Breaking News

Nilai Tukar Rupiah Juru Kunci di Asia

Pada Selasa (27/11/2018) pukul 09:02 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.515. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Mengawali hari, rupiah sudah melemah 0,1%. Seiring perjalanan pasar, rupiah semakin melemah.

Bahkan kini pelemahan rupiah menjadi yang terdalam di antara mata uang utama Asia. Memang won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, dan dolar Taiwan juga di hadapan greenback. Namun depresiasi mereka tidak sedalam rupiah.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama Asia pada pukul 09:06 WIB:

Mata Uang Kurs Perubahan (%)
USD/CNY 6.94 (0.05)
USD/HKD 7.82 (0.01)
USD/IDR 14,515.00 0.31
USD/INR 70.81 0.00
USD/JPY 113.43 (0.14)
USD/KRW 1,129.86 0.09
USD/MYR 4.19 0.17
USD/PHP 52.52 0.14
USD/SGD 1.37 (0.04)
USD/THB 33.03 (0.03)
USD/TWD 30.87 0.03

Kemarin, mata uang Asia kecuali yen mampu menguat terhadap dolar AS. Akan tetapi hari ini dolar AS dan yen menguat. Ini merupakan alamat buruk.

Faktor Eksternal dan Domestik Bebani Rupiah

Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Saat dolar AS dan yen menguat, artinya pelaku pasar sedang sangat berhati-hati. Sebab, arus modal kini mengarah ke instrumen safe haven yaitu dua mata tadi.

Pelaku pasar berbalik bermain aman setelah ada kabar terbaru hubungan dagang AS-China. Dalam wawancara dengan Wall Street Journal, Presiden AS Donald Trump menyatakan masih mempertimbangkan pengenaan bea masuk baru bagi produk-produk China.

“Satu-satunya cara mencapai kesepakatan adalah jika China membuka perekonomiannya kepada dunia, termasuk AS. Jika tidak ada kesepakatan, maka saya akan mengenakan (bea masuk) tambahan US$ 267 miliar,” tegasnya.

Bahkan Trump tidak ragu mengenakan bea masuk kepada produk-produk yang banyak digunakan oleh masyarakat seperti ponsel dan komputer. Menurutnya, tarif bea masuk yang tidak terlalu tinggi sepertinya masih bisa diterima oleh konsumen.

“Tergantung tarifnya. Saya bisa kenakan 10% dan sepertinya masyarakat bisa menerima dengan mudah,” ujar eks pembawa acara reality show The Apprentice tersebut.

Jika Washington masih galak seperti ini, maka pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G20 berisiko tanpa hasil. Malah ada kemungkinan memperkeruh situasi.

Mendengar kabar ini, mental pelaku pasar langsung down. Tidak ada lagi keberanian untuk mengambil risiko dan bermain dengan aset-aset di negara berkembang.

Sekarang adalah saatnya main aman, sebab perang dagang adalah sebuah sentimen besar yang sangat mempengaruhi perekonomian dunia. Ketika dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia saling hambat, maka dampaknya adalah perlambatan ekonomi global karena terjadi distrupsi dalam rantai pasok.

Selain itu, faktor domestik juga sepertinya menjadi salah satu pemberat langkah rupiah. Hari ini, Bank Indonesia akan menggelar Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) yang dulu dikenal sebagai Bankers Dinner. Dalam pertemuan ini, BI disebut-sebut bakal mengumumkan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih lambat dari perkiraan semula.

Sebelumnya, BI memperkirakan ekonomi Tanah Air akan tumbuh dalam kisaran 5,1-5,5% pada 2019. Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur BI, mengungkapkan bank sentral akan merevisi kisaran ini tetapi masih dalam rentang yang tidak terlalu jauh.

Outlook ini ditunda pengumumannya sampai kita lakukan Pertemuan Tahunan (Bankers Dinner) pada 27 November. Nanti akan disampaikan,” sebutnya.

Risiko perlambatan ekonomi domestik bisa menjadi alasan investor meninggalkan Indonesia untuk sementara. Ditambah dengan tenso perang dagang yang bisa meninggi, maka rupiah memang sangat sulit menguat.

Kemarin, rupiah menjadi mata uang terkuat di Asia. Namun hari roba nasib berputar 180 derajat, dan rupiah menempati posisi juru kunci klasemen mata uang Benua Kuning.

Sumber : CNBC
0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *