Perbedaan Adalah Suatu Rahmat

Esensinews.com – Sering kita dengar, kiat yang ditawarkan untuk mencegah kejahatan adalah memperbanyak belajar agama. Namun, banyak peserta yang datang ke House of the Unsilenced berkata bahwa diskriminasi dan kekerasan yang mereka alami, baik itu di keluarga, sekolah, tempat umum, dan tempat ibadah sering dijustifikasi dengan agama.

Pandangan-pandangan Islam tentang kekerasan terhadap perempuan, dan bagaimana kita bisa menghidupi perspektif beragama yang lebih adil terhadap gender. Hal ini dibahas dalam diskusi publik di Galeri Cemara 6 Jakarta , Sabtu Sore (18/08/2018), dihadiri oleh para peserta, aktifis perempuan dan para awak media.

Bersama Musdah Mulia, seorang intelektual Muslim dan sekaligus aktifis perempuan. Beliau juga anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sejak 2008 dan anggota Women Shura Council (Majelis Ulama Perempuan bermarkas di New York) sejak 2013.

Lama berkecimpung di organisasi Fatayat Nahdlatul Ulama menyuarakan hak-hak asasi perempuan dan menentang perlakuan diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan terhadap perempuan. Menjadi Ketua Divisi Pengkajian di Majelis Ulama Indonesia (2000-2005). Sejak 2004 menjadi Ketua Umum Indonesian Conference on Religions for Peace (ICRP, organisasi lintas-iman). ICRP aktif membela kaum minoritas, mempromosikan hak kebebasan beragama bagi semua warga, dan mengupayakan perdamaian melalui dialog agama.

Dan moderator: Feby Indirani, seorang pengarang dan jurnalis. Buku kumpulan ceritanya, Bukan Perawan Maria (Pabrikultur, 2017) akan diterbitkan dalam Bahasa Inggris dan Italia, dan diliput oleh The Australian, BBC, Deutsche Welle, dsb. Ia menginisiasi gerakan Relaksasi Beragama (Relax, It’s Just Religion) yang mendapat dukungan Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin.

“Islam adalah agama perdamaian yang penuh cinta kasih, jangan di tafsirkan secara tunggal karena tergantung cara pandang , manusia tidak boleh menghakimi sesama manusia karena perbedaan sudut pandang biarlah Allah SWT yang menghakimi,” paparnya.

“Saya prihatin karena adanya Ormas yang mengatasnamakan agama tetapi bertindak kasar dalam menegur seharusnya mereka memakai cara yang lebih manusiawi/ lembut karena agama Islam Rahmatan lil Alamin, rahmad bagi seluruh alam jangan dilihat jenis kelamin ataupun agamanya karena semua makhluk adalah ciptaanNya,” imbuhnya.

Musdah Mulia juga mengatakan : “Sebagai pengajar saya prihatin melihat murid-murid paud yang diajarkan ” Horor tentang neraka,” seharusnya sedini mungkin diajarkan Cinta kasih sesama manusia, kejujuran, kebersihan, etika, moral dan banyak lagi ilmu-ilmu yang lebih penting yang seharusnya terlebih dahulu diperkenalkan ke anak- anak yang masih sangat kecil ini sehingga jika kelak tumbuh dewasa akan menjadi pribadi yang lebih penyayang dan bisa menghargai perbedaan,” tegasnya.

Pada usia dini juga perlu diajarkan pendidikan Sex, agar mereka mengetahui fungsi tubuh dan dapat menjaga dan menghargai tubuhnya, untuk menghindari pelecehan sexual terutama incest, karena kejadian di masyarakat banyak yang tidak terungkap karena ketidaktahuan korban dan hal ini dianggap Aib keluarga sehingga korban dibungkam oleh keluarga sendiri. Pendidikan Sex dianggap tabu di masyarakat. Begitupun dalam hal hubungan suami istri, kadang para istri yang baik- baik tiba- tiba divonis Hiv atau penyakit menular sexual lainnya karena tertular dari suami. Perempuan lebih banyak diam dan menerima apa adanya. Dalam hal ini perlunya komunikasi yang transparan antara suami dan istri. Musdah Mulia mengajak perempuan lebih bersuara dan menunjukkan jati dirinya karena perempuan yang sering jadi korban.

“Solusi untuk berbagai masalah yang dihadapi wanita dari ketidakberdayaannya di tengah- tengah budaya masyarakat yang masih didominasi oleh kaum pria yaitu upaya-upaya pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kritis, berfikir kritis, pendidikan kritis, mengajak berfikir merdeka serta melihat kesetaraan sebagai prinsip utama,” pungkasnya.

 

Penulis : Fri

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *