LSI Sebut Partai Golkar akan Jadi Partai Menengah

Esensinews.com – Partai Golkar yang selama Orde Baru selalu menjadi kampiun di setiap pemilu, kini tergerus terus.  Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Dennya JA menyebut, di era reformasi hanya sekali Golkar menjadi pemenang. Yaitu di Pemilu 2004.

Tiga pemilu lainnya di era reformasi, beringin hanya menjadi runner up, alias posisi kedua. Survei LSI Denny JA akhirnya berkesimpulan, bahwa elektabilitas Golkar yang hanya 11.3 persen akan menjadi partai papan tengah.

Survei LSI Denny JA menyebutkan bahwa telah terjadi tiga perubahan dukungan terhadap partai politik menjelang Pemilu 2019. Survei dilakukan  dari 12 hingga 19 Agustus 2018 melalui face to face interview menggunakan kuesioner.

Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan 1200 responden dan margin of error sebesar +/- 2,9 persen.

LSI Denny JA menemukan bahwa ada tiga potensi perubahan penting yang akan terjadi pada pileg 2019 nanti. Potensi erubahan  tersebut adalah, PDIP berpotensi menjadi juara pertama era reformasi yang menjadi juara pemilu, dua kali berturut-turut.

“PDIP berpotensi keluar dari ‘kutukan juara bertahan’ partai-partai pemenang pemilu di era reformasi,” kata peneliti LSI Adji Alfarabi saat mengumumkan hasil survei lembaganya di Gedung LSI Jakarta Timur, seperti dikutip tilik.id Rabu (12/9/2018).

Dari hasil survei, elektabilitas PDIP sebesar 24.8 persen, disusul Partai Gerindra sebesar 13.1 persen, Partai Golkar 11.3 persen, PKB sebesar 6.7 persen, Partai Demokrat sebesar 5.2 persen, PKS  3.9 persen, PPP  3.2 persen, Nasdem sebesar 2.2 persen, Perindo sebesar 1.7 persen, PAN sebesar 1.4  persen, dan partai lainnya semuanya dibawah 1 persen.

“Sementara mereka yang belum memutuskan memilih partai mana, mencapai angka  25.2  persen,” kata Adje yang disampingi moderator Fitri Hari.

Namun yang menarik adalah perubahan dukungan Partai Golkar.  Partai ini terancam tidak masuk dua besar pemenang pemilu untuk pertama kalinya.

Saat ini, kata Adjie,  elektabilitas Golkar sebesar 11.3 persen  dan berada pada posisi ketiga survei dukungan partai. Posisi elektabilitas Golkar di bawah Gerindra, dan jauh dibawah PDIP yang jarak elektabilitasnya  di atas dua digit (Golkar 11.3 % vs PDIP 24.8%).

“Posisi Partai Golkar saat ini, akan menjadi yang terburuk dalam sejarah pemilu di era reformasi. Dalam 4 kali pemilu sebelumnya, Golkar selalu masuk dalam dua besar pemenang pemilu,  juara pertama atau runner-up,” beber Alfarabie.

Namun demikian, kata Adjie, Golkar masih di ambang batas naik ke partai utama (perolehan dukungan di atas 15 persen) atau turun ke partai papan tengah (dukungan di bawah 15 persen).

“Jika tak ada perubahan besar atau gebrakan luar biasa yang dilakukan partai Golkar, maka Pemilu 2019 akan menjadi “kuburan” bagi partai Golkar sebagai partai besar/partai utama,” ujar Adjie Al Farabie.

Mengapa Golkar akan masuk ke level menengah? LSI Denny JA memberikan beberapa alasanya.

Pertama, Pilpres dan Pileg serentak menguntungkan partai utama yang punya capres. Artinya bahwa karena pemilih akan memilih partai politik dan capres di waktu bersamaan ketika di TPS, maka pengaruh asosiasi capres terhadap partai politik akan berpotensi mendongkrak suara partai politik.

Dalam studi pemilu, pengaruh seperti ini sering disebut sebagai coattail effect (efek ekor jas). Namun demikian tak semua partai politik akan mendapat berkah atau insentif elektoral dari capres.

“Partai politik yang terasosiasi kuat dengan capreslah yang akan mendapatkan berkah yang maksimal,” beber Adjie.

Dalam survei LSI Denny JA, dalam koalisi pendukung Jokowi-Maruf, PDIP adalah partai yang paling kuat asosiasinya. Dalam koalisi Prabowo-Sandi, Gerindra adalah partai yang paling kuat asosiasinya. Oleh karena itu, kedua partai ini, PDIP dan Gerindra, paling potensial menjadi partai utama di Pileg 2019 yang mendapat berkah dari capres yang didukungnya.

“Partai Golkar sebagai salah satu partai besar dan pendukung Jokowi-Ma’ruf belum mampu memperoleh berkah dari pencapresan Jokowi, karena dominannya image PDIP sebagai pengusung Jokowi-Maruf,” katanya.

Kedua,  perubahan dukungan dan posisi Partai Golkar dikarenakan dua faktor utama.  Yaitu  karena tak ada satupun kader/tokoh yang identik dengan Golkar yang menjadi capres dan cawapres di pemilu 2019.  Dan, warisan kasus mantan ketua umum, Setya Novanto, dan kasus korupsi bari PLTU masih membebani partai Golkar dan memberikan sentimen negatif terhadap image partai.

“Sentimen negatif yang terus menimpa partai Golkar nampaknya belum diimbangi dengan mobilisasi sentimen positif, sehingga berpeluang menurunkan dukungan terhadap partai Golkar,” katanya.

Dan ketiga, strong leadership di PDIP dan Gerindra. PDIP mempunyai Megawati yang kuat leadershipnya dan legitimasi dari kadernya. Begitupun Gerindra mempunyai Prabowo Subianto yang juga kuat leaderhip dan legitimasi kadernya.

Dengan pemimpin yang kuat, kedua partai tersebut mampu memaksimalkan semua potensi di dalam tubuh partai politik. Kedua partai ini juga mampu fokus pada isu-isu yang populis, dan terkesan platform kerakyatanya karena kepemimpinan dari ketua umumnya masing-masing.

“PDIP dan Gerindra juga terlihat sebagai partai yang minim konflik internal karena faktor kepemimpinan tersebut,” pungkas Al Farabie.

 

Editor : Divon

0Shares

goeh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Berikut Jajaran Direksi Garuda yang Baru

Rab Sep 12 , 2018
Esensinews.com – Direksi dan Komisaris Garuda Indonesia resmi dirombak. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) sore ini, Rabu (12/9/2018), Direktur Utama dijabat oleh I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra. I Gusti menggantikan Pahala Mansury. Sementara, Komisari Utama dijabat oleh mantan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Berikut […]