Cegah Hoax agar Tak Ganggu Pilpres 2019

oleh

Esensinews.com – Terkait dengan berita hoax yang akhir-akhir ini marak beredar ditengah publik, Kaukus Muda Indonesia (KMI) pun menggelar diskusi publik dengan tajuk : “Perangi Hoaxs Menuju Pilpres yang Damai dan Bermartabat”, di kantor KMI, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (27/11/2018).

Ketua Forum Umat Islam Bersatu (FUIB), Rahmad Himran saat menyampaikan pandangannya, merasa prihatin ketika cara berfikir masyarakat terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh informasi hoax. Ironisnya, masyarakat yang terdampak hoax pun ikut menyebarkan lagi kepada kelompok masyarakat lainnya, sehingga dikhawatirkan Pilpres yang damai jauh dari harapan kita bersama.

“Kita semua berharap bahwa Pilpres ke depan akan menjadi damai. Kepada seluruh pasangan calon ataupun para pendukung dan tim sukses agar supaya bijak dalam menggunakan medsos untuk meraih dukungan dari masyarakat. Marilah kita secara fair melaksanakan Pilpres 2019 tanpa harus menyebarkan hoax maupun kampanye hitam,” ujar dia.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Harian Terbit, Ali Akbar berpendapat, menjelang pelaksanaan pemilihan umum, para elit politik disinyalir menciptakan opini-opini yang membohongi rakyat, saya pikir hoax ini tak akan tersebar kemana-mana. Mengutip informasi dari KPU, hoax bisa dihentikan dimulai dari tim capres-cawapres. Oleh karena itu, tim capres-cawapres harus bisa menjamin kepada publik untuk tidak ikut menyebarkan informasi hoax.

Selain itu, tim capres-cawapres juga harus berani membentuk tim untuk memeriksa semua tim mereka maupun pendukung mereka jika ketahuan membuat hoax diberikan sanksi.

“Saya pikir yang perlu dilakukan oleh aparat keamanan adalah bagaimana mencegah supaya hoax itu tidak menggangu pelaksanaan pilpres,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Indonesia New Media Watch, Agus Sudibyo menilai, adanya hoax politik menjelang pilpres tidak ada gunanya karena baik kubu Jokowi maupun Prabowo akan semakin pro kepada pasangannya masing-masing. Menurutnya, justru kelompok Milenial dan kelompok pemilih galau ini yang perlu diambil simpatiknya karena kelompok tersebut memiliki jumlah yang cukup besar sebagai pemilih.

Kelompok pertama, jelas Agus, adalah generasi Milenial yang diperkirakan jumlahnya 80 juta orang atau 43 persen. Karakter mereka adalah kurang begitu berminat terhadap politik. Mereka mengakses medsos bukan untuk mencari informasi politik. Generasi ini akan berbahaya jika disuguhkan dengan informasi hoax bahkan semakin menjadi tidak berminat terhadap politik jika disuguhkan dengan informasi politik yang ricuh apalagi dihiasi dengan kebohongan.

Kategori kedua, lanjut Agus, adalah pemilih galau yang berjumlah sekitar 44 persen terdiri 14,7 persen pemilih yang sampai saat ini belum menentukan pilihan dan 30 persen pemilih yang sudah memiliki Jokowi atau Prabowo tetapi masih bisa berubah.

“Jadi generasi Milenial dan pemilih galau justru kelompok masyarakat yang sulit untuk dipengaruhi hoax. Mereka akan semakin jauh jika mereka mengetahui pasangan capres bermain dengan hoax,” pungkasnya.

 

 

 

 

Editor : Edi Humaidi

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *