Mensos Ajak Santri Perkuat Persaudaraan Tanpa Memandang Status Sosial

Mewakili Presisen Joko Widodo, kehadiran Mensos disambut Pengasuh Pondok Pesantren Baitus Sholihin Genggong, KH. Mohammad Hasan Ainul Yaqin Mutawakkil ‘Alalloh, Gubernur Jawa Timur, Bupati Probolinggo, Pimpinan Muspida Probolinggo dan ribuan Para Santri Pondok Pesantren Baitus Sholihin.

Di hadapan lautan santri dan jamaah haul yang berbusana putih-putih, Menteri Agus mengatakan perbedaan pendapat atau pandangan dalam iklim demokrasi tidak semestinya membelah umat, namun justru harus saling memperkuat dalam rangka membangun Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

Di tahun politik ini, lanjutnya, berbagai bentuk informasi yang mengandung kebencian, hasutan, propaganda, kabar palsu, dan fitnah untuk menjatuhkan lawan politik semakin marak. Ditambah lagi di era digital seperti sekarang, penyebaran kabar yang menyesatkan dilakukan sangat cepat dan masif melalui internet dan media sosial.

“Padahal sesungguhnya melalui media sosial kita dapat menjadikannya media efektif untuk menyebarkan informasi yang mengedepankan sikap tasamuh (toleransi), tawassuth (tidak ekstrim), dan tawazun (keseimbangan). Maka gunakan media sosial dengan bijak,” katanya

Untuk itu, ia mengajak semua pihak untuk terus belajar, menambah pengetahuan, cek dan ricek informasi. Dengan pengetahuan yang luas, masyarakat tidak mudah terprovokasi kabar hoax dan lebih hati-hati dalam menyebarkan informasi.

“Poin utama yang ingin saya sampaikan adalah pentingnya pengetahuan dan kearifan dari setiap individu masyarakat dalam menerima, menyaring, dan menggunakan informasi yang diterima,” tambahnya.

Dalam pidato sambutannya, Agus juga menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo yang berhalangan hadir.

“Saya hadir di sini untuk menyampaikan pesan dan titipan salam hangat Bapak Presiden Jokowi yang dengan sangat menyesal berhalangan hadir karena ada tugas negara yang tidak dapat beliau tinggalkan,” terangnya.

Meski demikian, lanjut Mensos, Presiden berharap ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia) tetap terjalin dengan erat.

“Saya pribadi sangat bahagia berada ditengah-tengah keluarga besar Pondok Pesantren Baitus Sholihin. Saya merasakan nikmatnya tradisi ikromud dhoif (menghormati tamu) yang luar biasa yang diwariskan oleh Al-‘Arif Billah KH. Sholeh Nahrowi,” katanya.

Menteri mengungkapkan, pesantren memiliki fungsi strategis dan sumber daya yang besar di bidang sosial dan ekonomi. Ia berharap ke depan pesantren menjadi sentra kegiatan sociopreneurship dan enterpreneurship dalam rangka membangun kemandirian di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar. Khususnya mereka yang tergolong fakir dan miskin sehingga mereka memiliki taraf kehidupan yang lebih baik.

Terinspirasi kisah Al-Marhum yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi, ia berharap kelembagaan pesantren yang baik diiringi fungsi sosial yang kuat akan mengarahkan pada tujuan berbangsa dan bernegara, yakni membangun masyarakat yang adil dan makmur di bawah naungan ridho Allah SWT.

“Karenanya saya membuka pintu bagi pesantren untuk terlibat dalam menyukseskan program-program pemerintah di Kementerian Sosial,” katanya.

 

Editor : Akhrom

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *