Saiful Mujani : Ideologi Sudah Mati, Partai yang Menguburnya

Esensinews.com – Masa pendaftaran calon Presiden dan wakil presiden berakhir 10 Agustus. Namun koalisi Prabowo belum menemukan titik temu. Tarik ulur antara partai dan umat pun terjadi.

Tiga partai Gerindra, Demokrat, PAN, dan PKS ini masih sibuk membahas soal nama calon wakil presiden (cawapres) yang akan diusung untuk mendampingi Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

Pendiri lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saiful Mujani bahkan menyebut logika koalisi yang dibangun untuk koalisi ini adalah “aku dapat apa”.

“Di koalisi partai-koalisi pendukung prabowo masih berkutat masalah ‘partai aku dapat apa’. Tiga partai masing-masing ingin cawapres. deadlock,” ujarnya dalam akun Twitter @saiful_mujani, Rabu (8/8/2018) seperti dikutip RMOL.

Dia memprediksi jatah cawapres itu akan didapat Demokrat, meski partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu datang di tikungan terakhir.

“Kenapa Demokrat? Mungkin Demokrat punya logistik untuk kerja. PKS dan PAN? mungkin kurang,” urainya.

PAN dan PKS, sambungnya, bisa keluar barisan dan menarik PKB untuk membentuk poros baru. Tapi poros ini butuh capres yang kuat dan logistik yang bisa membantu ketiga partai untuk kampanye legislatif.

“Apa ada calon yang sanggup? Mungkin Gatot dan..?” sambung Saiful Mujani.

Namun demikian, dia memprediksi PKB akan susah keluar dari koalisi Jokowi. Sebab, PKB saat ini memiliki empat menteri di kabinet Jokowi.

Sementara mengenai sikap PKB yang mengulur dukungan dan mendorong Muhaimin Iskandar sebagai cawapres, dia menilai itu sebatas cara PKB untuk mencari perhatian lebih dari Jokowi.

“PKS bagaimana? Lihat siapa aja yang bisa bantu logistik untuk kampanye PKS. Tidak menutup kemungkinan kalau koalisi Jokowi lebih memenuhi kebutuhan itu. tapi bisa juga Demokrat bantu logistik PKS” tukasnya.

Dari pola analisanya di atas, Saiful Mujani menyimpulkan bahwa logika koalisi yang dipakai saat ini cukup sederhana, yakni sebatas soal cawapres, logistik, dan jatah kabinet.

“Kalau tidak ketiganya, dua di antaranya juga boleh. Bahkan hanya satu aja dari tiga akhirnya boleh juga. sangat duniawi akhirnya,” tukasnya.

“Tidak ada ideologi. Ideologi emang udah lama mati dan udah dikubur. Partai-partai itu yang menguburnya,” tutup Saiful Mujani

0Shares

goeh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Nokia Harga di Bawah Rp 1 Juta Kembali Dijual di Indonesia

Rab Agu 8 , 2018
Esensinews.com – HMD Global selaku pemegang merek smartphone Nokia resmi merilis produk terbarunya, Nokia 1 ke pasar Indonesia. Ponsel pintar Nokia ini menjadi perangkat Android Go pertama yang masuk ke Indonesia. Android Go merupakan sistem operasi Android versi ringan yang cocok dipadankan dengan smartphone kelas entry level. “Android Go bisa menjalankan […]