Memprihatinkan Nasib Rio Kundimang Juara Tinju WBC dan IBF

by -14 views

ESENSINEWS.com – Pukulan hook, uppercut, dan straight bertubi-tubi ‘dilepaskan’ Rio Kundimang ke bagian kepala dan wajah lawannya, Ryan Sermona. Wasit pun harus menghentikan pertandingan dan memberikan kemenangan Technical Knock Out (TKO) untuk Rivo dalam perebutan sabuk juara IBF Pan Pacific kelas Super Light 63,5 Kg, Sabtu (6/4/).

Kemenangan ini melengkapi sabuk juara WBC Asia Youth yang sudah diraih oleh petinju asal Kota Manado, Sulawesi Utara, itu. Bagi petinju yang lahir pada 1 November 1997 itu, sabuk juara IBF merupakan hasil yang baik, ditambah dengan rekor pertandingan 9 kali menang dan sekali draw. Rivo memang layak digadang menjadi The New Chris John kala itu.

Namun, harapan tinggi ini, tak sesuai ekspektasi. Ketidakpastian nasib hingga honor yang diterimanya, membuat dirinya memilih untuk balik ke kampung halamannya di Kota Manado dan menjadi buruh bangunan. Ia harus tetap bisa menyambung kehidupannya yang kini telah berumah tangga.

Momen saat petinju muda berbakat Rivo Kundimang dinyatakan sebagai pemenang saat bertanding di atas ring (Foto: Istimewa)

Ditemui di tempat kerjanya di Kota Manado, Sabtu (28/7), Rivo mengatakan alasan dirinya menjadi buruh bangunan karena harus memenuhi kebutuhan keluarganya, setelah tidak ada apresiasi sebagai petinju profesional.

Rivo mengaku memilih jalan berat meninggalkan sementara impiannya untuk membawa nama harum Indonesia seperti petinju idolanya, Chris John. Ia mengaku selama ini tidak memiliki penghasilan layak yang rutin, dan mendapatkan perlakuan yang kurang baik selama mengejar cita-citanya tersebut.

Diceritakan Rivo, selama di Jakarta, dirinya tinggal di sebuah ruangan berukuran 2×1,5 meter, yang ada di bawah tangga sebuah ruko. Soal uang makan, ia diberikan Rp 350 ribu per pekan atau Rp 50 ribu untuk per hari.

Rivo Kundimang usai meraih gelar juara IBF Pan Pacific kelas Super Light 63,5 Kg (Foto: Istimewa)

“Tapi uang makannya itu banyak tersendatnya alias jarang ada dan juga sering kurang. Saya harus benar-benar mengirit. Dan sering kali saya berhutang, dengan jaminan jika saya bertanding saya akan bayar utang tersebut,” kata Rivo.

Selama uang makannya tersendat, Rivo memilih makan kacang goreng, rempeyek, dan kopi untuk mengganjal perutnya. Menu ini disantap agar bisa mengirit karena uang yang diterimanya sangat sedikit. Tak jarang, Rivo malah meminjam uang kepada pembantu di ruko tempatnya tinggal.

“Jika ingat itu, memang sangat mengecewakan. Pernah karena gizi kurang, saya drop saat latihan dan harus dibawa ke rumah sakit oleh pelatih. Padahal, pertandingan perebutan sabuk tidak lama lagi. Pelatih juga pernah bilang, sulit menggenjot latihan karena kondisi fisik saya,” kata Rivo.

Rivo juga menilai bayarannya tidak sesuai ekspektasi saat berhasil menggondol juara WBC maupun IBF Pan Pacific. Menurutnya, dia dibayar sebesar Rp 12 juta untuk masing-masing pertandingan.

Rivo Kundimang pemegang sabuk juara IBF Pan Pacific kelas Super Light 63,5 Kg berada di sasana tempatnya berlatih (Foto: Istimewa)

“Tapi untuk uang hasil pertandingan waktu jadi juara sabuk WBC, dibayarnya cicil dan hingga kini masih ada sekitaran Rp 5 jutaan yang belum terbayar,” kata Rivo. Ia mengaku uang hasil bertanding tersebut langsung digunakan untuk membayar utangnya.

Setelah menjadi juara IBF Super Light Pan Pacific, lanjut Rivo, pihak sponsor berjanji akan memberikan apresiasi berupa sepeda motor untuknya. Sayangnya, hingga saat ini motor tersebut tidak pernah diberikan.

“Padahal, waktu itu dibikinkan acara apresiasi dan disiarkan di televisi. Saya menerima kunci motor simbolis,” tutur suami dari Widya Renyaan itu.

Menurut Rivo, keputusannya untuk pulang ke Manado dan menjadi buruh bangunan adalah hal terberat. Namun, mengingat dirinya sudah berkeluarga, dia tidak ingin mengecewakan istrinya dengan tak memberikan nafkah sebagai seorang suami, jika terus bertahan dengan ketidakjelasan nasib.

“Tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini. Saya hanya berharap ada perhatian yang diberikan untuk kami para atlet, bukan saya saja. Kami ini kan juga bertanding untuk nama negara dan juga daerah,” kata Rivo.

Rivo mengaku, walaupun bekerja sebagai buruh bangunan, dirinya masih berlatih sendiri. Menurutnya, sudah ada beberapa pihak yang menghubunginya untuk menjadi promotor pertandingan selanjutnya di beberapa daerah.

“Terus terang, sampai saat ini, saya terus bercita-cita untuk bisa mengikuti jejak idola saya Chris John, untuk membawa nama harum Indonesia dengan menjadi juara dunia. Saya ingin menunjukkan, Indonesia masih bisa berprestasi di tinju internasional,” pungkas Rivo.

Sumber : Kumparan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *