Breaking News

Perilaku US Dolar Memang Unik

Esensinews.com – Tiga hari belakang ini masyarakat pebisnis di Indonesia dibuat gerah oleh kelakuan US Dollar yang makin “susah diatur”. Sebenarnya kelakuan US Dollar yang seperti itu sudah berjalan hampir enam bulan yang lalu. Lalu kenapa kok baru diributkan lagi sekarang.

Dinamika naik turunnya US Dollar diperngaruhi oleh tiga faktor utama yang tentunya bersumber dari aktifitas ekonomi dan politik internasional, khususnya Amerika sebagai negara pencetak US Dollar.

Pertama adalah faktor fundamental, faktor ini berisi berbagai kebijakan ekonomi dan politik yang dikeluarkan oleh Bank sentral Amerika dan president Amerika. Ketika president the Federal Reserve mengumumkan kebijakan terkait suku bunga, maka serta merta US Dollar akan ‘bertingkah’.

Ketika President Trump merespon keras atas program militer Korea Utara juga US Dollar “bertingkah’. Dan di beberapa minggu ini US Dollar “bertingkah” yang dijadikan kambing hitam adalah kebijakan “perang dagang” antara Trump dan Xie Ping.

Kedua adalah faktor tehnis, faktor ini lebih berisi eksekusi bisnis internasional yang utamanya didominasi oleh lalu lintas perdagangan valuta asing, dalam hal ini US Dollar.

Ketika dalam periode bulan-bulan tertentu di mana para pebisnis menghadapi jadwal jatuh tempo pembayaran atas belanja impor relatif berdekatan, maka disitulah akan timbul rangsangan kepada US Dollar untuk “bertingkah”. Apalagi bila kondisi tersebut diperburuk dengan ketersediaan cadangan devisa yang mulai menipis.

Ketiga adalah faktor psikologis, faktor ini lebih didominasi oleh para spekulan valas. Animo mereka demi melihat US Dollar “bertingkah” naik atau turun akan makin menguatkan pada kedua sisi tersebut. Ketika US Dollar naik, mereka serentak tidak ingin kehilangan moment kenaikan, lalu ramai-ramai aksi borong dollar untuk dijual kembali ketika harga telah mencapai puncak kenaikan.

Kondisi ini akan mempercepat akselerasi kenaikan US Dollar. Dalam kondisi ini supply US Dollar ke pasar oleh Pemerintah akan diserap habis dengan tanpa mampu menghambat laju kenaikan kurs US Dollar. Dengan kata lain upaya pemerintah menggelontorkan cadangan devisa akan sia-sia.

Begitu juga sebaliknya, ketika US Dollar cenderung tergelincir, mereka akan segera melepas kepemilikan US Dollar untuk beralih kepada mata uang lainnya.

Anehnya bagi masyarakat Indonesia, khususnya dikalangan pengamat valas, para pebisnis, dan para spekulan seakan telah bersepakat “sensor alarmnya” akan aktif ketika kurs US Dollar telah mendekati atau menembus angka “nol”, sebut saja 14,000.

Saat US Dollar mendekati dan menembus angka 14,000 mereka ramai membahas. Saat ini US Dollar sedang dan sudah mencapai 15,000 mereka kembali ramai-ramai membahas. Tetapi ketika US Dollar katakan mencapai 14,887 atau 15,083 mereka akan sunyi. Sungguh tingkah laku yang sulit dipahami.

 

Oleh : Sukandi (Dosen pada Institut STIAMI Bekasi)

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *