini telah tersedia anggaran untuk menampung hingga 230 terpidana terorisme per tahun.

Skema ini bertujuan mengatasi banyak pemicu yang membuat seseorang berbalik melawan masyarakat, dari krisis identitas, masalah harga diri kronis hingga keluhan pribadi dan pemahaman ideologi ekstremis.

Inggris
Image captionLondon Bridge beberapa saat setelah teror yang dilakukan Usman Khan.

Salah satu rekan Khan, yang dipenjara bersamanya pada 2012, adalah Mohibur Rahman.

Rahman menjalani kursus deradikalisasi di penjara, tetapi di sana dia juga bertemu dengan para ekstremis lain.

Rahman belakangan dibebaskan tapi kemudian dipenjara seumur hidup karena berperan dalam rencana serangan kendaraan dan pisau di Birmingham.

Mohibur Rahman and Tahir Aziz
Image captionMohibur Rahman (kiri) dipotret bersama terdakwa kasus terorisme lainnya, Tahir Aziz.

Akhir dari rencana teror itu adalah kemenangan besar bagi kepolisian Inggris dan MI5, tapi juga dua mantan tahanan terorisme lain yang tetap tidak mengubah pemikiran mere

Setiap unit penanggulangan terorisme regional di Inggris seharusnya memperhatikan aktivitas bekas narapidana terorisme yang mereka bebaskan.

Sebelum beraksi teror di London Bridge, Khan butuh izin polisi untuk berpergian ke London.

Sabtu kemarin Kepolisian Metropolitan London mengatakan, Khan, sejauh yang mereka ketahui, mematuhi semua persyaratan pembebasannya.

MI5 mungkin juga memantau Khan, karena turut berkewajiban mengawasi tahanan yang meninggalkan penjara. Meskipun terdapat suatu penilaian bahwa para bekas narapidana terorisme berisiko rendah karena butuh waktu bagi mereka untuk terlibat kembali.

Jadi isu terbesar saat ini adalah mengetahui dengan pasti bahwa para terpidana terorisme telah mengubah cara pandang mereka, termasuk setelah mereka menyesaikan program deradikalisasi.

Sumber : BBC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *