Esensinews.com – Tingginya harga tiket pesawat tak kunjung turun sejak Januari 2019 yang lalu berdampak pada penurunan jumlah penumpang, khususnya pada arus mudik lebaran 1440H/2019 mengalami penurunan siginifikan sebesar 30,4 persen.

Tahun 2018 jumlah penumpang sebesar 4.219.786, sedangkan tahun 2019 sebesar 2.862.183 penumpang. Mengenai hal tersebut harga tiket melambung tinggi, Ekonom Rizal Ramli menyoroti penyebab tingginya harga tiket.

Menurutnya, dengan adanya pembelian pesawat yang terlalu banyak, seperti Garuda membeli Bombardir yang justru tidak dipakai. Begitu juga dengan Grup Lion yang membeli pesawat sebanyak 400 unit.

“Inilah yang menyebabkan capital cost terlalu tinggi, sehingga mereka pihak maskapai perlu dorong harga yang terlalu berlebihan, pada tahun 2017 tarifnya belum naik, memang waktu itu terlalu rendah, kalau naik 10-30 persen buat saya masih masuk akal, tapi ini kan naiknya hampir 100 persen dari tahun 2017,” ujar mantan Menko Bidang Kemaritiman Kabinet Kerja ini saat dimintai tanggapannya melalui pesan singkat Whatsapp di Jakarta, Kamis (13/6/2019).

Selain itu RR begitu dikenal dengan inisialnya menyampaikan, bahwa setidaknya ada beberapa solusi untuk menurunkan harga tiket pesawat, yang pertama menurut dia, kedua maskapai dalam negeri harus diaudit, “kita dorong ownershipnya untuk restructure supaya sustainable itu kami lakukan pada tahun 2000, saat itu Garuda tidak mampu bayar creditnya mencapai 1,8 Miliar USD,” ungkap Rizal.

Hari ini lanjut dia, tidak bisa sekedar Menteri Perhubungan, karena jika mau restructure harus seluruhnya kabinet bantu restructure sustainable. “Kedua memang harga Avtur itu kemahalan, udah turunin aja supaya kompetitif, toh volume penerbangan di Indonesia volume pembelian Avtur sudah tinggi, untung dari volumnya, bukan dari premium price,” kata mantan Menteri Koordinator Perekonomian jaman Presiden Abdul Rahman Wahid ini.

Selanjutnya yang ketiga ia menuturkan, pada tahun 2016 menurunkan semua tarif sparepart sama komponen, “tapi cuma yang direct untuk maintanance pesawat, tapi ada juga komponen in direct yang barangkali bisa di turunkan tarifnya,” sambung Rizal.

Lebih lanjut ia membeberkan, berkaitan dengan scheduling yang menurut Rizal masih belum optimal, “Misalnya dari Ambon ke Manado, kita harus ke Makassar dulu,” Sambungnya, Meski ada scheduling yang jauh lebih efisien jauh lebih efektif, dan esensinya sederhana bisnis apapun kalau internalnya rate operationnya 11 persen itu bagus, tinggal pemerintah tentukan 11 persen, baru ditarik kebelakang.

“Tapi harus canggih sedikit pemerintahnya, kalau gak canggih ya gak bisa ngitungnya. Masalah harga tiket pesawat ini bisa diselesaikan dalam waktu tiga bulan, kalau canggih, kalau gak ya debat kusir terus. Masih banyak cara untuk menyelesaikannya,” tegasnya.

Ia menambahkan, permasalahan ini juga berdampak kepada pariwisata dampak pada ekonomi akan besar,” tutup ekonom yang dekat dengan para aktivis pergerakan ini.

0Shares