Breaking News

Semangat Berbahasa Indonesia Ala Agus Salim dan Para Penggawa Bahasa

Esensinews.com – 28 Oktober 1928 silam, Kongres Pemuda II diselenggarakan dengan hasil keputusan berupa Sumpah Pemuda. Hingga kini, tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Tak hanya tanggalnya, bulan Oktober pun sangat istimewa. Pasalnya, bulan ini didapuk sebagai bulan bahasa karena salah satu isi dari Sumpah Pemuda, yaitu “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Setelah 90 tahun berlalu, permasalahan bahasa di Indonesia terus menjadi sorotan banyak pihak. Apalagi setelah munculnya penggunaan bahasa “Anak Jaksel” yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris belakangan ini.

Situs Spredfast mencatat ada lebih dari 52.000 tweet mengenai ” anak jaksel” maupun dengan tagar #anakjaksel di Twitter sepanjang dua pekan pertama September.

Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menaruh perhatian pada penggunaan bahasa anak muda masa kini.

Inspirasi Kisah Agus Salim

Berbanding terbalik dengan tren percampuran bahasa tersebut, dulu Agus Salim justru tak sungkan menggunakan “bahasa bumiputra” dalam berbagai forum resmi. Padahal, pahlawan nasional Indonesia itu adalah seorang poliglot atau orang yang menguasai banyak bahasa.

Bahkan ketika menjadi pembicara di sidang Volksraad (legislatif) Hindia Belanda, dia memilih menggunakan bahasa Melayu, cikal bakal bahasa Indonesia. Dengan kemampuan poliglotnya, Agus sebenarnya fasih berbahasa Belanda, di antara sembilan bahasa yang dikuasainya.

Sikap itu kemudian ditentang sejumlah anggota Volksraad berkebangsaan Belanda. Sebab, banyak kata di bidang pemerintahan yang belum ada padanannya dalam bahasa Melayu. Salah satunya adalah “economy”.

Untuk meresponsnya, Agus Salim pun menjawab kritik tersebut. “Coba Tuan sebutkan, apa kata economy dalam bahasa Belanda, nanti saya sebutkan bahasa Melayu-nya,” ujar Agus Salim.

Jawaban itu berhasil membungkam para pengkritik. Sebab, memang banyak istilah yang diserap dalam bahasa Yunani, seperti economy, yang belum ada padanan katanya dalam bahasa Belanda.

Kisah Agus Salim itu menjadi ilustrasi mengenai pentingnya perkembangan kosakata dalam sebuah bahasa. Seperti halnya peradaban, bahasa berkembang jika “bersentuhan” dengan bahasa lain, baik itu menyerap bahasa asing maupun bahasa atau dialek lokal.

Sama seperti Agus Salim, semangat beberapa pihak untuk terus menjaga dan menjunjung bahasa persatuan tersebut masih belum surut. Buktinya, ada para punggawa yang siap mengawal semangat berbahasa Indonesia.

Tahun 2016 lalu, Kompas.com bahkan telah merangkum sosok-sosok inspiratif yang menjadi punggawa bahasa Indonesia.

Mereka adalah Badan Bahasa, Eko Endarmoko, Ivan Lanin, dan Penggawa Bahasa di Media Massa. Kira-kira apa saja peran mereka dalam perkembangan bahasa Indonesia?

 

Sumber : Kompas.com

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *