Pakar Ingatkan Potensi Gua Bawah Tanah, Terkait Pengerukan Sungai Danau Poso

by -4 views

ESENSINEWS.com – Pakar Geologi berharap rencana pengerukan dasar sungai danau Poso di Sulawesi Tengah sudah melalui proses studi kelayakan yang memadai untuk mengantisipasi keberadaan gua bawah tanah atau sinkhole.

Pengerukan tersebut bertujuan untuk melakukan penataan sungai demi meningkatkan debit air bagi kepentingan operasional dua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di wilayah itu.

Semburan air bercampur pasir terpancar kuat dari sebuah pipa yang tersambung dengan sebuah kapal keruk yang sedang mengeruk dasar sungai Poso pada Sabtu (2/11).

Pengerukan sungai danau Poso yang terletak di desa Petiro Dongi, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dilakukan untuk menambah kedalaman sungai agar menjamin ketersediaan pasokan air bagi operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso 1 dan PLTA Poso 2.

Aktifitas kapal pengeruk di Kawasan Kompo Dongi (kiri layar) seluas 35 hektar yang akan ditimbun menggunakan material hasil pengerukan dari sungai untuk dijadikan Taman Konservasi Dongi dan kawasan perlindungan burung dalam kegiatan Penataan Sungai Poso. (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Aktifitas kapal pengeruk di Kawasan Kompo Dongi (kiri layar) seluas 35 hektar yang akan ditimbun menggunakan material hasil pengerukan dari sungai untuk dijadikan Taman Konservasi Dongi dan kawasan perlindungan burung dalam kegiatan Penataan Sungai Poso. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Pengerukan itu dilakukan oleh PT. Poso Energy selaku pengelola PLTA Poso 1 dan PLTA Poso 2. Dengan menggunakan alat-alat berat yang didatangkan dari Jepang, China dan Peru itu, pengerukan dimulai dari outlet Danau Poso sepanjang 12,8 kilometer. Dalam dua tahun, kegiatan itu diperkirakan akan mengeruk 2,5 juta meter kubik material dari dasar sungai.

Sukmandaru Prihatmoko Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia berharap pengerukan sungai danau Poso itu sudah melalui proses studi kelayakan yang memadai. Hal itu penting untuk mendeteksi sejak awal kemungkinan adanya gua-gua bawah tanah atau sinkhole yang dapat menyebabkan aliran sungai danau Poso berpindah jalur masuk ke dalam gua bawah tanah tersebut.

Sukmandaru menjelaskan di sekitar daerah yang dikeruk itu ada formasi batuan gamping yang disebut istilah geologi sebagai formasi pompangeo dan puna. Keduanya formasi batuan memiliki sifat mudah larut.

“Jadi kemungkinan misalnya ada gua-gua bawah permukaan atau luweng kalau dalam istilah geologinya ada sinkhole. Nah, itu yang kita belum tahu,” kata Sukmandaru.

Bila memang ternyata ada gua di bawah tanah, pengerukan bisa membuka permukaan gua dan menyebabkan air masuk ke dalam gua, yang membuat aliran sungai berpindah jalur memasuki gua bawah tanah atau sinkhole tersebut sebelum muncul kembali ditempat lain pada bagian hilir sungai.

“Yah, tentunya airnya akan masuk ke situkan, kita tidak tahu tembusnya ke mana, harus ada studinya, karena sinkhole biasanya bolong begitu terus kemudian nyambung lagi entah di mana, di bagian hilir sana, sehingga air bisa pindah sebagian, mungkin pindah jalur memasuki sinkhole dan keluar lagi di bagian hilir dari sungai tersebut”jelas Sukmandaru.

Situs Cagar Budaya Gua Pamona di bagian barat danau Poso, desa Sangele, Kec.Pamona Puselemba. Goa ini disebut memiliki panjang hingga 200 meter dan kedalaman 80 meter yang berada di bawah permukaan danau Poso, 2 November 2019. (Foto : Yoanes Litha)
Situs Cagar Budaya Gua Pamona di bagian barat danau Poso, desa Sangele, Kec.Pamona Puselemba. Goa ini disebut memiliki panjang hingga 200 meter dan kedalaman 80 meter yang berada di bawah permukaan danau Poso, 2 November 2019. (Foto : Yoanes Litha)

Sukmandaru Prihatmoko menekankan penting untuk memastikan rencana pengerukan sungai danau Poso itu sudah di dahului dengan studi kelayakan yang memadai untuk mendeteksi keberadaan gua-gua bawah tanah tersebut. Dia bilang di sekitar sungai danau Poso diketahui terdapat sejumlah gua yang berada diatas permukaan bumi. Jadi, tidak menutup pada kemungkinan adanya gua-gua bawah permukaan.

Namun, dia mengakui tidak mengetahui apakah pihak perusahaan sudah melalukan studi kelayakan dulu sebelum melakukan pengerukan.

“Bisa dilakukan dulu, misalnya, survei dulu geo listrik. Atau survey geologi yang benar sehingga tahu kan di bawahnya ada gua bawah permukaan dan riskan untuk dikeruk,” ujar Sukmandaru.

Debit Air

Abdullah MT, Pengamat Kebencanaan Sulawesi Tengah dari Universitas Tadulako menilai rencana itu perlu memperhitungkan ketebalan sedimen di dasar sungai Poso, agar kegiatan pengerukan itu tidak justru membuat debit air sungai justru berkurang. Wilayah sungai Danau Poso yang merupakan wilayah gamping bisa berisiko bila dikeruk terlalu dalam, ujarnya.

“Risikonya itu karena kita tahu batu gamping itu berpori dan porinya itu begitu besar dan air bisa masuk ke situ. Sehingga air yang muncul dipermukaan yang sungai Poso yang bermuara sampai di teluk Tomini itu bisa kecil,” kata Abdullah.

Bila debit air kecil akan menyebabkan target penambahan debit air untuk menjaga ketersediaan air kebutuhan operasional PLTA Poso Satu dan Dua tidak akan tercapai. Selain untuk membangkitkan energi listrik, sungai sepanjang 487 km dari danau Poso Poso yang bermuara di teluk Tomini itu juga dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber air bersih, maupun untuk mengaliri areal persawahan.

Pagar Wayamasapi di aliran sungai Danau Poso yang jernih di desa Petiro Dongi, salah satu tradisi lokal masyarakat setempat menangkap ikan Sidat, 2 November 2019. (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Pagar Wayamasapi di aliran sungai Danau Poso yang jernih di desa Petiro Dongi, salah satu tradisi lokal masyarakat setempat menangkap ikan Sidat, 2 November 2019. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Aslori, Humas PT Poso Energi, mengkonfirmasi bahwa pihaknya sudah melakukan studi kelayakan Poso river improvement atau penataan sungai danau Poso. Studi yang dilaksanakan sejak akhir 2017 hingga September 2018 mencakup studi hidrologi, geologi dan geoteknik.

Dia mengatakan hasil kajian itu disidangkan langsung di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR. Studi itu juga melibatkan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III dan instansi terkait lainnya.

“Yang mengkaji bukan dari kami saja, ada BWS wilayah tiga kami sertakan juga,” kata Aslori

Menurut Aslori studi geologi sudah melakukan pemetaan sepanjang sungai yang disertai dengan delapan belas titik pengeboran investigasi.

Berdasarkan dokumen analisis dampak lingkungan hidup Rencana Kegiatan Penataan Sungai Poso di Kecamatan Pamona Utara dan Kecamatan Puselemba per 18 Februari 2019 menyebutkan kegiatan pengerukan dasar sungai Poso itu diperlukan untuk menjaga ketersediaan air untuk membangkitkan listrik pada kebutuhan beban puncak PLTA Poso Poso Dua dan PLTA Poso Satu.

Aslori menjelaskan pihaknya sedang dalam masa persiapan untuk operasional pembangkit listrik PLTA Poso Satu berkapasitas 130 megawatts (MW). Dua turbin kapasitas 60 MW direncanakan sudah beroperasi pada tahun ini. Pembangkit baru itu akan melengkapi PLTA Poso Dua yang sudah beroperasi sejak 2012 dengan kapasitas pembangkitan 195 MW. Selain itu di PLTA Poso Dua juga akan dilakukan penambahan empat turbin baru dengan kapasitas pembangkitan 200 MW. Sehingga total kapasitas maksimal dari PLTA Poso Satu dan PLTA Dua mencapai 515 MW.

Kegiatan pengerukan juga ditolak oleh sejumlah kalangan.

Yombu Wuri dari Aliansi Penjaga Danau Poso kepada VOA menegaskan tetap menolak kegiatan itu karena dikhawatirkan akan mengancam sumber nafkah para nelayan yang menangkap ikan secara tradisional.

“Sebenarnya hal yang paling prinsip ini adalah menyangkut kehidupan masyarakat disini. Kenapa kepentingan perusahaan itu menjadi semakin penting untuk daerah kami,” kata Yombu. 

Sumber : VOAIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *