Strategi Perang Udara ala TKN

by -3 views

Esensinews.com – Arya Sinulingga, direktur media dan media sosial Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, menunjukkan angka elektabilitas dua kandidat capres lewat ponselnya. “Lihat,” katanya, “kami unggul secara nasional. Enam puluh persen.” 

“Kami punya big data untuk mengetahui apa yang bisa jadi pembahasan buat besok. Apa yang sedang ramai dan sebagainya,” katanya, yang memantau perbincangan politik di linimasa media sosial hari per hari lewat beragam tools aplikasi. 

Arya adalah Direktur Pemberitaan MNC, media mogul milik Hary Tanoesoedibjo yang mendirikan Partai Perindo, salah satu partai pendukung Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019. Tugas Arya ditemani Fiki Satari yang mengelola konten kampanye digital, serta Usman Kansong, Direktur Pemberitaan Media Indonesia dari lingkaran Surya Paloh yang mendirikan Partai NasDem.

Perhitungan Arya tak keliru-keliru amat jika dibandingkan dengan hasil analisis Drone Emprit. Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, memaparkan bahwa sejak debat pertama (17 Januari) hingga sesudah debat kedua (17 Februari), kubu Jokowi-Ma’ruf memegang dominasi dalam perbincangan di Twitter (2,69 juta retweet) ketimbang kubu Prabowo-Sandiaga (2,4 juta retweet).

Hanya saja, dari analisis jejaring sosial (SNA) Drone Emprit, perbincangan dengan sentimen positif pada Jokowi menyebar ke sejumlah klaster alias tidak terpusat, pola yang terlihat sejak debat pertama. 

Pada klaster utama, terlihat pola tak beraturan yang mengindikasikan interaksi pengguna asli atau organik. Ia kemudian bercabang menjadi beberapa klaster kecil dengan pola rapi dan teratur. Fahmi melihat di sinilah akun-akun bot mulai bekerja.
Klaster-klaster kecil ini, dari hasil pengamatan Drone Emprit, muncul secara masif pada pukul 20.00 atau saat debat dimulai hingga pukul 21.15. Klaster yang bercabang masih saling terhubung. Hanya satu klaster yang terpisah, yakni klaster yang didominasi oleh akun Partai NasDem.

Menurut Fahmi, hal itu terjadi lantaran kubu Jokowi bermain dengan tagar masing-masing. 

Arya Sinulingga tak menampik hal tersebut, tapi ia tak setuju jika beberapa klaster percakapan yang terbagi itu mencerminkan tdak kompaknya pendukung kandidat 01. 

Menurutnya, hal itu adalah strategi untuk memecah narasi demi mengatrol elektabilitas Jokowi-Ma’ruf. Ia juga menolak kubunya disebut memakai bot.

“Kalau pakai bot pasti satu komando saja. Justru yang hanya satu klaster yang banyak akun botnya,” kata Arya.

Soal kelompok yang terpecah di kubu Jokowi sebenarnya pernah diakui Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf  Abdul Kadir Karding, Arya Sinulingga direktur media dan media sosial Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, menunjukkan angka elektabilitas dua kandidat capres lewat ponselnya. “Lihat,” katanya, “kami unggul secara nasional. Enam puluh persen.” 

“Kami punya big data untuk mengetahui apa yang bisa jadi pembahasan buat besok. Apa yang sedang ramai dan sebagainya,” katanya, yang memantau perbincangan politik di linimasa media sosial hari per hari lewat beragam tools aplikasi. 

Arya adalah Direktur Pemberitaan MNC, media mogul milik Hary Tanoesoedibjo yang mendirikan Partai Perindo, salah satu partai pendukung Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019. Tugas Arya ditemani Fiki Satari yang mengelola konten kampanye digital, serta Usman Kansong, Direktur Pemberitaan Media Indonesia dari lingkaran Surya Paloh yang mendirikan Partai NasDem.

Perhitungan Arya tak keliru-keliru amat jika dibandingkan dengan hasil analisis Drone Emprit. Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, memaparkan bahwa sejak debat pertama (17 Januari) hingga sesudah debat kedua (17 Februari), kubu Jokowi-Ma’ruf memegang dominasi dalam perbincangan di Twitter (2,69 juta retweet) ketimbang kubu Prabowo-Sandiaga (2,4 juta retweet).

Hanya saja, dari analisis jejaring sosial (SNA) Drone Emprit, perbincangan dengan sentimen positif pada Jokowi menyebar ke sejumlah klaster alias tidak terpusat, pola yang terlihat sejak debat pertama. 

Pada klaster utama, terlihat pola tak beraturan yang mengindikasikan interaksi pengguna asli atau organik. Ia kemudian bercabang menjadi beberapa klaster kecil dengan pola rapi dan teratur. Fahmi melihat di sinilah akun-akun bot mulai bekerja.
Klaster-klaster kecil ini, dari hasil pengamatan Drone Emprit, muncul secara masif pada pukul 20.00 atau saat debat dimulai hingga pukul 21.15. Klaster yang bercabang masih saling terhubung. Hanya satu klaster yang terpisah, yakni klaster yang didominasi oleh akun Partai NasDem.

Menurut Fahmi, hal itu terjadi lantaran kubu Jokowi bermain dengan tagar masing-masing. 

Baca juga:

Arya Sinulingga tak menampik hal tersebut, tapi ia tak setuju jika beberapa klaster percakapan yang terbagi itu mencerminkan tdak kompaknya pendukung kandidat 01. 

Menurutnya, hal itu adalah strategi untuk memecah narasi demi mengatrol elektabilitas Jokowi-Ma’ruf. Ia juga menolak kubunya disebut memakai bot.

“Kalau pakai bot pasti satu komando saja. Justru yang hanya satu klaster yang banyak akun botnya,” kata Arya.

Soal kelompok yang terpecah di kubu Jokowi sebenarnya pernah diakui Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Abdul Kadir Karding. Pada satu kesempatan  wawancara, 17 Desember lalu, ia berkata kelemahan tim kampanye digital paslon 01 selama ini belum terjalin apik.  

“Itu dulu saat awal kampanye. Kami langsung menyadarinya dan segera dibenahi. Sekarang sudah rapi. Pengelolaannya sudah baik. Buktinya kami unggul terus,” ujar Karding saat dikonfirmasi kembali via telepon, kemarin.

Baca juga:

Konten Rapi tapi Susah Viral

Konten digital kubu Jokowi cenderung lebih rapi dan sistematis. Mereka banyak memproduksi meme, infografik, dan video, menampilkan konten visi misi serta pencapaian pemerintahan Jokowi-Kalla.

“Kubu 01 diuntungkan dengan statusnya jadi petahana. Mereka sudah punya agenda yang rapi,” kata Fahmi.

Arya Sinulingga mengungkapkan mereka punya agenda harian untuk mengeluarkan isu. “Koordinasi pasti ada. Rapat dan percakapan di grup WA. Melihat situasi dan momen tertentu. Misalnya, saat debat atau pasca debat,” katanya. Ia enggan menyebut total kekuatan pasukan siber Jokowi-Ma’ruf.

Arya mengakui pasukan digital Jokowi-Ma’ruf tak banyak bermain menguatkan interaksi di media sosial. Pernyataan ini merespons hasil analisis Drone Emprit yang memperlihatkan angka interaksi kubu Prabowo-Sandiaga pada periode Desember 2018 lebih tinggi, yakni 6,30 dari 177 ribu akun; sementara di kubu Jokowi-Ma’ruf hanya menghasilkan interaksi 2,91 dari 293 ribu akun.

“Kami memang enggak interaktif tapi sampaikan pesan lewat gambar. Itu lebih efektif untuk meningkatkan elektabilitas,” dalih Arya. “Coba bandingkan konten mereka (kubu Prabowo). Mereka enggak punya konten. Ngemeng-ngemeng doang. Saling balas di antara mereka-mereka saja. Dia hanya tertarik pada dirinya sendiri.”

Fiki Satari membenarkan produksi konten kampanye digital Jokowi-Ma’ruf disesuaikan dengan platform masing-masing media sosial.

Pada platform Instagram, mereka mengunggah banyak meme dan video. Di Facebook, bermain dengan akun Fanpage yang cakupannya lebih luas ketimbang akun personal. Di Twitter, masih mengandalkan perang tagar untuk memenangkan narasi.

Tagar andalan kubu Jokowi masih menggunakan #01IndonesiaMajuyang head-to-head dengan tagar #2019GantiPresiden. Selama Februari 2019, jumlahnya mencapai 131.839 cuitan. Disusul tagar #JokowiOrangnyaBaik dan #DebatPintarJokowi

Sementara ada pula tagar dengan sentimen negatif #UninstallJokowi yang muncul di luar dugaan kedua kubu setelah masifnya perbincangan mengenai #UninstallBukaLapak.

“Kami lebih fokus pada visi misi dan program ketimbang meng-counterserangan. Kecil sekali signifikansinya untuk meningkatkan elektabilitas,” tukas Arya.

Namun, menurut Fahmi, konten seperti meme yang berisi data hanya tersirkulasi di kelompok kubu Jokowi.

Engagementnya kurang. Kayak produksi aja, produksi topik dan konten, lalu share. Siapa sih yang mau share grafik? Lama-lama boring juga,” ungkap Fahmi. 

Sebagai gambaran, meme tentang Jokowi yang paling banyak dicuit ulang justru berupa gambar tangkapan layar komentar warganet yang menganggap Jokowi sebagai Presiden Mindanao, salah satu pulau di Filipina yang dibagikan oleh akun @MurtadhaOne. Sementara konten resmi yang memuat capaian Jokowi baru muncul di peringkat 16.

g. Pada satu kesempatan  wawancara, 17 Desember lalu, ia berkata kelemahan tim kampanye digital paslon 01 selama ini belum terjalin apik.  

“Itu dulu saat awal kampanye. Kami langsung menyadarinya dan segera dibenahi. Sekarang sudah rapi. Pengelolaannya sudah baik. Buktinya kami unggul terus,” ujar Karding saat dikonfirmasi kembali via telepon, kemarin.

Konten Rapi tapi Susah Viral

Konten digital kubu Jokowi cenderung lebih rapi dan sistematis. Mereka banyak memproduksi meme, infografik, dan video, menampilkan konten visi misi serta pencapaian pemerintahan Jokowi-Kalla.

“Kubu 01 diuntungkan dengan statusnya jadi petahana. Mereka sudah punya agenda yang rapi,” kata Fahmi.

Arya Sinulingga mengungkapkan mereka punya agenda harian untuk mengeluarkan isu. “Koordinasi pasti ada. Rapat dan percakapan di grup WA. Melihat situasi dan momen tertentu. Misalnya, saat debat atau pasca debat,” katanya. Ia enggan menyebut total kekuatan pasukan siber Jokowi-Ma’ruf.

Arya mengakui pasukan digital Jokowi-Ma’ruf tak banyak bermain menguatkan interaksi di media sosial. Pernyataan ini merespons hasil analisis Drone Emprit yang memperlihatkan angka interaksi kubu Prabowo-Sandiaga pada periode Desember 2018 lebih tinggi, yakni 6,30 dari 177 ribu akun; sementara di kubu Jokowi-Ma’ruf hanya menghasilkan interaksi 2,91 dari 293 ribu akun.

“Kami memang enggak interaktif tapi sampaikan pesan lewat gambar. Itu lebih efektif untuk meningkatkan elektabilitas,” dalih Arya. “Coba bandingkan konten mereka (kubu Prabowo). Mereka enggak punya konten. Ngemeng-ngemeng doang. Saling balas di antara mereka-mereka saja. Dia hanya tertarik pada dirinya sendiri.”

Fiki Satari membenarkan produksi konten kampanye digital Jokowi-Ma’ruf disesuaikan dengan platform masing-masing media sosial.

Pada platform Instagram, mereka mengunggah banyak meme dan video. Di Facebook, bermain dengan akun Fanpage yang cakupannya lebih luas ketimbang akun personal. Di Twitter, masih mengandalkan perang tagar untuk memenangkan narasi.

Tagar andalan kubu Jokowi masih menggunakan #01IndonesiaMajuyang head-to-head dengan tagar #2019GantiPresiden. Selama Februari 2019, jumlahnya mencapai 131.839 cuitan. Disusul tagar #JokowiOrangnyaBaik dan #DebatPintarJokowi

Sementara ada pula tagar dengan sentimen negatif #UninstallJokowi yang muncul di luar dugaan kedua kubu setelah masifnya perbincangan mengenai #UninstallBukaLapak.

“Kami lebih fokus pada visi misi dan program ketimbang meng-counterserangan. Kecil sekali signifikansinya untuk meningkatkan elektabilitas,” tukas Arya.

Namun, menurut Fahmi, konten seperti meme yang berisi data hanya tersirkulasi di kelompok kubu Jokowi.

Engagementnya kurang. Kayak produksi aja, produksi topik dan konten, lalu share. Siapa sih yang mau share grafik? Lama-lama boring juga,” ungkap Fahmi. 

Sebagai gambaran, meme tentang Jokowi yang paling banyak dicuit ulang justru berupa gambar tangkapan layar komentar warganet yang menganggap Jokowi sebagai Presiden Mindanao, salah satu pulau di Filipina yang dibagikan oleh akun @MurtadhaOne. Sementara konten resmi yang memuat capaian Jokowi baru muncul di peringkat 16.

Sumber : Tirto.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *