Benarkah Parpol Pendukung Prabowo Tulus?

Dalam dunia politik tak ada kawan dan lawan yang abadi. Namun, tampaknya hal ini tak disadari Prabowo Subianto. Para elite partai koalisi yang dibangun mantan Danjen Kopasus itu cuma memanfaatkan popularitas dan logistik bekas menantu Presiden RI ke-2, Soeharto itu.

mulai dari Partai Keadilan Sejahtera. Targetan partai politik yang digawangi Sohibul Iman itu untuk berkoalisi dengan partai politik pendukung Prabowo Subianto semata-mata hanya untuk meningkatkan perolehan suara di pemilihan legislatif 2019, mengingat popularitas pria yang dijuluki 08 tersebut masih memiliki magnet meski dayanya sudah lemah.

Selain itu, Prabowo Subianto yang juga putra kandung begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo memiliki harta berlimpah walau itu sebagian kecil dari yang dimiliki adik kandungnya, yakni, Hashim Djojohadikusumo, yang juga pengusaha tersohor di negeri ini. Tentu, ibarat ada gula, pasti ada semut. Namun, bila gulanya sudah habis, belum tentu semut menghampiri.

Kemudian, Partai Amanat Nasional yang mengancam akan menyeberang ke kubu Jokowi apabila Prabowo berpasangan dengan AHY atau Ketua Dewan Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufri. Namun, partai berlambang matahari tersebut malah menyodorkan nama sang Ketua Umum-nya, Zulkifli Hasan. Bukankah ini justru malah menyandra Prabowo, mengingat pria yang karib disapa Zulhas itu pernah tersandung persoalan hukum, seperti, kasus suap lahan di Riau saat menjadi Menteri Kehutanan di era pemerintahan SBY.

Lalu, dari Partai Demokrat menginginkan agar putra sulung Sang Ketua Umum menjadi pendamping Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Bahkan, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ayah kandung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) telah mengerahkan seluruh daya untuk memuluskan rencana agar mantan Mayor TNI AD bisa manggung di pentas politik nasional.

Promosi AHY dilakukan masif lewat berbagai cara. Mulai dari Pilgub Jakarta, safari keliling Indonesia, panggung orasi, sampai nimbrung dalam foto pertemuan ayahnya dengan Prabowo.

Inilah asal muasal kabar SBY bermain dua kaki. Menyodorkan AHY sebagai cawapres, menawarkan logistik yang menggiurkan. Di sisi lain, lobi-lobinya sukses mendapat jaminan lawan: AHY jadi menteri.

Sejatinya, kepentingan sempit dari elite koalisi parpol pendukung Prabowo itu telah menenggelamkan ayah kandung dari Ragowo Hediprasetyo atau Didit Hediprasetyo bersama slogan-slogan nasionalistisnya. Menang-kalah tak ada yang peduli. Yang penting target minimal tercapai. Kalau menang, berarti mukjizat terjadi.

Rongrongan partai koalisi sudah tentu membuat Praboworiweh dan mumet. Situasi inilah yang membuka peluang besar bagi kubu Jokowi.

Untuk itu, sejatinya Prabowo belajar dari kemenangan Mahathir Mohammad dan Anwar Ibrahim di Malaysia yang logistik perangnya hanya 1/40 dari incumbent Najib Razak. Militansi Mahathir dan pendukungnya menjadi modal tak terkalahkan.

Apabila Prabowo tak yakin bisa meniru Mahathir, lebih baik memberikan tongkat estafet pencapresan ke tokoh nasional, seperti Rizal Ramli, yang benar-benar dipercaya dapat menaklukkan Jokowi. Kalau nekat untuk maju, berarti ini ketiga kalinya Prabowo maju di pilpres. Jika Hattrick dalam sepak bola adalah prestasi yang membanggakan bagi pemain. Namun, kalau dalam dunia politik kalah sampai tiga kali sungguh memalukan.

 

Penulis : Sri Mulyono

0Shares

goeh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Eva Sundari : Cawapres Jokowi Laki-laki dan Berinisial M

Rab Agu 8 , 2018
Esensinews.com – Misteri terselubung terkait nama cawapres Jokowi mulai tersungkap ke publik. Kini dipastikan, cawapres Jokowi berasal dari kaum Adam. Menurut Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari Cawapres Jokowi berinisial M. “Terang saja, imajinasi politik publik terdorong untuk memindai nama-nama tokoh potensial yang punya huruf depan […]