Breaking News

Ketika Pak Prabawo Memaksakan Diri

Oleh : Iyyas Subiakto

Masih teringat kepulangan Prabowo dari Yordania setelah sekian lama tinggal disana yang waktu itu dianggap melarikan diri dan ada isu sempat mempunyai dwi kewarganegaraan. Pulang dengan garang dan langsung membuat partai Gerindra, perwakilan diseluruh Indonesia, dengan mobil double cabin, show of force dipamerkan.

Saya lama mengamati untuk sekedar tau perjalanan ex mantu Soeharto yang pernah disebut the rising star dalam jajaran jendral. Sebenarnya menjadi rising star dibawah payung Cendana sangatlah gampang, apa yang tidak bisa dibuat zaman orba selama itu maunya Soeharto. Asbak pun bisa jadi camat kata teman saya.

Singkatnya perjalanan Prabowo kembali ke Indonesia cuma ada satu tujuan mengambil kekuasaan yang pernah nyaris diambilnya saat negara chaos waktu Soeharto turun.

Keikut sertaannya dalam 3 kali pilpres dan akan ke 4 kalinya, adalah sebuah usaha yang boleh diacungi jempol karena kegigihannya sekaligus tahan ngeluarin dana triliunan untuk tujuan kekuasaan.

Sebenarnya dalam takaran normal gagal 3 kali nyapres itu sudah dapat dikaji, pertama mayoritas rakyat Indonesia tidak ingin dipimpin oleh Prabowo, kedua bisa saja karena program yang ditawarkan tidak jelas arahnya. Melihat perkembangan medsos 14 tahun silam dengan yang ada sekarang sudah jauh berbeda, sekarang ini kita kentut saja bisa direkam tetangga, apalagi rekam jejak seorang calon kepala negara pastilah tidak dibiarkan merajalela dengan kecacatan perbuatan, apalagi cacat akhlak dan moral, karena bagaimana sebuah bangsa dipimpin oleh orang yang dalam perjalanan hidupnya penuh tragedi baik pribadinya maupun prilakunya.

Sekarang ini saja, dalam banyak pertemuan Prabowo sudah menabur ancaman dengan membuat kecemasan sekaligus digoreng dalam aroma pesimistis. Dari mulai Indonesia akan bubar pada 2030, Indonesia terancam menjadI negara miskin selamanya, belum lagi bahasa kasarnya, yang lalu kepada wartawan, dia pernah berkata ; kalian gajinya kecil ya terlihat dari “tampang” kalian, yang baru dia sampaikan, ekonomi kita sulit, terlihat dari tampang kalian. Menilai pemimpin yang bijak itu gampang kok, bagaimana cara bicaranya, kelakuannya, latar belakangnya, keluarganya, kesehariannya, anak-anaknya.

Tidak usah jauh-jauh lihat didepan mata kita bagaimana Jokowi menjadikan rumah tangganya sebagai madrasah anak-anaknya, sehingga anaknya tetap menjadi anak orang biasa, jualan martabak, pisang goreng, tidak ngendon diistana nungguin tamu bapaknya siapa yg bisa diajak kerjasama dan calo proyek seperti anak-anak sebelumnya.

Jujur sulit buat Prabowo melawan petahana seperti Jokowi, karena Jokowi sbg pembanding presiden sebelumnya ibarat langit biru dan bayangan langit diatas air samudra. Yang diatas adalah langit yg indah sebenarnya, sementara bayangannya hanya patamorgana yang tak bisa apa-apa, 10 thn isinya keluhan semua, tapi rekaman jalan, lancar jaya.

Posisi yang sama akan diterima Prabowo yg tak punya prestasi apa-apa kecuali pidato yang berapi-api tanpa fakta, malah kadang cuma fiksi, ini luar biasa berbahaya buat sebuah negara bila dipimpin oleh orang yang cuma bisa bicara hasilnya tak pernah ada, terus negara ini mau jadi apa.

Pertanyaan banyak orang kenapa Prabowo begitu ngotot sampai 4 kali nyapres, saya kok jadi punya pikiran bahwa pilpres dijadikan event olehnya. Bak lomba pidato, Prabowo setiap event cari sponsor menang atau kalah dalam lomba urusan belakang, yang penting ada sponsor dapat pemasukan dan untung. Hanya saja kemasan jualannya luar biasa, 14 thn temanya hampir sama tapi masih laku dijual, padahal jualan barang murah ini sudah lama basi, suporternya saja tidak ganti-ganti, yang beli mungkin otaknya makin Kon di medsos tetap dimenangkan Jokowi.

Angka diatas dikuatkan dengan survey tingkat kepercayaan masyarakat negara-negara di dunia, posisi Indonesia menduduki ranking 1 dari diatas 4 negara maju, dengan angka penerimaan 80%, Ameika 30%, Inggris 31%, Jerman 55% dan Perancis 28%. Artinya penghasutan akan sulit dilakukan Prabowo, karena eksistensi Jokowi dan tim serta hasil kerjanya begitu dirasakan masyarakat saat ini.

Angka kemenangan Jokowi tahun 2014 pada 24 provinsi adalah sebuah pondasi awal yang sulit digeser oleh Prabowo. Saat itu, dengan belum bekerja Jokowi sudah dipercaya, sementara Prabowo yang sudah 3 kali nyapres dibuat apes. Sujud batalnya seharusnya sudah menjadi tanda bahwa dia harus tunduk oleh kondisi dimana dia tidak diterima untuk Indonesia.

Sekarang Jokowi dengan hasil kerja sudah pasti akan menuai penerimaan di hati rakyat dengan kadar yang semakin tinggi. Usaha Prabowo dengan koloninya yang hanya kuat pada strategi fiksi dan caci maki akan makin membuat mereka seperti banci pulang pagi, modal habis untuk pupuran pulangnya tidak mendapat penghasilan. Sayang Prabowo masih suka dipuji-puji, dan badannya melayang seakan tak jejak berdiri, setelah ini dia akan lemas lagi karena tak akan pernah memenangi kontestasi.

 

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *