Pertemuan Menteri Bidang Pangan ASEAN Lahirkan 3 Kesepakatan

Esensinews.com – Pangan menjadi isu penting bagi pemimpin-pemimpin negara seluruh di dunia. Selain menjaga ketersediaan bahan pangan, pembangunan sektor pertanian, perikanan dan kehutanan, akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Baik untuk masing-masing negara maupun di kawasan.

Sebagai salah satu organisasi penting di kawasan Asia, ASEAN pada 11-12 Oktober 2018 menyelenggarakan sedikitnya 3 pertemuan pemimpin-pemimpin negara kawasan untuk membuat kesepahaman dan kerjasama di bidang pangan.

Pemerintah Indonesia menunjuk Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman selaku Ketua AMAF Indonesia, memimpin delegasi Indonesia yang terdiri atas pejabat Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Luar Negeri.

Para delegasi dari negara-negara anggota ASEAN, di tambah 3 negara Tiongkok, Jepang, dan Kora Selatan menghadiri 3 pertemuan. Masing-masing (1) pertemuan ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry (AMAF) ke-40 (40th AMAF), (2) ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry Plus Three ke-18 (18th AMAF+3) dan (3) ASEAN-China Ministerial Meeting on Sanitary and Phytosanitary ke-6 (6th ASEAN-China MM on SPS).

“Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemantapan ketahanan pangan di kawasan, dengan menyepakati perpanjangan kerja sama ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR), sebagai mekanisme penanganan keadaan bencana di kawasan ASEAN,” ujar Amran dalam pidatonya di hadapan para delegasi.

Sebagai bukti komitmen kerjasama bidang pangan para menteri melakukan penandatanganan 3 (tiga) kesepakatan, yakni: (1) Protokol Amandemen Perjanjian APTERR, terkait kesepakatan perpanjangan kontribusi tahunan APTERR periode 2018-2022 dan mekanisme ke depannya; (2) ASEAN-China MoU on Food and Agriculture Cooperation periode 2018-2023, serta (3) MoU ASEAN-FAO on Strengthening Cooperation in Agriculture and Forestry.

Di sela-sela pertemuan AMAF, Indonesia juga berkesempatan untuk melakukan pertemuan Bilateral dengan Pemerintah Brunei Darussalam.

“Dengan Brunei pembicaraan kami fokus pada pengembangan pertanian di wilayah perbatasan. Khususnya untuk komoditas tanaman pangan, ternak dan sawit,” ungkap Amran.

 

 

Editor : Akhrom

0Shares

goeh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kerugian Akibat Gempa dan Tsunami di Sulteng Capai Rp8.07 Triliun

Ming Okt 14 , 2018
Esensinews.com – Grup Bank Dunia memperkirakan total kerugian akibat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah mencapai 531 juta dollar AS atau setara dengan Rp 8,07 triliun. Perkiraan nominal kerugian tersebut didapat dari laporan Bank Dunia yang merekam kerusakan awal, diukur secara geospasial dan perkiraan biaya infrastruktur, properti perumahan dan […]