Jokowi dan “Monolog Wajah Ratna Sarumpaet

Oleh : Anton DH Nugrahanto

Tak ada yang lebih menarik dari cerita politik “Monolog Wajah Ratna Sarumpaet” dalam Pilpres 2019. Ratna Sarumpaet mendadak menjadi “bintang panggung” yang muncul tiba-tiba dan meraksasa dimana pada hari hari selanjutnya, Sarumpaet adalah bintang utama dalam berbagai adegan panggung politik.

Andy Warhol, seorang seniman art pop di tahun 1960-an yang mengubah seni rupa memiliki watak paling modern-nya pernah berkata “kelak di masa depan, keterkenalan hanya berlangsung 2 menit”, tak dinyana ramalan Andy Warhol terbukti dalam peristiwa peristiwa politik modern, bisakah dua menit keterkenalan wajah bengkak Ratna Sarumpaet dijadikan skenario untuk mengungkap rencana kejahatan dibaliknya?

Seperti di masa Ahok dimana Buni Yani mendadak menjadi bintang pertunjukan dengan hanya mengupload sebaris kata kata di facebook lalu seluruh lansekap politik berubah total, maka 2018 giliran Ratna Sarumpaet menggebrak teater politik Jakarta, wajahnya membulat benjol tiba-tiba muncul di facebook diiringi kata-kata “aduh bunda digebukin” langsung jadi bahan tangisan para spin doctor, para pemelintir berita dan para politisi yang mengira ini bisa menjadi peluru politik.

Ratna Sarumpaet, menciptakan drama beberapa babak dalam politik. Selama 48 Jam ia sudah menciptakan panggung dua babak. Babak pertama fotonya muncul tiba-tiba, lalu ditangkap dan dijadikan peluru politik timses Prabowo padahal Ratna Sarumpaet sendiri masih diam dan tidak membuka statemen di depan media atau publik soal dirinya dipukul, mereka melihat ini sebagai peluang politik dan meniadakan fakta serta data.

Para pemain politik di lingkaran Prabowo menelanjangi kebodohan mereka sendiri, mereka berani konferensi pers dan aura panggung konferensi pers Prabowo membela Sarumpaet seperti FDR menantang perang Jepang di depan Kongres Amerika Serikat, terompet pertempuran ditabuh dan pernyataan pertarungan seolah olah diumumkan, semua lini politik disiapkan.

Ruang Publik dipenuh foto Sarumpaet yang bengkak, semua orang sontak membela sarumpaet. Orang orang yang merasa memiliki moral tanpa verifikasi dan klarifikasi mengajukan pembelaannya, emosi dimainkan, para politisi bahkan berkata “Kita tidak percaya lagi dengan Polisi”.

Di titik inilah Negara berubah menjadi “Personifikasi Jokowi” yang harus dimusuhi. Untuk memulai perang, mereka memiliki nalar kebenarannya sendiri, mereka meniadakan laporan visum kepolisian dengan mengeluarkan mosi tak percaya di depan publik.

Susunan laporan tidak diberikan kepada Polisi, tapi kepada Media Sosial. Panggung Media Sosial menjadi “Medan Pertempuran Mereka” disinilah mereka menganggap Medsos sebagai “Ruang Kebenaran” tak terbantahkan. Tak dinyana, kegagapan mereka dalam memahami dunia media sosial justru menghancurkan mereka dengan cepat,

Gerakan Pelintiran Sarumpaet mendadak berhenti, setelah orang diluar dugaan muncul. orang itu adalah Dokter Tompi. Dokter Tompi menjadi penghancur Monolog Wajah Ratna Sarumpaet, gerak cepat dokter Tompi inilah yang menjadikan gerakan Monolog Sarumpaet gagal total.

Para pendisain “Kemarahan Wajah Sarumpaet” gagal mengantisipasi masuknya Dokter Tompi dalam permainan narasi mereka. Dokter Tompi dengan cepat menantang kebenaran ini dari sisi publik. Artinya, Dokter Tompi mampu membahasakan ruang kebenaran dari Media Sosial, sebuah panggung firehouse yang sengaja dirancang kaum penggerak untuk menciptakan drama Monolog Wajah Sarumpaet. Oleh Dokter Tompi dari Wajah Sarumpaet digeser ke ruang bedah, mulai dari wallpaper ruangan dokter Sidik, sampai blunder Fadli Zon yang nyinyir soal “Revolusi Mental” dan dijawab Dokter Tompi dengan sederhana “Biarkan saya memeriksa wajah Sarumpaet”. Lalu Fadli Zon hening.

Polisi yang sejak awal menepi, tanpa sengaja tersentuh oleh kaum penggerak dengan adanya statemen bahwa “Polisi tidak bisa dipercaya” , ketika Panggung sebelum masuk menjadi adegan “Rumah Terbakar” Polisi bergerak cepat lalu Polisi juga membuat panggung di media sosial dengan melemparkan rekaman CCTV ke Media Sosial. Disinilah ruang Media Sosial yang awalnya diprediksi menjadi “Medan Kemenangan” kaum Konferensi Pers “Pengutuk Rezim” menjadi kekalahan besar bagi mereka.

Publik sendiri yang menjadi penentu kemenangan atas sebuah skenario yang muncul dari wajah bengkak Sarumpaet.

Babak kedua muncul, tengah malam sekitaran jam 9 malam ketika semua sontak menjadikan Prabowo dan Kelompoknya yang merupakan “Penggerak Monolog Sarumpaet” dengan Konferensi Pers-nya, tiba-tiba berbalik arah dan meminta maaf.

Ketika Gerakan ini gagal menjadi sebuah “uji materiil” perhatian digeser pada ruang “Gentleman-nya Prabowo” dan “Hujatan pada Sarumpaet”. Mereka sengaja mengepulkan asap penghalang korban sesungguhnya yaitu : Jokowi.

Kesadaran sepenuhnya panggung ini diarahkan pada tiga hal “Kebohongan Ratna Sarumpaet, Permintaan Maaf Kaum Penggerak, dan Pelintiran aksi susupan” mereka melupakan korban sesungguhnya adalah “JOKOWI”.

Jokowi menjadi subjek yang ada dan tiada, tapi menjadi sosok penting. Dia menjadi Semar ketika kekacauan muncul, ia dipancing untuk tiwikrama untuk menjadi raksasa yang marah, atau Dewa Ismaya pengutuk segala rupa kejadian. Tapi Jokowi tetap muncul dalam wajah Semar, ia menjadi Lurah Badranaya yang diam.

Dari seluruh adegan Monolog Wajah Ratna Sarumpaet, mulai detik munculnya wajah bengkak Ratna Sarumpaet, tangisan Hanum Rais yang dibuat seperti prolog sebuah novel, teriakah Fahri Hamzah menuding pemerintahan yang tak becus, serangan brutal Ferdinand Hutahean dan tudingan kasar Benny Kabur Herman, sampai pada titik permintaan maaf Prabowo tak satupun menjadikan Jokowi sebagai “Pusat Permintaan Maaf”, karena pada hakikatnya ketika melihat wajah bengkak Ratna Sarumpaet sampai pada podium laporan aniaya wajah Ratna Sarumpaet, jujur saja sulit membayangkan semua pikiran ini bukan ke arah satu orang, semua aliran persepsi bahwa pelaku ini secara implisit dan eksplisit mengarah pada satu orang Jokowi.

Bila desain wajah bengkak itu digunakan sebagai skenario euforia kemarahan publik yang mengarah pada Jokowi, maka ketidaksempurnaan agenda setting itulah yang menyelamatkan Jokowi. Karena tak ada kejahatan yang sempurna, karena pada hakikatnya kejahatan adalah melawan fakta.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *