Google Putuskan Kerjasama dengan Huawei

oleh

Eeensinews.com – Huawei memang tidak ditinggal secara total oleh Android. Telepon pintar versi open source, tanpa dukungan Google, dapat digunakan Huawei. “Komunitas Android, bagaimanapun, tidak memiliki basis legal pelarangan penggunaan Android oleh perusahaan manapun, termasuk Huawei,” kata pemimpin Huawei Eric Xu.

Ia juga menegaskan bahwa Android adalah properti open source. Sayangnya, Android dikendalikan oleh Google. Jika ngotot menggunakan Android, Huawei sukar memperoleh pembaruan, juga berbagai layanan “pre-installed” dari Google yang menjadi kekuatan.

Mau tak mau, Huawei harus menggunakan cara lain atau “Plan B” agar bertahan dalam belantika bisnis ponsel dunia. Plan B itu ialah menciptakan sistem operasi mobile-nya sendiri. Bisakah? Sistem Operasi Huawei: Wacana dan Wacana Jauh sebelum Google memutus kerjasama, Huawei dikabarkan tengah mengembangkan sistem operasi mobile-nya sendiri.

Pada Mei 2015, sistem operasi yang dikembangkan itu konon dinamai Kirin OS, senada dengan nama System-on-Chip buatan mereka, “Kirin”. Kala itu, kabar beredar bahwa pembuatan sistem operasi sendiri ditujukan untuk “mengurangi candu pada Android.” Namun, hingga setahun berselang, tidak ada tanda-tanda kemunculan Kirin OS.

Pada Juni 2016, kabar soal sistem operasi itu muncul kembali, tapi dengan menanggalkan penamaan Kirin OS. Saat itu, Huawei dikabarkan tengah merancangnya di sebuah negara Skandinavia yang diisi teknisi-teknisi eks-Nokia. Nokia, mantan raja ponsel dunia, memang berpengalaman soal OS.

Tercatat, merekalah pemilik Symbian, raja yang digusur Android. Dan mirip dengan alasan pertama, penciptaan sistem operasi sendiri dikerjakan sebagai antisipasi “tatkala hubungan dengan Google memanas”. Terakhir, dua bulan sebelum Google bersikap tegas pada Huawei, kabar soal sistem operasi ciptaan Huawei mengemuka kembali.

Sayangnya, tidak ada rincian apapun soal sistem Huawei tersebut. Richard Yu, Pemimpin Divisi Consumer Huawei, hanya menegaskan kembali bahwa penciptaan sistem operasi merupakan Plan B bagi perusahaannya. Plan A, atau pilihan utama, “tetap bekerja dengan ekosistem yang telah dikembangkan Google dan juga Microsoft.” : Huawei dan Tudingan Spionase yang Mengancam Sayangnya, bukan sistem operasi buat ponsel yang muncul, tapi malah LiteOS, sistem operasi bagi Internet-of-Things (IoT) seperti jam tangan pintar atau perangkat-perangkat sejenis. Karena keterbatasan kemampuan perangkat, LiteOS didesain ramping dan mungil. Kernel atau inti sistem operasi ini hanya sebesar 10 kilobyte. Jauh dari yang dibutuhkan ponsel, dengan segala fiturnya, untuk bekerja.

Tercatat, kabar soal sistem ala Huawei sudah beredar sejak 2012. Sayangnya, hingga Google memutus kerjasama atas aturan yang diteken Trump, sistem operasi Huawei sebagai kenyataan masih dipertanyakan. Menciptakan sistem operasi bukan semata menulis baris-berbaris kode.

Android kini didaulat sebagai sistem operasi publik paling populer di dunia. iOS, si pesaing, tidak bisa disebut publik. Ia hanya menjadi sistem operasi eksklusif Apple.

Tidak yang lain. Di ranah publik, ada Windows Phone, Ubuntu Touch, Tizen, hingga Firefox OS. Sial, semuanya kalah oleh Android. Mengapa? Ada dua kunci keunggulan Android dibandingkan pesaingnya: aliansi dan aplikasi. Si Robot Hijau di Pundak (Banyak) Raksasa “Kami tidak menciptakan GPhone (Google Phone). Kami hanya membuat 1.000 orang bisa menciptakan GPhone-nya sendiri,” kata Andy Rubin, pencipta Android, pada 2007 silam kepada The New York Times.

Android merupakan penantang iOS, yang lebih dahulu hadir. Namun, alih-alih termaktub eksklusif dalam ponsel Google, Android bisa digunakan pada perangkat apa pun. “Sistem operasi ini bisa dijalankan pada perangkat berlayar kecil, lebar, ber-keyboard QWERTY, non QWERTY, berkonsep slider ataupun tidak. Pokoknya, semuanya bisa,” tegas Rubin kemudian. Sistem operasi yang segala bisa memang sukar diciptakan Google sendiri.

Untuk mendukung sistem operasinya sukses, Google lalu menciptakan aliansi bernama Open Handset Alliance. Ia adalah aliansi berisi perusahaan-perusahaan teknologi top dunia, seperti Broadcom, Intel, Qualcomm, Texas Instruments, HTC, LG, Motorola, hingga Samsung yang bertujuan satu: mau mendukung dan memakai Android.

Jelas, dukungan yang diberikan perusahaan-perusahaan teknologi dunia itu bukan tanpa syarat. Kondisi paling utama ialah perusahaan-perusahaan itu bisa menentukan cita-rasa Androidnya sendiri. “Ketika Anda membiarkan suatu produk terbuka, biarlah industri yang memutuskan bagaimana produk itu bekerja,” urai Rubin.

Maka, Android-pun menyebar dengan cepatnya. Ponsel pintar, yang dahulu identik berharga mahal, sebagaimana diwartakan The New York Times, bisa ditekan untuk dijual kurang dari $200. Lambat laun, ekosistem Android pun tumbuh. Hingga Maret 2019, terdapat 2,6 juta aplikasi berbasis Android yang tersedia di Play Store, mengalahkan ekosistem iOS yang hanya memiliki 1,8 juta aplikasi.

Ketersediaan aplikasi yang melimpah membuat sistem-sistem operasi baru yang muncul sukar berkembang. Pengguna ponsel akan sukar berinteraksi dengan perangkatnya akibat masih sedikitnya ketersediaan aplikasi. Ini membuat Android (dan iOS) berada di atas angin. Akhirnya, selepas 10 tahun berlalu sejak kelahirannya, Android jadi sistem operasi mobile paling berjaya di dunia. Hingga April 2019, robot hijau memegang kendali 74,85 persen pangsa pasar sistem operasi mobile. Dalam konferensi Google I/O 2019, terdapat 2,5 miliar perangkat berbasis Android aktif hari ini. Dengan 7,5 miliar manusia yang kini tercatat tinggal di bumi, artinya Android digenggam oleh sepertiga populasi manusia. 

Sumber : Tirto.id

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *