Breaking News

Ini Tiga Faktor Nilai Tukar Rupiah Melemah

Esensinews.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar serta merta dianggap suatu hal kepanikan masyarakat. Menurut seorang ahli ekonomi, hal itu karena kurangnya informasi yang berimbang.

Banyak isu yang beredar lemahnya rupiah karena pemerintah Indonesia lemah, yang lebih mengerikan lagi pemerintah dikatakan tidak mampu mengelola negara ini.

Menyikapi turunnya nilai rupiah terhadap dollar, menurut Marsudi Wahyu Kisworo, IPU, ketika ditemui wartawan media ini di ruang kerjanya di Kampus Perbanas, Jakarta Selatan mengatakan, kebijakan Donal Trump tidak secara langsung menjadi penyebab merosotnya nilai tukar Rupiah.

Menurutnya, penyebab lemahnya Rupiah ada 3 (tiga) hal yaitu:

1. Faktor Global, ketika Donal Trump menaikan suku bunga, ketika tadinya suku bunga di Amerika hanya 0,25 %, sekarang dinaikan menjadi sekitar 2%, hal ini menyebabkan orang-orang yang tadinya dolarnya disimpan di luar Amerika itu dibawa pulang semua. Maka terjadi repatriasi dolar di seluruh dunia pulang kembali ke kandangnya.

2. Tingginya import Indonesia sehingga menyebakan defisitnya neraca berjalan.

3. Utang yang jatuh tempo, terutama utang swasta, serta pembayaran2 royalti dan lain2 sehingga membutuhkan banyak dolar sementara itu sedang terjadi repatriasi dolar akibat naiknya suku bunga di Amerika.

Akibatnya dolar menjadi langka, dan ketika dolar langka sementara yang membutuhkan banyak, maka harganya akan naik. Itulah menurut saya penyebab utama kenapa kurs dolar semakin tinggi, imbuhnya.

Ditambahkannya, krisis tahun 1998 kenaikan kurs dolar dari 2.500 menjadi 17.000 yang artinya mencapai sekitar 600 persen, sedangkan sekarang ini dari 13.500 menjadi 15.000, jadi naiknya hanya sekitar 10 persen.

Karena itu soal kenaikan kurs ini jangan dilihat angka absolutnya yaitu 15.000, tapi lihat besaran persentasenya.

Juga harus diingat bahwa sebelum krisis tahun 1998 cadangan devisa kita hanya kurang dari 18 milyar dolar, sedangkan sekarang ini di awal tahun 2018 saja cadangan devisa kita sudah mencapai sekitar 138an milyar dolar.

Artinya jadi cadangan devisa kita bisa dikatakan sangat aman dan indikator-indikator makro kita bagus, bahkan jauh lebih bagus dibandingkan selama era reformasi ini, paparnya.

Bahkan tahun 2018 inilah pertama kali ekonomi kita menembus angka psikologis 1 triliun dolar.

Utang Luar Negeri Indonesia.

Ketika ditanya terkait utang luar negeri Indonesia, dengan lugas Profesor yang pernah menjabat sebagai Rektor Perbanas selama dua periode ini mengatakan, jangan melihat dari angka absolut, tapi harus cerdas melihat utang luar negeri kita dari rasionya terhadap pendapatan (PDB), yang menurut undang-undang kita diperbolehkan memiliki utang luar negeri sampai sebesar 30% saja, utang negara kita (Indonesia-red) saat ini 28.98% terhadap PDB, artinya masih dalam batas aman.

“Ibaratnya seseorang kalau penghasilannya sedikit ya utangnya harus kecil, tapi kalau penghasilannya besar, masih OK kalau utangnya nilainya juga tambah besar selama rasio utang terhadap penghasilan harus dijaga. Makanya dalam menyikapi utang, jangan bicara angka absolut, tapi mesti melihat rasionya terhadap PDB”, tegasnya.

 

Editor : Rinaldo

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *