Breaking News

Muhammad Hamzah Pengayuh Becak Raih Gelar Sarjana

Esensinews.com – Usaha keras Muhammad Hamzah Amirullah akhirnya membuahkan hasil. Hamzah lulus menjadi sarjana meski harus bekerja menjadi tukang becak.

Hamzah mengayuh becak untuk membiayai kuliah dirinya selama bertahun-tahun hingga lulus.

Saat hari wisuda tiba, Hamzah pun datang bersama ibunya yang diboncengkan dengan becak kesayangannya. Wajah Hamzah pun memancarkan kebanggaan dan kepuasan yang tiada tara.

Berikut ini sejumlah fakta yang terungkap dalam kisah Hamzah.

1. Mengayuh becak sejak SMP untuk membiayai sekolah

Delapan tahun mengayuh becak sambil bertopeng, mengantar Hamzah jadi sarjana dengan prestasi membanggakan

Hamzah menceritakan, sejak SMP dirinya telah mengayuh becak untuk membayar uang sekolah. Sebagai anak sulung dari 7 bersaudara, dirinya ingin membantu kedua orangtuanya.

Dari rumah sederhananya di Dusun Tanjung Batu, Kelurahan Rangsam Banggae Timur, Hamzah mengayuh becaknya dan berharap ada penumpang.

Sejak itu, pendapatannya mengayuh becak bisa menutup biaya sekolahnya hingga masuk kuliah di Universitas Terbuka (UT). Menginjak semester 4, Hamzah tidak lagi mengayuh becak. Hamzah pun akhirnya lulus kuliah dengan gelar sarjana manajemen dengan IPK 3,49.

Hamzah pun menjadi pusat perhatian saat menghadiri acara wisuda di Universitas Terbuka (UT) di Gedung Lembaga Pendidikan Majene Sulawesi Barat, Minggu (18/11/2018) lalu. Hamzah memboncengkan ibunya dengan becak kesayangannya.

2. Mengayuh dengan mengenakan topeng karena malu

8 Tahun Mengayuh Becak Sambil Bertopeng, Mengantar Hamzah jadi Sarjana dengan Prestasi Membanggakan

Hamzah memakai topeng setiap kali keluar jalan mengayuh becak sambil mencari penumpang.

Selain agar kulitnya tak terbakar matahari, Hamzah tak ingin diolok-olok rekan sekolahnya atau warga dengan profesinya sebagai tukang becak.

Salah satu pengalaman yang tak pernah ia lupakan adalah saat mengantar gurunya tanpa diketahui kalau yang sedang membawa becak adalah siswanya sendiri.

Hamzah mengaku kerap menolak jasanya dibayar oleh tetangga kampung atau guru yang dia kenal.

“Suatu waktu saya dipaksa buka topeng di depan guru saya yang penasaran, karena setiap kali naik becak saya menolak menerima bayaran darinya. Saya merasa dia adalah tokoh yang berjasa mendidik saya di sekolah,” tutur Hamzah menceritakan pengalamannya menyamar jadi tukang becak menggunakan topeng.

Namun, saat acara wisuda, Hamzah melepas topengnya.

“Dulu saya mengayuh becak mencari rezeki dari lorong ke lorong memakai topeng. Sekarang saya tak malu lagi. Saya harus bangga membawa ibu saya dengan becak saya sendiri,” tutur Hamzah dikutip Kompas.com, Rabu (21/11/2018).

3. Hamzah menjadi buruh bangunan yang bertopeng

Ilustrasi belajar

Seperti diketahui, sejak semester 4, Hamzah mulai jarang mengayuh becak lagi. Dirinya mulai menjajal menjadi buruh bangunan atau tukang cat keliling.

Berteman dengan banyak mantan teman sekolahnya yang kini jadi pemborong membuat Hamzah tak kesulitan mendapatkan order atau pekerjaan untuk menopang ekonomi keluarga kecilnya hingga membiayai kuliahnya.

Seperti saat mengayuh becak, saat menjadi buruh cat bangunan gedung sekolah atau rumah pribadi, Hamzah juga memakai topeng saat bekerja.

Alasannya, selain untuk melindungi diri dari panas matahari juga agar ia tak jadi bahan ledekan teman-teman kuliahnya atau mantan teman sekolahnya saat bekerja.
Upah sebesar Rp 75 ribu per hari sebagai buruh cat bangunan, dia kumpulkan untuk membiayai kuliahnya hingga menjadi sarjana ilmu manajemen di UT tempat ia mendaftar.

4. Cita-cita Hamzah mengembangkan literasi

Ilustrasi membaca buku

Hamzah mengaku ingin fokus menjadi penggerak literasi agar kegiatan sosialnya itu bisa memberi manfaat kepada orang banyak.

Pemuda kelahiran 2 April 1995 itu juga bercita-cita menjadi pelopor dan penggerak untuk melestarikan bahasa dan budaya Mandar.

Ia menilai bahasa dan budaya Mandar semakin tergerus. Hamzah mengaku akan ikut mencerdaskan masyarakat Majene dengan gerakan becak pustaka yang sudah ia rintis sebelum ia jadi sarjana.

“Menjadi tokoh penggerak literasi itu sebenarnya sudah saya gagas sejak lama. Insya Allah setelah jadi sarjana saya akan fokus mengurus ini,”tutur Hamzah.

Ia berencana menyulap rumahnya di Tanjung Batu menjadi lapak baca. Becak yang selama ini ia kayuh akan disulap Becak Mandar Pustaka yang sudah dirintis bersama sejumlah rekanya yang terlibat sebagai penggiat literasi.

“Becak ini justru akan saya jadikan “Lapak Becak Mandar Pustaka” yang akan menebar virus literasi kemana saja,” jelas Hamzah.

5. Pernah ingin menjadi tentara, namun gagal

Ilustrasi tentara

Obsesi menjadi tentara adalah impian Hamzah sejak kecil. Kala duduk di bangku SD, keinginannya menjadi tentara makin kuat terutama saat menyaksikan atraksi kemampuan personil TNI yang hebat menaklukkan medan tempur atau membebaskan sandera dari para teroris.

Lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Majene, Hamzah mengurungkan niatnya mendaftar TNI karena tak dapat restu sang ibu.

Gagal jadi TNI tak membuat Hamzah kecewa. Tahun 2014, ia mulai mengikuti nasihat gurunya agar ia melajutkan kuliah saja.

Hamzah lalu mendaftar di Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan (STITEK) Balik Diwa Makassar secara diam-diam.

Hamzah bangga karena menerima panggilan melalui jalur beasiswa Bidik Misi. Namun, impian Hamzah menjadi sarjana di Makassar lagi-lagi kandas lantaran orang tua tercinta tak merestuinya.

“Waktu itu wakil rektornya sudah pastikan saya lulus Bidik Misi. Tapi orangtua lagi-lagi tak merestuai. Intinya ia tak ingin saya jauh-jauh darinya,” jelas tokoh penggerak literasi Majene ini.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *