Breaking News

Siapakah Setan yang Dimaksud Ratna Sarumpaet?

Oleh: Inas N Zubir
(Ketua Fraksi Hanura DPR-RI)

 

Dalam “pengakuan dosa” nya tentang hoax “Drama Pemukulan Ratna Sarumpaet” ada yang tercecer dan sayang jika tidak dipungut dan diolah lagi untuk menjawab pengakuan Ratna Sarumpaet yang mengibuli Prabowo Subianto, yang masih meninggalkan tanda tanya “Apakah Ratna Sarumpaet mendesain drama tersebut hanya sendirian?

Kalau kita lihat gesture Ratna Sarumpaet pada saat pengakuan dosa tersebut sangat mengesankan dirinya seperti berada dalam tekanan bahkan dalam pengakuan-nya tersebut terselip kalimat-kalimat rahasia yang dia harapkan ada yang dapat menterjemahkan. Mari kita simak beberapa kalimat yang diucapkan oleh Ratna Sarumpaet dengan terbata-bata karena penuh tekanan.

Yang pertama, “pada saat saya merasa melakukan kesalahan”, kalimat ini sangat jelas sekali bahwa Ratna hanya merasa melakukan kesalahan tapi bukan mengakui melakukan kesalahan, maka sebenarnya dia merasa tidak bersalah karena dia hanya dijadikan alat atau bahkan korban dari seorang sutradara.

Yang kedua, foto yang dibuat dirumah sakit ketika wajah Ratna Sarumpaet bengep, bukanlah foto
Selfie karena keinginan sendiri, melainkan dipaksa untuk difoto oleh seseorang yang disuruh oleh Sutradara, bahkan Ratna Sarumpaet mengatakan tiba-tiba foto tersebut sudah beredar kemana-mana dan dia tidak sanggup melihatnya, ini bisa berarti bahwa dia merasa sangat tertekan karena wajahnya yang sedang bengap kok disebarluaskan.

Yang ketiga, Ratna meluapkan kekesalan-nya karena ditekan terus oleh sutradara dan Ratna-pun mengatakan: ”itulah cerita khayal yang diberikan oleh setan mana kepada saya dan berkembang seperti itu”.

Dari narasi diatas, maka dapat kita susun sebuah pertanyaan:

”Siapakah sutradara yang dianggap Ratna Sarumpaet sebagai setan yang menyuruhnya bercerita bahwa dirinya telah dianiaya?

Semoga urusan ini menjadi terang benderang karena rakyat Indonesia tidak ingin politik di Indonesia dikotori oleh cara-cara keji dan tidak beradab yang memcoreng demokrasi di Indonesia.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *