Bukan Hanya Indonesia, Ijasah Palsu Pun Guncang Spanyol

oleh
Pada 2015, Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) pernah melakukan sidak ke STIE ISM, STMIK Triguna Utama, dan STKIP Sera. Ketiganya menggelar perkuliahan di sebuah ruko di Cikokol, Tangerang. Tim yang dibentuk oleh Kementerian tersebut menemukan praktik jual beli ijazah abal-abal dikutip Tirto.id.Setelah sempat dibekukan, ketiga kampus tersebut diketahui kembali beroperasi. Maktub punya kedekatan dengan para petinggi kampus bermasalah.

Kasus jual beli ijazah bodong ini mengingatkan akan kasus yang menimpa para politisi Spanyol. Selama 2018, surat kabar lokal El Diario getol menguliti jejak akademik para politikus Spanyol yang terindikasi memiliki ijazah bodong atau melakukan plagiasi.

Bermula pada 21 Maret 2018, El Diario  merilis laporan investigasi dugaan ijazah bodong politisi senior Cristina Cifuentes dari Partai Rakyat (PP) yang berkuasa. Cifuentes yang punya gelar master bidang hukum dari King Juan Carlos University (URJC) di Madrid pada 2012, diduga keras tidak pernah menghadiri perkuliahan dan menggarap tesis akademiknya.

Pada lembar ijazah yang dimiliki Cifuentes tercantum tanda tangan tiga pejabat kampus. Namun, dua di antara tiga orang tersebut mengaku di hadapan komite kampus bahwa mereka tidak pernah menandatangani ijazah milik Cifuentes.

Laura Nuno, satu dari tiga pejabat kampus yang tanda tangannya ada di ijazah Cifuentes, bahkan memilih mengundurkan diri setelah kasus ini mencuat. Kepada The Guardian, Nuno mengaku tak pernah sekalipun mengajar Cifuentes.

Sementara Cifuentes terus berkeras bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan, suara desakan agar Cifuentes mundur dari jabatan kepala daerah Madrid terus menguat

Kalangan internal Partai Rakyat (PP) mendesak agar Cifuentes segera meletakkan jabatannya. Begitu pula dengan partai koalisinya, Ciudadanos, yang mencabut dukungan politik untuk Cifuentes dan menuntut penggantian segera.

Setelah berminggu-minggu bertahan dari desakan mundur sejak skandal ijazah bodong terkuak, Cifuentes meletakan jabatannya pada 25 April 2018, persisnya setelah sebuah video rekaman CCTV yang menunjukkan dirinya sedang mengutil krim wajah pada 2011 viral di dunia maya.

Terkuaknya Skandal Mastergate

Sejak kasus Cifuentes mencuat dan menggegerkan publik Spanyol, sederet skandal “Mastergate” yang menjerat para politikus satu per satu terkuak. Setelah Cifuentes, giliran Pablo Casado, seorang anggota parlemen dan wakil sekretaris komunikasi Partai Rakyat, tersandung masalah ijazah bodong gelar master bidang hukum yang ia kantongi sejak 2009.

Tuduhan yang dialamatkan kepada Casado adalah tak pernah ikut perkuliahan dan tak pernah menulis tesis untuk menyelesaikan gelar master bidang hukum di King Juan Carlos University. Casado membela diri bahwa memang ia tidak harus menghadiri perkuliahan maupun menulis tesis. Dia mengaku melakukan hal itu atas arahan Enrique Álvarez Conde selaku kepala program studinya.

Pengakuan tersebut berbeda dari informasi dosen yang mengampu mata kuliah di jurusan master yang diambil Casado. Diwartakan El Pais, mahasiswa master wajib menghadiri perkuliahan dari hari senin sampai jumat, ikut ujian, dan sidang tesis. Profesor pengajar lainnya juga mengatakan bahwa nama Casado tidak pernah ada dalam daftar mahasiswa yang diajarnya.

Kasus Casado dibawa ke meja hijau. Dari hasil penyelidikan sementara, ada sekelompok siswa termasuk Casado, yang diistimewakan sehingga dibebaskan untuk tidak menghadiri perkuliahan di kelas. Sampai Agustus 2018, belum ada tanda-tanda ia mengundurkan diri dari panggung politik. Sebaliknya, Casado menyebut bahwa dirinya adalah korban penganiayaan bermotif politik.

Skandal ijazah bodong yang menimpa dua politisi Partai Rakyat itu makin memperburuk citra partai penguasa Spanyol yang juga diguncang skandal korupsi. Pada 24 Mei 2018, Luis Barcenas selaku bendahara Partai Rakyat divonis 33 tahun penjara oleh hakim pengadilan karena dinyatakan terbukti bersalah menjalankan dana kampanye rahasia yang diperoleh secara illegal dari tahun 1999 sampai 2005. Puncaknya, Perdana Menteri Mariano Rajoy dari Partai Rakyat yang telah menjabat hampir tujuh tahun dilengserkan lewat mosi tidak percaya yang didukung parlemen pada awal Juni 2018.

Sebanyak 180 anggota parlemen memilih mosi tidak percaya untuk melengserkan Rajoy (syarat minimal mosi tidak percaya adalah 176 suara). Pengganti Rajoy adalah Pedro Sanchez dari Partai Sosialis Spanyol yang juga menggalang mosi tidak percaya terhadap Rajoy. Per 2 Juni 2018, Sanchez resmi menjadi Perdana Menteri Spanyol.

Meski pemerintahan Spanyol sudah berganti rupa, namun terkuaknya skandal ijazah bodong tak juga surut. El Diaro pada awal September 2018 kembali menurunkan laporan yang menunjukan bahwa ijazah Carmen Montón Menteri Kesehatan Spanyol dari Partai Sosialis rupanya juga bermasalah.

Nilai mata kuliah Montón di King Juan Carlos University diduga diubah di sistem online dari yang mulanya berstatus “belum disetor” pada bulan Juni 2011 mendadak menjadi “lulus” pada 25 November 2011. Padahal, pada tanggal tersebut sudah tidak ada sistem input nilai.

Menanggapi laporan El Diaro, Monton bersikeras bahwa semuanya sudah sesuai prosedur dan perintah dari kampus. Namun, temuan lanjutan dari media lokal El Pais membikin Monton tak berkutik. Dari pengkajian isi tesis Monton, ditemukan bahwa ada banyak paragraf hasil plagiasi dari internet yang tak mencantumkan sumber yang jelas. Bahkan ada pula teks-teks yang disalin dari artikel Wikipedia.

Temuan plagiasi tersebut langsung membuat Monton memutuskan mengundurkan diri dari jabatan Menteri Kesehatan pada 12 September 2018.

Tidak berselang lama dari hari pengunduran diri Monton, jarum tuduhan ijazah bodong atau plagiasi akhirnya mengarah ke Perdana Menteri Pedro Sanchez yang punya gelar PhD.

Pada September 2018, media Spanyol ABC menuduh disertasi Sanchez pada 2012 penuh dengan plagiasi. Media lainnya, OK Diario menyebutkan bahwa ekonom Carlos Ocana adalah orang yang menggarap hampir seluruh disertasi Sanchez.

Infografik Ijazah Palsu

Berita tersebut segera menjadi gorengan para kelompok oposisi Sanchez. Albert Rivera pemimpin Partai Ciudadanos mendesak Sanchez untuk mempublikasikan disertasinya secara online untuk menjawab keraguan publik. Begitu pula dengan Partai Rakyat (PP) yang menyerukan agar Sanchez berbicara di depan parlemen untuk menjelaskan dugaan tersebut.

Sanchez sendiri berang dengan tuduhan plagiasi yang dialamatkan kepadanya. Pada 14 September 2018, disertasinya dipublikasikan untuk publik dan dimuat oleh El Diaro. Sebelum dirilis ke publik, pihak pemerintah memindai disertasi Sanchez ke dua program anti-plagiasi dan hasilnya nihil.

Skandal Mastergate yang menyeret sejumlah politisi Spanyol membuat King Juan Carlos University mendapat sorotan negatif. EL Diaro pada September 2018 memberitakan tentang rekam jejak kampus di ibukota Spanyol tersebut yang pada 2016 mengeluarkan ijazah hukum bermasalah kepada 500 siswa asal Italia.

Dengan membayar belasan euro, disebutkan bahwa para siswa Italia datang ke Madrid untuk mengikuti ujian saat pertandingan klub bola Real Madrid berlangsung. Ketika dimintai konfirmasi atas kasus tersebut oleh BBC, pihak kampus memilih bungkam.

Pada Desember 2016, Fernando Suarez selaku rektor King Juan Carlos University dinonaktifkan oleh Komisi Pendidikan Nasional Spanyol. Sebabnya, ia diduga kuat berulang kali melakukan plagiasi dengan menyalin karya orang lain tanpa mencantumkan kredit.

Berbagai Sumber
0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *