Moeldoko : Indonesia Negara Pluralis, Tidak ada Istilah Mayoritas dan Minirotas

Esensinews.com – Kepala Kantor Sekrrtatiat Presiden (KSP) Moeldoko menjelaskan, Indonesia adalah negara pluralis, rumah bersama bagi setiap manusia yang ada di dalamnya. Karena itu, jangan lagi ada dikotomi istilah ‘mayoritas’ dan ‘minoritas’ di negeri ini.

Hal itu dikatakan mantan Panglima TNI ini dihadapan lebih 1.200 CEO dan para pengusaha pada forum ‘Solidaritas untuk Indonesia Lebih Baik’ di Jakarta Convention Centre, Jumat, (09/11/2018) malam.

Materi yang disajikan Moeldoko daei sisi politik yakni : ‘Stabilitas Politik untuk Indonesia Lebih Baik’.

“Sepanjang kita masih membicarakan mayoritas dan minoritas, maka itu berarti kebangsaan kita masih belum bulat,” kata Moeldoko.

Narasumber lain, Dato’ Sri Prof Dr Tahir berbicara dalam aspek ekonomi, serta Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dari sisi sosial budaya.

Selanjutnya dia memaparkan, dalam 15 tahun terakhir, perekonomian kita bisa tumbuh karena stabilitas politik. Selain itu, ASEAN dianggap sebagai region paling stabil di dunia, terutama karena ditopang stabilnya kondisi politik Indonesia.“

Hal yang ditekankan Moeldoko ialah stabilitas politik ini terjadi karena leadership di Indonesia stabil. “Jika ini bisa kita pertahankan, maka pada 2030, kita akan masuk dalam 10 negara dengan ekonomi terkuat di dunia. Karena itu, Presiden Jokowi selalu mengajak kita untuk bersikap optimistis,” ucap dia.

Lebih labjut dia menekankan pentingnya keseimbangan antara stabilitas dan demokrasi. Kalau stabilitasnya berlebihan, maka tingkat demokrasi akan menurun. Sebaliknya, jika iklim demokrasi berlebihan, stabilitas politik kurang, negara itu jadi carut marut.

“Di sinilah tampak, betapa beda demokrasi dan anarkis itu amat tipis,” terang Doktor Ilmu Administrasi Universitas Indonesia ini.

Ia menguraikan pula saat ini Indeks Demokrasi Indonesia di angka 72,11 (2017) cukup baik mengalami peningkatan dibandingkan dengan indeks tahun sebelumnya sebesar 70,09. Indeks demokrasi itu dipengaruhi aspek kebebasan berpendapat di angka 78,75, lembaga demokrasi 72,49 dan kegiatan kaderisasi partai politik di level 68,91.

Adapun pada Indeks Kerukunan Beragama, survei menunjukkan bahwa selama tiga tahun berturut-turut angka kerukunan beragama di Indonesia masuk dalam kategori ‘tinggi’. Pada 2017, Indeks Kerukunan Beragama kita ada pada angka 72,2.

Stabilitas politik membawa pengaruh positif pada kondisi ekonomi Indonesia. Moeldoko mengatakan, menjelang masa pemerintahannya, Jokowi menjanjikan membuka 10 juta lapangan kerja. “Saat ini, 4 tahun pemerintahan Jokowi-JK, sudah ada 8,7 juta lapangan kerja. Sedikit lagi tercapai target itu,” kata Moeldoko.

Selain itu, di era pemerintahan Presiden Jokowi, tingkat kemiskinan dapat ditekan menjadi 9,8 persen alias di bawah satu digit. “Presiden Jokowi bekerja keras agar negara kita berjalan baik ke depan,” tegasnya.

Keberlanjutan kepemimpinan
Pada perspektif lain, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya keberlanjutan kepemimpinan untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

“Di sinilah leadership memegang peranan penting,” kata Airlangga yang dengan bersemangat memaparkan tantangan Indonesia menghadapi era Revolusi Industri 4.0.

Menaker yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini menekankan, setelah Pemilu 2019, Indonesia siap untuk ‘tancap gas’. “Semua perbedaan diselesaikan di kotak suara. Kita melaju menuju Indonesia maju di tengah revolusi industri,” kata Airlangga.

Adapun Tahir menekankan bahwa jika kondisi seperti ini dapat terus dipertahankan, maka lima tahun lagi Indonesia akan menjadi negara yang sangat kuat. “Kita harus bersyukur, bisa lahir dan hidup di Indonesia yang penuh harapan ini,” kata pria yang tengah menuntaskan disertasi di Universitas Gajah Mada ini.

Bos grup Mayapada yang juga dikenal sebagai seorang filantropis ini menekankan, acara ‘Solidaritas untuk Indonesia Lebih Baik’ akan digelar keliling ke berbagai kota besar Indonesia, seperti Surabaya dan Medan.

“Tujuannya, saya akan mengajak para pengusaha, bahwa nyamannya negara ini, semua ada di tangan kita yang menentukan,” kata Tahir.

Pengusaha sukses yang mengawali hidupnya dari keluarga miskin di Surabaya ini menekankan, kita harus membawa semangat optimistis. “This country is strong dan so kind. Kita memajukan negara ini, untuk Indonesia yang lebih baik,” kata

Selain Tahir, Moeldoko, dan Airlangga Hartarto, forum ‘Solidaritas untuk Indonesia Lebih Baik’ juga dihadiri pengusaha yang juga Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo, Murdaya Poo dan Wakil Ketua Komisi VI DPR Dito Ganinduto.

 

 

 

Editor : Sinta Merry

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *