Antara Natal dan Komsumerisme

oleh

Oleh : Jerry Massie 

Fenomena Natal dari tahun ketahun kian bergeser dari makna serta tujuan yang sebenarnya. Apalagi di tahun 2018 ini. Adakalanya, kita sebagai umat yang percaya pada-Nya, akan tetapi masih saja melakukan hal-hal yang kerap keluar dalam rel firman Allah.

Hari Natal terkadang disalah-artikan oleh umat kristiani itu sendiri. Kebutuhan pun kian melonjak, hingga duit jutaan rupiah digelontorkan hanya untuk membeli kebutuhan sepertinya, namun diluar semuanya itu hanyalah keinginan belaka.

Ada pepatah “Manusia tak pernah puas dalam hidupnya,” ada benarnya juga. Hari Natal semestinya identik dengan hal-hal sorgawi namun sungguh ironis hal itu telah berubah menjadi keinginan jasmaniah. Yesus yang rela datang diutus oleh Bapa surgawi yang penuh kasih, hingga Natal dapat diartikan, Sebuah pengorbanan, Ada salvation (keselamatan), hidup berkelimpahan, Yesus membawa damai surga dan pengharapan bagi segenap umat manusia.

Kedatangannya begitu krusial, implementasi Allah menghadirkan Yesus  karena kasih-Nya bagi seluruh dunia. Ia yang dari terbatas menjadi terbatas, Raja rela menjadi Hamba, dari surga merelakan dirinya turun ke bumi.

Jika umat Israel mengenal tiga hari raya besar; pertama, Pondok daun kedua, Pentakosta dan ketiga, Paskah. Perayaan Natal sebetulnya lahir pada masa pemerintahan kaisar Konstantinopel pada tahun 336 AD. Itulah awal sejarah hingga dirayakan Natal Yesus Kristus. Pada awalnya Kaisar Romawi tersebut seorang penyembah dewa matahari, konon jemaat Pergamus yang mengawunkan Gereja dengan tradisi kekafiran.

Secara historis ini berawal dari panglima Romawi Konstantin suatu malam melihat tanda salib dengan mendengar suara, Konstantin yang sesungguhnya penyembah Dewa Matahari lalu mewajibkan setiap prajuritnya memakai tanda salib pada perisainya. Sayangnya tanda salib adalah Dewa Ankh dari mesir. Waktu pasukannya menang perang dengan tanda itu, lalu ia menyatakan dirinya sebagai Kristen. Konstantin kemudian menjadi kaisar romawi yang mengaku Kristen. Tetapi menyembah Dewa Matahari (313 M). Kristen kemudian dijadikan agama Negara. Lalu hari lahir Dewa Matahari dijadikan hari kelahiran Yesus.

Matahari yang menerangi dunia dianggap mewakili keberadaan Yesus. Jadilah 25 Desember hari lahir Yesus. Yang kita kenal dengan “Perayaan Natal.”

Disisi lain, Chrismast berarti, “Christs Mass” yang berarti, “Misa Kristus” Para pemimpin menetapkan perayaan Chrismast pertama di Roma pada tahun 336 AD.

Sementara, menjelang hari Natal dalam dua hari saja, yakni pada awal bulan Desember nyaris hampir miliaran rupiah dikeluarkan di pusat perbelanjaan (Mantos dua), bahkan pada waktu soft opening. Memang Mantos punya daya pikat yang luar biasa sehingga mampu menghipnotis penggunjung untuk hadir dikawasan perbelanjaan di Manado tersebut.

Sedangkan seperti yang dilaporkan persiapan material umat kristiani Sulawesi Utara pada Natal kali ini bisa menembus 1,5 triliun pada 2011 lalu belum lagi tahun 2012 ini, paling tidak akan melampui angka 2011 lalu. Ini merupakan angka fantastis dan mengalahkan anggaran APBD Sulut. Ribuan customer berjubel disejumalah pusat-pusat perbelanjaan, antara lain Mantos Dua, Mantos, Multi Mart, Matahari, Ramayana, Mega Mall serta dibeberapa tempat perbelanjaan.

Siapa yang tidak kesem-sem dengan tawaran banting harga, sale 90 persen, cuci gudang, discount 30-70 persen otomatis dengan marketingstyle seperti ini banyak menarik sampai pembeli. Semua tempat pada penuh dengan manusia. Menariknya ada yang datang dari satu daerah hingga mengeluarkan uangnya Rp2 juta guna membeli keperluan Natal. Ada juga yang bernama Eva yang menyiapkan Rp 15 juta hanya untuk berbelanja seperti yang dikutip tribunmanado Jumat, 23 Desember 2011.

Bayangkan saj jika satu orang menggelontorkan uangnya  satu juta rupiah saja, sedangkan hampir 70 persen penduduk (1,589 juta dari 1,27 juta warga Sulut). Dapat dikalkulasikan jumlah total expenses berkisar Rp1,589 Triliun habis untuk fashion. Sedangkan APBD Sulut 2011 hanya Rp 1.263.575.627.422.Itu baru pakaian belum lagi dengan pembelian daging. Rekor penjualan daging tahun ini naik 300 persen, namun beruntunlah harga sembako tetap stabil, hanya saja gula dan beras yang terjadi sedikit kenaikan yaitu 10-15 persen.

Seandainya saja uang tersebut dipersembahkan buat Tuhan Yesus, berapa saja gereja yang bisa berdiri megah ketimbang mengeluarkan uangnya demi fashionable serta komsumerisme. Natal yang harusnya berbagi kasih “love for each other” berubah menjadi komsumerisme.

Edward Diener, Ph.D dari of Illinois menyatakan bahwa “Mereka yang memiliki pola hidup komsumerisme yang kuat, yang memiliki hidup “mendapatkan dan Membelanjakan’ dapat menghasilkan ketidakpuasan karena tindakan ini akan mengambil waktu mereka bahagia seperti contohnya, hubungan dengan keluarga dan teman-teman. Tidak selalu mengejar kekayaan material pasti akan mempengaruhi kehidupan sosial seseorang. Namun, hal ini bisa sangat terjadi. Jika terjadi ini akan mendatangkan kerugian pada kepuasan hidup dan kebahagian.

Harusnya kita belajar pada ketiga orang Majus, konon diperkirakan berasal dari Mesopotamia, arab dan Mesir yakni Belzasar, Caspar. Mereka pantas diteladani dengan mempersembahkan emas, kemenyan dan Mur. Adalah dihari natal kita berbagi dengan orang yang tak mampu ataukah kita hanya mementingkan diri kita? Sebenarnya saling member yang paling dikehendaki Tuhan. Rubahlah mind set berpikir kita. Think out of the box dan open minded momen Natal bukang ajang komsumerisme, namun ajang kita berbagi satu dengan yang lain.

Banyak umat umat Tuhan yang berprasangka hidup mereka akan mengalami kebahagian ketika mendapatkan barang-barang belanjaan, apalagi dihari Natal.

Jumlah uang yang kita belanjakan harusnya berimbang. Jangan sampai persembahan untuk Tuhan nilai nominalnya kecil. Eksistensi uang harusnya digunakan dengan bijak. Lihat saja pola hidup orang Amerika yang rakus dan bernafsu dalam membelanjakan uang mereka.

“Menurut New Unity Marketing study entertainment and Recreational product report, 2005, menjelaskan orang-orang negeri adidaya atau “Paman Sam” memiliki nafsu serakah untuk hiburan dan rekreasi yang terlihat dari pengeluaran sebesar $705.0 milyar di tahun 2004.”

Nafsu Orang Amerika Mengeluarkan Uangnya

Sedangkan pada tahun 2001 dana yang diberikan kepada pelayanan di luar Amerika didalamnya donasi dan sumber dan sumber dana lainnya untuk 690 agen (denominasi, internemomasi, dan agen independen) adalah $3,8 milyar.

Dunia berada pada sebuah pola hidup komsumerisme. Komsumsi dunia terus meningkat. Pada abad ke-20 ini dengan publik menngan komsumsi privat dan publik mencapai $24 triliun pada tahun 1998, dua kali lipat dari tahun 1975 dan 6 kali dari tahun 1950. Pada tahun 1990 komsumsi in hanya $1.5 triliun. Pada tahun 2004, gedung bioskop domestic menerima uang dari penjualan karcis sebanyak $9,4 milyar. “Meskipun pendapatanj mengalami peningkatan, harga tiket masuk yang naik menggambarkan orang menonoton bioskop turun sekitar 1.7 persen.

“Pada tahun 1999, total penjualan dari industry perhiasan untuk pernak pernik perhiasan wanita (Intan) adalah $ 12.1 milyar.Industri ini mengalami peningkatan sebesar 41 $ persen dari tahun sebelumnya.”

Pada tahun penjualan took-toko perhiasan $ 20 milyar. Pada tahun 1993 penjualan kosmetik sebesar $ 20 milyar. Sedangkan tahun 1999 total penjualan industri rumah makan naik 4,6% menjadi % 354 milyar. Dan penjualan rumah makan cepat saji (fast food) adalah $110 milyar. Bisnis makanan kecil pada tahun 2006 mencapai $ 22 milyar di Amerika Serikat.

Sementara konsumen di Amerika membelanjakan lebih dari $ 24.3 milyar permen pada tahun 2002, naik 1,6% dibandingkan tahun 2001. Untuk industri softdrink bernilai $64 milyar pada tahun 2003, pendapatan di studio Hollywood pada tahun yang sama $9.4 milyar. Lebih mencengangkan pada tahun 2000, orang Amerika membelanjakan uangnya sebesar $13 milyar berbagai jenis coklat. Masih ditahun 2000 penjualan permen karet mencapai $500 juta. Sementara penjualan mainan mencapai $23 milyar. Untuk membeli lotre saja harus mengfeluarkan $38 milyar.

Ditahun 1998, penjualan kartu ucapan selamat senilai $7.1 milyar. Dari total penjualan itu, 8% dari total penjualan atau sekitar $570 juta untuk kartu rohani. Itulah serakahnya orang Amerika menghabiskan uang mereka demi kepuasan sesaat.

Ikutilah pola kesederhanaan yesus. Kendati ia seorang Raja tapi lantaran pribadinya yang rendah hati Ia mampu menjadi seorang hamba biar kita anak-anak-Nya dimuliakan. Rayakanlah Natal dengan ucapan syukur, apa saja yang yang ada pada kita syukurilah semua itu..

Semoga saja umat kristiani mengenal hakikat natal yang sesungguhnya.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *