Futuh Manan : “Terima Kasih Pak Jokowi, Dana Desa Selamatkan Dusun Kajoran”

oleh

Esensinews.com – Dusun Kajoran, Desa Sedan Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, selama bertahun-tahun dikenal sebagai daerah kering, kekurangan air. Tanahnya berbatu padas.

“Dusun kami memang sulit air dan kering kerontang ketika kemarau datang,” tutur tokoh masyarakat dusun Kajoran Mohammad Imdad (52).

Karena keringnya tanah di Kajoran, para petani hanya bisa menggarap sawah setahun sekali yaitu ketika musim penghujan. Pemilik sawah hanya berkesempatan merasakan panen padi saat mangsa rendeng(musim hujan). Bila masih ada “sisa-sisa” hujan di luar musim, warga umumya menanam jenis palawija. Seperti jagung, kedelai, kacang hijau, atau cabe.

Tak sedikit pula yang tidak sanggup menggarap sawah sehingga aset itu dijual, disewakan atau ditanami tanaman yang tidak perlu perawatan semisal Jati atau Mahoni.

“Sawah peninggalan orangtua saya juga kami tanami pohon jati. Karena tak sanggup menggarap dengan tanaman semusim. Biarlah nanti cucu saya atau cicit saya yang memanen jati itu,” tutur Imdad yang pernah menjadi Ketua RW dan Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Sedan.

Rumah Imdad dan kerabatnya berada persis di pinggir kali. Sebuah sungai cukup lebar (5 meter) yang menjadi batas Desa Sedan dan Desa Tanggung. Tetapi kali itu hanya teraliri air kalau ada hujan. Bila musim kemarau, hanya daun-daun kering yang mengisi.

Sekian generasi beranak pinak, belum ada upaya serius mengatasi kekeringan itu. Pemerintah daerah pernah membangun jaringan pipa PDAM yang menyalurkan air dari Embung (Dam) Lodan, di Kecamatan Sarang (Kecamatan di sebelah timur Sedan) yang dibangun oleh pemerintah pusat di zaman Soeharto. Namun air itu hanya mengalir ke pipa di rumah-rumah warga bila musim hujan. Begitu kemarau panjang, kering pula jalur PDAM itu.

Jangan ditanya bagaimana perjuangan warga “ngangsu” mencari air untuk kebutuhan sehari-hari. Ibaratnya, orang menjual kambing untuk membeli air.

Zaman Baru

Ratusan tahun kepasrahan atas masalah itu belum mendapat solusi, baru setelah ada program Dana Desa, muncul penyelesaikan masalah turun temurun tersebut. Setelah melalui musyawarah, Kepala Desa Sedan Ainur Rofiq memerintahkan dibangun Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat).

Di masa puncak kemarau November lalu, selama 20 hari satu regu tukang mengebor tanah di pekarangan rumah Imdad sedalam 170 meter. Dengan mesin pompa air kekuatan besar, mengalirlah air dari dalam tanah ke atas tandong tandon air cor beton berkapasitas 1500 liter.
Kini warga Dusun Kajoran maupun Dusun Ngemplak yang bersebelahan, bisa menikmati aliran air bersih lancar 24 jam sehari. Mulai Desember ini dan seterusnya, mereka berharap tak kesulian air lagi bahkan untuk membersihkan diri.

Futuhul Mannan (44), warga Kajoran yang berpartisipasi mengawasi proses pembangunan, mengaku puas dengan Pamsimas tersebut. Dia sangat bersyukur kini tak lagi susah mandi atau wudhu. Tak perlu menimba di sumur yang jauh atau menyalur dari tetangga. Juga sangat menghemat pengeluaran karena untuk kebutuhan minum dan masak tak lagi harus beli galon air mineral.

“Alhamdulillah. Saya bahagia adanya fasilitas air ini. Warga sini sangat bersyukur karena air tak lagi masalah,” tutur tukang servis motor ini.

Menurut Futuh, warga sepakat mengelola Pamsimas tersebut dengan iuran bulanan. Terutama untuk membiayai listrik yang setiap bulannya mencapai Rp 500 ribu, serta untuk perawatan mesin pompa airnya.

“Terima kasih Pak Jokowi. Program Dana Desa perlu dilanjutkan,” pungkasnya.

https://jokowidodo.app/post/detail/dana-desa-selamatkan-warga-dusun-kajoran
0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *